Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Mungkin bukan kabar baru jika saya katakan Awkarin punya masalah dengan gangguan bipolar. Selebgram bernama asli Karin Novilda Sulaiman itu sudah lama mengakui gangguan bipolar sempat membuatnya ingin bunuh diri. Lalu, content creator kelahiran Jakarta 29 November 1997 itu berbagi tips mengatasi gangguan bipolar.
Bukan hanya Awkarin. Sederet selebriti Indonesia, antara lain Marshanda, Rachel Vennya, Medina Zein, Ariel Tatum, pernah dikabarkan mengalami gangguan bipolar. Begitu juga selebriti internasional, termasuk Demi Lovato, Catherine Zeta-Jones, Linda Hamilton, Mariah Carey, hingga Britney Spears.
Secara global, gangguan bipolar di kalangan remaja dan dewasa muda meningkat dari 79,21 per 100.000 penduduk pada 1990 menjadi 84,97 per 100.000 penduduk pada 2019. Gangguan bipolar terjadi pada sekitar 2% populasi global. Di Amerika Serikat, sekitar 3% diperkirakan terkena dampak pada suatu saat dalam hidup.
Apa sih gangguan bipolar itu?
Gangguan bipolar, terkadang disebut gangguan manik-depresif, adalah kondisi gangguan psikologis mental yang ditandai perubahan dramatis suasana hati, energi, dan tingkat aktivitas. Misalnya, dari periang tiba-tiba menjadi pemurung, dari rebahan tiba-tiba jadi menjerit-jerit. Perubahan yang bisa terjadi sangat mendadak dan sangat kontras ini bisa memengaruhi kemampuan seseorang dalam menjalankan tugas sehari-hari.
Yang menyedihkan, hampir separuh pasien gangguan bipolar tidak memberikan respons efektif terhadap pengobatan medis yang biasa dipakai saat ini. Penderita gangguan bipolar biasanya diobati dengan antipsikotik, anti kejang, antidepresan, dan lithium, atau kombinasi dari keempatnya. Lithium, yang diperkenalkan pada 1949, dianggap memberikan efek jangka panjang namun hanya mengubah gejala pada 50-60% pasien. Ini berarti 40-50% penderita bipolar tidak memberikan respons berarti terhadap pengobatan. Tak pelak, banyak penderita gangguan bipolar penyakit yang sulit disembuhkan secara medis.
Terus, bagaimana?
Belakangan, para pakar psikiatri metabolik mencoba menggunakan diet untuk meningkatkan kesehatan mental. Pertimbangannya, intervensi pola makan sudah memiliki bukti kemanjuran dalam mengatasi epilepsi. Maka, peningkatan fungsi metabolisme diduga kuat juga bisa meningkatkan kesehatan mental. Tentu dengan pola makan yang benar dan teratur.
Bukti-bukti ilmiah sudah ada. Klinik Psikiatri Metabolik di Fakultas Kedokteran Universitas Stanford di Amerika Serikat mengumumkan hasil uji coba klinis pertama diet ketogenik untuk penyakit mental serius sejak uji coba 1965. Ternyata, intervensi pola makan empat bulan bisa memperbaiki gejala kejiwaan pada 21 pasien yang didiagnosis gangguan bipolar atau skizofrenia. Setengah dari pasien dengan gangguan bipolar bisa mencapai remisi.
Dipimpin Dr Shebani Sethi pakar pengobatan obesitas dan psikiatri, uji coba ini menggunakan diet ketogenik rendah karbohidrat, tinggi lemak, dan protein sedang. Efek sampingnya minimal dan bisa hilang pada minggu ketiga. Peserta percobaan, selain diagnosis punya masalah psikiatris, juga mengalami obesitas atau memiliki kelainan metabolik lain seperti resistensi insulin atau gangguan toleransi glukosa.
Diet ketogenik membuat mayoritas peserta penelitian mengalami perbaikan gejala kejiwaan, perbaikan metabolisme secara dramatis termasuk penurunan berat badan, pengurangan lemak visceral, dan penghapusan resistensi insulin. Semua yang didiagnosis dengan sindrom metabolik bisa mengalami remisi selama percobaan empat bulan. Studi ini menunjukkan penurunan risiko kardiovaskular secara keseluruhan meskipun rata-rata peningkatan kolesterol LDL kecil.
Bagaimana diet ketogenik bekerja?
Mekanisme kerja utama diet ketogenik adalah metabolisme lemak mengubah sumber bahan bakar utama otak dari glukosa menjadi keton. Ini memicu keadaan yang disebut ketosis nutrisial. Proses ini meningkatkan fungsi otak pada mereka-mereka yang mengalami gangguan metabolisme glukosa. Ini juga membantu menyembuhkan penyakit metabolisme, menyeimbangkan neurotransmiter, mengoptimalkan fungsi mitokondria, mengurangi peradangan, dan menstabilkan jaringan otak.
Bukan cuma di Stanford. Analisis terhadap pasien rawat inap di Perancis oleh Dr Albert Danan juga menunjukkan diet ketogenik dapat ditoleransi dan menghasilkan peningkatan kesehatan mental dan fisik pada pasien penyakit mental serius, termasuk bipolar. Dr Iain Campbell dari Universitas Edinburgh, yang tujuh tahun lalu menyembuhkan diri dari gangguan bipolar, melakukan studi analitik terkontrol dari laporan online, dan hasilnya mengungkapkan stabilisasi suasana hati dan remisi atas gejala gangguan mental pada lebih dari separo orang yang menjalani pengobatan diet ketogenik. Studi analitik ini diikuti Dr Daniel Smith di Universitas Edinburgh yang melakukan uji coba pada gangguan bipolar yang menunjukkan perbaikan metabolisme dan psikiatris.
Nah, jika Anda atau orang dekat Anda mengalami gejala perubahan suasana hati yang mendadak dan ekstrem, coba cek cara makan Anda. Siapa tahu, dengan berpuasa atau mengubah metode diet bisa memperbaiki kondisi mental Anda.


