Menelusuri Jejak Kebangkitan Nasional di Jantung Jakarta

mepnews.id – Museum Kebangkitan Nasional di Jalan Dr Abdul Rahman Saleh, Jakarta Pusat, menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang masih relevan dikunjungi hingga kini. Museum ini menyimpan jejak penting lahirnya kesadaran nasional bangsa Indonesia pada awal abad ke-20, sekaligus menawarkan pengalaman edukatif bagi pelajar, mahasiswa, maupun wisatawan umum.

Diorama para pelajar yang mendapat kuliah kedokteran oleh guru dari Belanda.

Gedung museum ini dulunya sekolah kedokteran STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen). Ini menjadi tempat berkumpulnya tokoh-tokoh pergerakan nasional. Dari gagasan Wahidin dr Sudirohusodo, para pelajar Mohammad Soelaiman, Gondo Soewarno, Goenawan Mangoenkoesoemo, Raden Angka Prodjosoedirdjo, Mohammad Saleh, Raden Mas Goembrek, Soetomo, Soeradji Tirtonegoromendirikan organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908. Peristiwa inilah yang menjadi tonggak awal Kebangkitan Nasional Indonesia.

Di dalam museum, pengunjung dapat melihat berbagai koleksi bersejarah. Dari foto-foto tokoh pergerakan, lonceng, dokumen arsip, replika ruang belajar mahasiswa STOVIA, hingga alat-alat kedokteran yang digunakan pada masa itu. Setiap ruangan dilengkapi panel informasi yang disusun ringkas dan mudah dipahami, sehingga pengunjung bisa mengikuti alur sejarah secara runtut.

Para pelajar diam-diam merundingkan organisasi perjuangan moderen.

Selain koleksi pameran, Museum Kebangkitan Nasional juga menyediakan ruang audio visual yang menayangkan video dokumenter tentang sejarah bangunan dan perjalanan pergerakan nasional. Ruangan ini menjadi salah satu daya tarik karena menyajikan informasi sejarah dalam format yang lebih interaktif dan menarik, terutama bagi generasi muda.

“Aku baru tahu gedung ini punya peran besar dalam sejarah kebangkitan bangsa. Nonton video di ruang audio visual bikin ceritanya lebih kebayang sama kerasa suasananya di jaman itu,” ujar Rani (22), mahasiswa dari Jakarta.

Museum Kebangkitan Nasional dibuka untuk umum setiap Selasa hingga Minggu, 08.00–16.00, dan tutup pada Senin. Tiket masuk sekitar Rp5.000 per orang. Pengelola museum mengimbau pengunjung menyiapkan metode pembayaran non-tunai, karena Museum Kebangkitan Nasional tidak melayani pembayaran tunai. Seluruh transaksi dilakukan melalui sistem digital, seperti QRIS atau kartu kredit, sebagai upaya mendukung pembayaran yang lebih praktis dan modern.

Koleksi dengan berbagai petunjuk yang memudahkan pengunjung.

Pengunjung juga diingatkan tidak menyentuh koleksi, patung, maupun benda-benda bersejarah yang dipamerkan. Imbauan tersebut bertujuan meminimalisir kerusakan dan menjaga kelestarian artefak agar tetap bisa dinikmati generasi mendatang.

“Petugasnya ramah. Kami diingatkan supaya nggak sembarangan pegang koleksi. Menurut saya itu penting banget buat menjaga peninggalan sejarah,” kata Gilang (25), pengunjung asal Jakarta Timur.

Akses menuju museum ini relatif mudah. Pengunjung dapat menggunakan KRL Commuter Line dan turun di Stasiun Pasar Senen, lalu melanjutkan perjalanan dengan ojek online atau berjalan kaki 10-15 menit. Museum ini juga dapat dijangkau menggunakan TransJakarta dengan rute yang melewati kawasan Senen dan Jakarta Pusat. (Intan)

 

 

Facebook Comments

Comments are closed.