Apa Benar Nonton Mukbang Bikin Eneg?

oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – “Gue tuh kesel banget; setiap buka medsos, yang nongol video mukbang lagi, mukbang lagi. Suara makannya, ekspresi berlebihan, porsi yang nggak masuk akal… rasanya bikin capek sendiri,” begitu Lora tiba-tiba ngoceh.

Saya tanggapi dengan santai, “Capek gimana maksudnya?”

“Seperti ada rasa berisik di kepala. Seolah semua harus ditelan cepat, ditonton cepat, dikomentari cepat. Makan yang harusnya tenang jadi tontonan gaduh. Gue ngerasa kok ada yang salah, ya?”

“Ah, mungkin karena kau lagi butuh hal yang lebih pelan.”

“Iya. Gue kangen lihat orang makan tanpa performa, tanpa ASMR lebay, tanpa tantangan ‘habisin sekilo’. Kadang gue kepikiran, apa kita senang merayakan kebiasaan yang nggak sehat? Bukan soal berat badan, tapi soal relasinya sama makanan!”

…………..

Pembaca yang budiman, mukbang adalah tren medsos global dari Korea Selatan pada awal 2010-an. Mukbang melibatkan video orang makan makanan dalam jumlah sangat besar (seringkali kaya kalori) dalam sekali duduk. Dalam video-video ini, seringkali ditekankan kualitas sensorik tertentu seperti suara host saat makan atau tampilan makanannya.

Mengingat popularitasnya, para peneliti menyelidiki hubungan antara mukbang dan kesehatan mental. Sejumlah bukti ilmiah menunjukkan, menonton mukbang terkait dengan gejala gangguan makan yang lebih tinggi dan risiko kesehatan mental lainnya termasuk soal citra tubuh negatif dan suasana hati negatif. Lebih lanjut, mukbang dapat menyebabkan citra tubuh negatif karena pembawa acara seringkali memiliki fisik langsing dan penonton jadi merasa kurang bahagia dengan tubuh mereka sendiri.

Karena penelitian sebelumya kebanyakan hanya lewat pertanyaan pendapat responden, penelitian paling mutakhir di University of Melbourne di Austrslia melakukan eksperimen langsung untuk menguji apakah menonton mukbang dapat menyebabkan peningkatan gejala gangguan makan, citra tubuh negatif, dan suasana hati negatif.

Caranya?

Responden 327 wanita dan pria muda menonton mukbang 10 menit. Tepat sebelum dan sesudah menonton, mereka mengisi kuesioner tentang bagaimana mereka berpikir dan merasa pada saat itu sehubungan dengan dorongan untuk terlibat dalam gangguan makan, citra tubuh negatif, dan suasana hati negatif. Para peneliti kemudian menganalisis apakah ada perubahan signifikan sebelum hingga setelah menonton mukbang. Mereka memprediksi responden akan mengalami peningkatan dorongan makan yang tidak teratur, citra tubuh yang negatif, dan suasana hati yang negatif dari sebelum hingga setelah menonton video mukbang.

Hasilnya?

Pertama, bertentangan dengan dugaan peneliti, para responden justru melaporkan penurunan dorongan nafsu makan tidak teratur dari sebelum hingga setelah menonton mukbang. Lebih spesifik, responden wanita umumnya melaporkan pengurangan pembatasan diet yang berbahaya, dan reponden pria melaporkan pengurangan dorongan untuk makan berlebihan.

Kedua, para responden mengaku ada penurunan suasana hati positif tetapi tidak ada perubahan suasana hati negatif. Artinya, mereka memang merasa kurang ‘gembira’ tetapi tidak selalu lebih sedih atau bahkan jadi tertekan.

Terakhir, tidak ada perubahan citra tubuh negatif sebagai akibat dari menonton video tersebut. Mereka biasa saja.

Meski bukti-bukti penelitian lebih awal menunjukkan menonton mukbang bisa memberbahayakan kesehatan mental penonton, studi di Australia ini menunjukkan hal yang tidak selalu demikian. Sebaliknya, menonton mukbang justru tampaknya menurunkan gejala gangguan makan.

Koq bisa begitu?

Para peneliti di Australia ini berteori bahwa menonton mukbang mungkin telah mengurangi gejala gangguan makan dengan cara mengurangi rasa malu dan rasa cemas seputar makan, dan dengan memberikan rasa kepuasan tidak langsung. Misalnya, menonton orang lain makan berlebihan dapat mengurangi keinginan diri sendiri untuk makan berlebihan. Selain itu, penurunan suasana hati positif mungkin disebabkan oleh kebosanan menonton video berdurasi 10 menit. Anak muda sekarang umumnya lebih terbiasa menonton video sangat pendek 1 menitan di media sosial.

Meski menonton mukbang bisa saja secara tidak langsung membahayakan kesehatan mental, namun efeknya mungkin berbeda. Oleh karena itu, perlu studi jangka panjang untuk melacak konsumsi mukbang oleh individu, dan meneliti kesehatan mental mereka, dari waktu ke waktu untuk dapat membantu menjelaskan efek kausal jangka panjang dari paparan mukbang.

Kalau menurut saya pribadi, makan berlebihan itu tidak baik secara fisik, mental, dan sosial. Kekenyangan itu menimbulkan rasa tidat enak dari saluran pencernaan paling atas hingga paling bawah. Makan banyak itu terkesan rakus. Sementara, di luar sana masih banyak orang yang butuh makanan. Jadi, makan secukupnya dan sewajarnya saja.

Facebook Comments

POST A COMMENT.