Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Saya teringat meme yang sempat viral di media sosial. Meme itu berupa gambar kartun yang menggambarkan gondola di Venesia. Di atas gondola ada sepasang wisatawan; lelaki-wanita, usia lanjut, dengan mata terpejam karena tertidur. Lalu, ada tulisan yang menyentil; “Manfaatkan waktu mudamu untuk traveling. Kalau sudah tua, tidur melulu.”
Pembaca yang budiman, traveling atau bepergian atau mbolang atau nglencer atau apa pun lah Anda menyebutnya, dikaitkan dengan banyak efek positif bagi kesehatan, termasuk tingkat stres lebih rendah. Nah, sekarang ada penelitian baru yang menemukan bahwa traveling bahkan dapat membuat Anda awet muda.
Fangli Hu, penulis utama penelitian yang juga kandidat PhD di Edith Cowan University di Australia, mengungkapkan bagian-bagian tertentu dari perjalanan—Misalnya, membuat koneksi sosial baru, mengalami tidur lebih nyenyak, dan mendapatkan pengalaman baru— dapat membantu menurunkan risiko penuaan dini. Traveling dapat membuat perbedaan nyata dalam kehidupan kita, terutama dalam hal kesehatan dan penuaan.
Bagaimana penjelasannya?
Para peneliti menerapkan teori entropi pada pariwisata. Teori entropi ini menjelaskan bagaimana sistem fisik dan informasi berkembang menuju keadaan yang lebih acak atau tak teratur. Ini merupakan tren umum alam semesta menuju kekacauan dan kematian.
Nah, dengan mengubah rutinitas yang sudah biasa dan melihat hal-hal baru, Anda dapat mengurangi entropi itu. Lebih nyatanya, Anda bisa menurunkan tingkat stres dan meningkatkan metabolisme. Dalam prosesnya, ini bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh Anda. Bahkan ini dapat membantu memicu hormon perbaikan dan regenerasi jaringan sehingga pada akhirnya membantu memperlambat tanda-tanda penuaan Anda.
Yang perlu dicatat, studi oleh Fangli Hu dan kawan-kawan ini lebih merupakan teori. Lebih konkritnya, mereka tidak atau belum membandingkan tanda-tanda penuaan pada orang yang bepergian dengan orang-orang yang hanya tinggal di rumah.
Meski demikian, Shannel Kassis Elhelou PsyD peneliti geropsikologi dan neuropsikologi di Program Kesehatan Otak dan Gaya Hidup Pacific Neuroscience Institute di Santa Monica, California, Amerika Serikat, menilai teori itu meyakinkan.
Alasannya, ini sejalan dengan pilar-pilar kesehatan otak, yakni: tidur, nutrisi, manajemen stres, olahraga, sosialisasi, dan stimulasi kognitif. Secara alami, traveling memadukan sebagian atau bahkan semua pilar ini. Terutama; aktivitas fisik, keterlibatan kognitif, pengalaman baru, dan interaksi sosial yang muncul saat menjelajahi suasana dan budaya baru. Faktor-faktor ini penting untuk menjaga kesehatan kognitif dan mental, serta menumbuhkan rasa bahagia.
Terus, apakah ada cara traveling yang pasti untuk awet muda dan panjang umur?
Tentu saja, untuk urusan umur, hanya Tuhan yang menentukan. Kalau untuk awet muda, bepergian yang menyenangkan memang ada pengaruhnya. Tidak ada cara pasti yang tepat untuk bepergian. Sangat bergantung pada situasi dan kebutuhan setiap orang.
Liburan tahunan mungkin bisa bermanfaat. Tapi, bagi sebagian orang, perjalanan yang lebih sering atau liburan singkat namun teratur mungkin memberikan manfaat yang lebih besar. Tidak harus sampai ke luar negeri. Perjalanan lokal atau liburan akhir pekan juga bisa menjadi pilihan yang baik.
Jadi, sering-seringlah bepergian. Itu bisa membantu Anda tetap muda—atau setidaknya mendapat sekadar perasaan senang!


