Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Kalau sudah terkait pasangan, orang bisa curhat berlama-lama dengan saya. Mulai dari tentang sebelum berpasangan, saat berpasangan, hingga pasca berpasangan. Ada saja hal-hal baru dan unik yang diungkapkan teman-teman.
Nah, kali ini saya menulis tentang tingkat kepuasan jika seseorang pernah putus hubungan lalu membina hubungan dengan pasangan baru.
Pertama-tama, saya meyakini bahwa kelahiran, perjodohan, dan kematian adalah hak prerogatif Tuhan. Saya hanya menjalani takdir. Saya tidak tahu dilahirkan kapan, oleh siapa, di mana, dan dalam kondisi apa, hingga saya benar-benar sudah lahir. Begitu juga saya tidak tahu dijodohkan dengan siapa atau dimatikan kapan, hingga saya sudah benar-benar mengalaminya.
Kedua, untuk perjodohan, saya bisa mengukurnya dalam bentuk berpasangan (dalam kultur kita; suami-istri). Bisa saja kita berpasangan dengan seseorang, namun kita tidak tahu apakah berjodoh hingga kita benar-benar mengalaminya dan menjalaninya. Saat menjalaninya, tentu ada ukuran-ukuran ilmiah yang bisa dipakai.
Hubungan romantis antar pasangan itu tidak stagnan tetapi berkembang naik-turun seiring berjalannya waktu. Ada meta-analisis yang menunjukkan bahwa kepuasan hubungan cenderung mencapai titik rendah sekitar usia 40 tahun dan/atau setelah hubungan mencapai dekade pertama. Pada titik ini, 77 persen pasangan cenderung merasa paling tidak puas dengan hubungan mereka.
Ketika ada pada masa-masa tidak puas, apakah orang lantas memutus hubungan?
Ternyata tidak selalu. Sebagian besar orang-orang tetap menjalin hubungan meski pernah mengalami kondisi sangat tidak puas. Sementara, ada juga yang putus hubungan meski tingkat kepuasan mereka cukup tinggi. Tingkat kepuasan hubungan berubah secara berbeda tergantung pada hasil akhir hubungan tersebut; apakah bertahan atau terputus.
Andai hubungan betul-betul sudah diputus, lalu seseorang membina hubungan dengan pasangan baru, apakah ia jadi lebih puas dan bahagia?
Umumnya, ya. Orang yang memulai hubungan dengan pasangan baru setelah berpisah dengan pasangan lama cenderung lebih puas dengan hubungan baru dibandingkan dengan hubungan sebelumnya. Namun, kepuasan hubungan itu sementara atau hanya pada awal waktu. Setelah itu, umumnya cenderung menurun.
Terus, enaknya bagaimana? Putus dan cari yang baru atau bertahan dengan segala fluktuasinya?
Tentu bergantung pada kondisi masing-masing orang. Orang yang berkarakter ingin mapan dan stabil, maka lebih baik mempertahankan hubungan sambil memperbaiki segala kekurangan dalam berinteraksi dengan pasangan. Untuk orang yang hubungannya tidak sehat dan cenderung membahayakan diri, maka putus hubungan dan cari pasangan baru bisa menjadi opsi.


