Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Suatu sore, datang seorang teman yang tidak neko-neko. Saya sebut begitu karena saya kenal betul karakternya; suka keadaan tenang, rutin, cukup rentan, tidak nyaman dengan risiko, tidak terbiasa dengan kondisi stressful. Maka, ia tentu menghindari aktivitas berisiko.
Tapi, entah ada omon-omon dari mana, tiba-tiba dia curhat, “Mbak, aku bosan di rumah terus.”
“Lho, kenapa bosan? Bukannya hidupmu mapan, duit lancar, sehat-segar, keluarga baik-baik. Kurang apa lagi?”
“Aku juga pingin tahu rasanya adrenaline rush, Mbak. Seperti sampeyan yang tiba-tiba mbolang ke tempat aneh-aneh.”
“Oalahhhh.”
………..
Pembaca yang budiman, adrenaline rush adalah istilah untuk perasaan gembira dan penuh semangat yang dihasilkan dari pelepasan hormon epinefrin. Dinamakan ‘adrenalin’ karena hormon epinefrin dikeluarkan dari medula adrenal yang merupakan bagian dalam kelenjar adrenal.
Adrenaline rush terjadi ketika tubuh merespons dengan cepat terhadap situasi atau rangsangan yang dianggap sebagai ancaman atau berbahaya. Saat sensasi bahaya muncul, hormon epinefrin dilepas ke dalam darah yang memicu peningkatan denyut jantung, peningkatan aliran darah ke otot-otot, dan reaksi-reaksi waspada lainnya.
Kegiatan yang menyebabkan adrenaline rush umumnya melibatkan elemen-elemen seperti risiko, tantangan, atau ketidakpastian. Antara lain; olahraga ekstrem, aktivitas menantang bahaya, petualangan dengan tantangan, hingga situasi darurat seperti saat evakuasi bencana darurat.
Lalu, kenapa sih orang suka cari-cari kegiatan yang bisa memicu adrenaline rush?
Konon katanya, saat hormon ini dikeluarkan maka muncul perasaan lega, rasa ‘enteng’, bersemangat dan gembira. Padahal, sejatinya hormon ini baru bisa keluar saat manusia dalam kondisi terancam, kondisi bahaya, atau cemas. Mungkin, perasaan lega setelah terancam ini lah yang memicu manusia ‘berburu’ tantangan.
Entah kenapa, saya juga menikmati sensasi adrenaline rush. Makanya, saya begitu excited waktu nyoba naik roller coaster, atau sewaktu rafting di sungai berombak. Saya pun merasakannya saat naik paralayang di atas danau, juga saat berenang di laut bersama anak hiu, juga saat berjalan kaki di dasar laut dengan bantuan selang penyambung oksigen.
Sungguh, saat menjalani aktivitas-aktivitas semacam itu, ada rasa takut, deg-degan, penasaran dan lega, yang bercampur jadi satu. Memang aktivtas saya belum tahap ekstrem seperti petualang sejati, tapi sudah lumayan seru!
Salah satu tantangan mencari adrenaline rush yang sudah lama membuat saya penasaran adalah: mencoba Bungee Jumping… Penasasarn bagaimana sensasi ‘tubuh terbalik’ setelah dilempar dari ketinggian 50 meter dengan kaki diikat tali… hihihihi….


