Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – “Shhh… Diam. Diam dulu. Sebentar saja…..,” tiba-tiba Trixie menempatkan jari telunjuk di depan bibirnya meminta saya berhenti ngobrol dengannya.
Setelah hening sesaat, saya bertanya pada Trixie, “Eh, memang ada apa sih?”
“Barusan ada bunyi lewat di dalam telingaku. Berdenging. Bukan dari luar, tapi ada di dalam. Sepertinya, ada tanda-tanda…..”
………
Pembaca yang budiman, pernahkah Anda mendengar suara-suara tertentu yang asalnya dari dalam telinga sendiri? Saya yakin, Anda pernah.
Saat beraktivitas, tiba-tiba ada seperti suara nggiiiiing…. di dalam telinga. Atau, saat malam hari dan listrik mati, tidak ada suara apa-apa dari luar tapi telinga Anda seakan-akan mendengar bunyi kemresek seperti suara televisi yang tidak sudah ada siaran.
Di jagad medis, kondisi itu disebut tinnitus. Bunyi yang tidak dari sumber eksternal itu bisa bervariasi antara individu. Ada bunyi berdengung yang terus-menerus atau periodik, sensasi berdesir atau berderak di telinga atau kepala, dan lain-lain. Kondisi ini bisa sangat terasa pada malam hari ketika lingkungan sekitar sedang hening, membuat kita jadi lebih sadar terhadap bunyi yang dihasilkan tinnitus.
Secara medis, tinnitus bukan tergolong penyakit tapi hanya gejala dari kondisi lain. Kondisinya bisa hanya sementara, bisa juga sangat kronis. Bisa sekadar lewat, bisa juga sangat intens sehingga memengaruhi kualitas hidup seseorang. Dalam beberapa kultur, bunyi-bunyi ini bahkan dianggap sebagai pesan mistis dari dunia lain.
Penelitian terbaru pada tahun 2023 di Jerman terhadap data 15.000 subjek menunjukkan, tinnitus dapat menyebabkan peningkatan depresi, kecemasan, dan ‘somatisasi’ yang menyertainya; sakit kepala, kelelahan, hingga gejala fisik yang serupa. Tapi, ada pengobatan eksperimental yang bisa mengurangi gejala pada orang yang terkena tinitus parah.
Ada tinnitus objektif, yyakni yang dapat diukur dengan alat eksternal. Ini biasanya merupakan hasil sirkulasi tubuh. Jarang sekali terjadi, atau kira-kira hanya kurang dari 1 persen dari total penderita tinnitus.
Ada juga tinnitus subyektif, yang suaranya hanya terdengar oleh orang itu sendiri. Kemungkinan besar, ini disebabkan oleh aktivitas berlebihan di bagian inti koklea dorsal batang otak. Di situ, data akustik dan data sensorik lainnya diproses oleh otak.
Saat masih anak-anak, tinnitus tidak banyak dan secara umum tidak disasadi. Seiring bertambahnya usia, tinnitus cenderung muncul dan meningkat. Jika ada gangguan eksternal tertentu, tinnitus makin sering muncul. Misalnya, para veteran perang atau pensiunan tentara yang sering mendengar ledakan.
Tak jarang, orang menghubungkan tinnitus dengan suara atau pesan dari alam ghaib atau supernatural. Beberapa orang mungkin mencoba memberikan makna spiritual atau metafisik kepada fenomena ini.
Namun, tinnitus itu fenomena neurologis dan auditif yang dapat dijelaskan lewat proses fisiologis dalam tubuh manusia. Ada gangguan dalam sistem pendengaran atau sistem saraf, misalnya kerusakan pada sel-sel rambut di telinga dalam atau gangguan sinyal di jalur pendengaran.


