Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Anda pernah, atau malah sering, curhat ke ChatGPT atau Gemini? Jika pernah, it’s okay. Anda tidak sendiri. Produk AI ini memang sekarang sedang populer untuk memberi jawaban atas pertanyaan apa saja.
Seorang teman malah pernah berkomentar, “Ngapain susah-susah ke psikolog? Curhat aja sama ChatGPT. Cepat, praktis, dapat masukan banyak.”
Saya pun pernah mencoba sekedar untuk menjawab rasa penasaran. Surprisingly, ChatGPT benar bisa menuliskan kalimat yang empatik, memberikan banyak tips dan solusi atas apa yang saya tanyakan. Bahkan, AI tersebut juga bertanya balik ke saya untuk eksplorasi lebih detil akan permasalahan yang saya tanyakan di awal.
Hehhehe…, seru sih!
Tapi, masa iya AI di masa depan bisa menggantikan peran psikolog atau psikiater?
Bagaimanapun, AI tetap memiliki keterbatasan. AI memang punya pengetahuan sangat luas, mungkin seluas informasi yang bisa diakses Google. Tapi, sejauh ini, AI masih punya keterbatasan terutama dalam pemahaman sosial-budaya.
Pemikiran, pengalaman dan mindset manusia sangat dipengaruhi oleh aspek sosial-budaya ini. Kondisi yang sama terjadi pada orang Indonesia dan orang di Rusia sangat mungkin direspons secara berbeda karena ada perbedaan sosial-budaya di antara kedua orang.
AI sangat paham data secara general. Tapi, AI mungkin sulit mendeteksi bahwa masalah yang dihadapi si klien adalah karena ia dibesarkan dari keluarga otoriter atau karena masyarakat di sekitarnya terlalu ikut campur. Jika si klien tidak memberikan prompt spesifik pada AI, jawabannya bisa dipastikan sangat umum.
Selain kondisi di atas, AI juga sulit mendeteksi permasalahan menyangkut kesehatan mental yang bersifat kompleks. Misalnya, kondisi emosi pasien kala itu campuran antara tidak stabil, depresi, trauma dan berbagai gangguan mental lainnya.
Begitu juga, AI sejauh ini belum cukup mampu menjawab masalah-masalah yang membutuhkan penggalian lebih dalam tentang pengalaman masa lalu atau kondisi bawah sadar.
Jadi, sah-sah aja kok kalau mau curhat sama AI. Dengan catatan: bijaklah menggunakannya!
Jangan gunakan AI untuk ‘self diagnose‘ dan melabel diri sendiri. Diagnosa tetap harus dilakukan oleh profesional. Untuk sekadar tahu kondisi diri, boleh juga. Untuk mendapatkan diagnosis resmi agar bisa mendapat tindakan lebih lanjut, wewenangnya ada pada profesional.
Saya sendiri beranggapan curhat via AI kurang memberikan sentuhan emosional. Meski pernah mencoba dan menemukan solusi, tapi curhatnya terasa sangat beda jika dibanding misalnya dengan curhat ke teman dekat.


