mepnews.id – Memanasnya konflik antara Iran lawan Amerika Serikat dan Israel menjadi perhatian dunia. Eskalasi terbaru melibatkan serangan terhadap sejumlah target strategis. Ini tidak hanya berdampak secara regional di Timur Tengah, tetapi juga berpotensi mengguncang stabilitas global termasuk Indonesia.

Yusli Effendi, dosen Universitas Brawijaya
Dosen Hubungan Internasional Universitas Brawijaya, Yusli Effendi SIP MA, menyebut konflik ini merupakan akumulasi dari ketegangan panjang kedua pihak. Menurutnya, situasi kali ini lebih serius karena eskalasi militer meningkat dan memicu respons lebih keras dari kedua belah pihak.
“Konflik ini bukan hal baru, tetapi eskalasi terakhir menunjukkan intensitas yang lebih tinggi. Dampaknya tidak hanya dirasakan di kawasan Timur Tengah, tetapi juga secara global,” ujarnya, lewat situs resmi ub.ac.id.
Salah satu dampak paling signifikan adalah potensi gangguan di Selat Hormuz. Jalur itu salah satu choke point terpenting dalam perdagangan energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati selat tersebut setiap hari. Jika Iran mengambil langkah strategis membatasi atau menutup akses Selat Hormuz, harga minyak dunia dipastikan melonjak tajam.
“Ketika pasokan minyak terganggu, harga akan naik. Dampaknya berantai. Negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia, merasakan tekanan besar,” jelasnya.
Kenaikan harga minyak mentah global berdampak langsung terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama pada sektor subsidi energi. Pemerintah berpotensi menghadapi pembengkakan beban subsidi bila harga minyak dunia melampaui asumsi APBN. Selain itu, tekanan inflasi juga tidak terhindarkan.
Volatilitas nilai tukar rupiah juga berpotensi meningkat. Perdagangan minyak yang menggunakan US dollar membuat permintaan terhadap dolar naik saat terjadi ketidakpastian global. Kondisi ini dapat memperkuat dolar dan melemahkan mata uang negara berkembang. “Ketika dolar menguat, rupiah bisa tertekan. Dampaknya bukan hanya pada sektor energi, tetapi juga harga pangan, transportasi, hingga kebutuhan pokok masyarakat,” katanya.
Di sisi lain, kekhawatiran publik terhadap potensi Perang Dunia Ketiga dinilai masih terlalu dini. Yusli menegaskan konflik global berskala besar baru akan terjadi jika negara-negara besar lain secara terbuka terlibat langsung. Ia menyoroti posisi Rusia dan Cina yang hingga kini cenderung berhati-hati. “Selama Rusia dan Cina tidak masuk langsung dalam konflik militer terbuka, kemungkinan besar ini masih tetap menjadi perang regional,” ujarnya.
Meski demikian, dampak keamanan tetap perlu diwaspadai terutama bagi warga negara Indonesia di kawasan Timur Tengah. Negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat menjadi target serangan balasan. Situasi ini dapat mengganggu stabilitas dan aktivitas ekonomi di kawasan. “Indonesia memiliki banyak warga di Timur Tengah. Pekerja migran maupun pelajar. Pemerintah harus memastikan perlindungan maksimal dan kesiapan evakuasi jika situasi memburuk.”
Dalam konteks diplomasi, Yusli menilai Indonesia perlu menjaga posisi politik luar negeri yang kredibel dan konsisten. Sebagai negara dengan tradisi politik bebas-aktif, Indonesia memiliki peluang berperan dalam upaya mediasi. Namun, hal tersebut hanya efektif jika Indonesia dipandang netral dan memiliki daya tawar kuat di mata para pihak berkonflik. “Peran mediator membutuhkan kepercayaan dari kedua pihak. Itu hanya bisa dibangun jika posisi diplomasi kita konsisten dan tidak dianggap terlalu condong ke salah satu kubu.”
Secara ekonomi domestik, ia menyarankan pemerintah memperkuat kebijakan mitigasi risiko, termasuk menjaga cadangan energi, mengendalikan inflasi, dan memperkuat stabilitas sektor keuangan. Koordinasi antara Bank Indonesia dan pemerintah dinilai krusial untuk meredam gejolak nilai tukar dan menjaga kepercayaan pasar.
Yusli mengingatkan masyarakat untuk tidak terjebak kepanikan berlebihan. Ia menekankan pentingnya literasi informasi di tengah maraknya narasi dan propaganda. “Perang hari ini bukan hanya secara militer, tetapi juga perang informasi. Masyarakat harus cerdas memilah sumber berita dan tidak mudah terprovokasi,” katanya.
Ia juga mengimbau masyarakat bersiap menghadapi kemungkinan kenaikan harga kebutuhan pokok akibat dampak global. Kewaspadaan secara ekonomi lebih relevan dibandingkan kekhawatiran terhadap skenario perang dunia. “Yang paling realistis untuk diantisipasi adalah dampak ekonomi. Harga energi, transportasi, dan bahan pokok bisa terdampak. Jadi masyarakat perlu lebih bijak dalam pengelolaan keuangan.”
Hingga saat ini, konflik antara Amerika Serikat dan Iran masih terus berkembang. Dunia internasional memantau setiap langkah kedua negara karena eskalasi lebih lanjut dapat membawa konsekuensi yang jauh lebih luas. Bagi Indonesia, kesiapsiagaan ekonomi dan ketahanan diplomasi menjadi kunci menghadapi dinamika geopolitik yang semakin kompleks. (RST/Humas UB).


