Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Akhir pekan, saya didatangi kemenakan yang masih remaja. Entah kenapa, obrolan kami jadi mengarah ke curhat. Kali ini curhatnya tentang perhatian dari teman lawan jenis.
“Kemarin, waktu usainya acara pensi di sekolah, kakak Ketua OSIS tiba-tiba kasih ucapan ke saya,” dia mengadu.
“Oh, ya. Hebat dong kamu. Sampai-sampai pejabat tinggi mendatangimu,” aku membuka pintu curhatan supaya lebih lebar.
“Bukan gitu, Te. Dia itu memuji penampilanku, terutama baju yang aku kenakan saat datang ke acara,” kata dia.
“Tambah hebat dong.”
“Begini loh, Tante. Masalahnya, justru pujiannya itu membuat aku insecure. Waktu berangkat aku sudah merasa dandananku tidak matching dengan bajuku. Ketika dia memberi perhatian pada bajuku, aku justru merasa ia menunjukkan ketidakberesan pada baju itu. Aku malah jadi malu.”
“Oh, gitu.”
…………..
Pembaca yang budiman, saya bisa menyimpulkan kemenakan saya sedang tidak percaya diri. Apa lagi saat itu didatangi Ketua OSIS yang jadi idola teman-teman sebayanya. Sampai-sampai, pujian yang dilontarkan spontan oleh lelaki itu dianggap sebagai pengungkapan objek yang membuatnya tak nyaman.
Masalah kurang percaya diri memang hal yang cukup umum dialami oleh banyak orang. Termasuk ponakan saya, bahkan saya sendiri, dan mungkin juga Anda pernah sesekali merasakannya. Masalah ini bisa mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk hubungan sosial, pekerjaan, dan kesejahteraan secara keseluruhan.
Saat tersengat masalah kurang percaya diri, orang bisa merasa tidak nyaman dengan diri sendiri, tidak yakin dengan kemampuan diri sendiri, tidak bangga dengan nilai diri sendiri, atau meragukan potensi dirinya sendiri dalam berbagai situasi. Jika sudah parah, ia bisa menjadi pribadi yang rendah diri.
Meski ada faktor bawaan, genetik, atau fisik, motor utama ketidakpercayaan diri itu ada di mental masing-masing orang. Maka, cara ternyaman untuk mengatasinya adalah dengan menata mindset masing-masing. Harus ada tindakan untuk mengubah mindset yang negatif menjadi lebih positif.
Maka, nasihat perubahan mindset apa yang saya berikan pada kemenakan yang kurang percaya diri menghadapi cowok idolanya itu?
“Merasa insecure saat menerima pujian itu adalah respons yang kurang tepat. Pujian dengan cara spontan, gesture normal, intonasi normal, bisa jadi pujian yang diucapkan dengan tulus dan objektif. Jadi, kalau kau merasa tak nyaman, kau justru terkesan tidak terlalu menghargai pendapat orang yang memberikan pujian.”
“Maka, berbaik sangka lah. Percaya diri lah. Pujian itu harusnya kau balas dengan setidaknya senyum tulus. Lebih baik lagi jika kau jawab, “Terima kasih” dengan gesture tubuh normal dan intonasi suara normal. Jangan berasumsi seseorang sedang menyindir bajumu. Yakini bahwa beberapa kualitasmu mungkin terlihat menarik bagi orang lain.”
Nah, itu cara merubah mindset.


