Pentingnya Punya Iman bagi Kesejahteraan Mental

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Saya muslimah. Saya mengimani Allah sebagai tuhan yang maha segalanya. Diskripsi ke-maha-an itu bisa dilihat dalam asmaul husna.

Sementara itu, mayoritas manusia saat ini juga mengimani dzat yang ‘lebih powerful‘ daripada diri mereka. Mereka menyebutnya antara lain; Yahweh, Elohim, Brahman, Krishna, Waheguru, Gusti, Nyame, Ngai, Gitchi Manitou, Wakan Tanka, Kami, Tao, Shangdi, Tian, Ahura Mazda, Siddhachakra, Atman, Semesta, Kebijakan Universal, dan sebagainya.

Pesan yang ingin saya sampaikan lewat tulisan ini; jika Anda merasa diri Anda religius, punya spiritualitas, beriman pada kekuatan yang mahatinggi atau yang mahabesar, maka kemungkinan besar Anda memiliki kesehatan dan kesejahteraan mental yang lebih baik dibandingkan orang yang tidak merasa begitu.

Ini bukan ceramah atau khotbah keagamaan yang saya tidak cukup kompeten untuk melakukannya. Tapi, ini berdasarkan hasil penelitian terbaru oleh lembaga analisis dan konsultan Gallup yang berjudul “Faith and Wellness: The Worldwide Connection Between Spirituality and Wellbeing.”

Tim Gallup melakukan meta-analisis terhadap data global termasuk melakukan wawancara mendalam. Mereka menggunakan indeks kesejahteraan yang mengukur lima faktor: sikap positif dan rasa bertujuan dalam hidup, hubungan sosial berbasis keimanan, keterlibatan komunitas dan kemasyarakatan, stabilitas struktural, dan dukungan di tempat kerja atas kesejahteraan menyeluruh. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi hubungan antara spiritualitas dan kesejahteraan.

Hasilnya menunjukkan, hubungan antara keimanan/spiritualitas dan kesehatan mental merupakan fenomena yang terjadi di seluruh dunia. Orang di mana saja, asal memiliki keimanan atau spiritualitas, umumnya memiliki tingkat kesehatan dan kesejahteraan mental yang lebih baik. Spiritualitas tidak hanya dikaitkan dengan penurunan tingkat kecemasan dan depresi, tetapi juga dengan penurunan kekhawatiran lain seperti masalah kecanduan. Orang-orang yang ‘religius’ cenderung mendapat skor lebih tinggi dibandingkan orang lain pada lima faktor indeks kesejahteraan.

Bagaimana dengan kaum agnostik atau atheis atau yang tidak beragama? Penelitian itu menunjukkan, skor lebih tinggi juga muncul saat mereka meyakini ada ‘sesuatu yang jauh lebih besar dan powerful’ daripada diri mereka sendiri.

 

Facebook Comments

Comments are closed.