Social Loafing, Bermalas-malasan saat Dalam Kelompok

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Saat ada sekelompok orang baik, tentu ada satu atau dua yang kurang baik.  Salah satu contohnya adalah saat saya nguping gunjingan tiga mahasiswa yang praktik di tempat saya.

“May, lihat tuh, tiap kerja kelompok, Fulan selalu hilang pas bagi tugas,” kata Desi.

“Iya banget. Pas rapat awal, ia paling semangat ngomong. Pas eksekusi? Nol besar. Ujung-ujungnya kita yang nutupin,” jawab Maya.

Andi menimpali, “Parahnya lagi, pas presentasi, dia pede banget. Ngomong seolah-olah semua kerjaannya dia.”

“Makanya aku kesel,” kata Desi. “Kita lembur, dia muncul nama doang di laporan.”

“Itu tuh namanya nebeng hasil. Kalau dia kerja sendiri, belum tentu kelar. Tapi kalau rame-rame, dia malah malas-malasan,” kata Andi

Social loafing banget. Karena merasa ada yang lain, dia jadi ngerasa aman buat males,” kata Desi.

………….

Pembaca yang Budiman, social loafing adalah kondisi psikologis saat individu hanya mengerahkan upaya lebih sedikit ketika bekerja dalam kelompok dibandingkan ketika ia bekerja sendiri. Social loafing terjadi di berbagai lingkungan, dari praktik para mahasiswa tadi hingga tempat kerja, bahkan kerja bakti RT.

Namanya juga kemalasan di ranah sosial, pasti ada efek negatifnya. Yang nyata, social loafing seseorang bisa berdampak pada produktivitas tim. Dalam kelompok lebih besar, individu itu berperan yang tidak jelas tapi berkeyakinan orang lain akan menutupi kekurangannya. Ini biasa disebut free-rider effect.

Ada beberapa hal yang memicu seseorang untuk melakukan social loafing. Ketika berada dalam kelompok, ia merasa kurang bertanggung jawab secara pribadi atas hasilnya. Ia berpikir orang lain akan menutupi kemalasannya. 

Ukuran kelompok juga berpengaruh. Semakin besar kelompok, semakin besar kemungkinan seseorang bermalas-malasan. Ia beranggapan kontribusinya pasti tampak lebih kecil dibanding kontrubusi kelompok secara keseluruhan. Ia merasa, tidak berkontribusi pun tidak akan dirasakan kelompok.

Yang parah, tentang kurangnya akuntabilitas. Ketika kontribusi seseorang tidak mudah diukur, maka motivasi kerjanya jadi menurun.

Maximilien Ringelmann, insinyur pertanian asal Prancis akhir abad ke-19, pernah melakukan eksperimen sederhana. Ia minta seseorang menarik tali sendirian, lalu menarik tali bersama-sama dalam kelompok. Hasilnya; total tenaga kelompok memang bertambah tetapi tidak sebanding dengan jumlah orangnya.

Gambaran sederhananya; saat tugas dikerjakan 1 orang maka usahanya 100%. Saat tugas dikerjakan 2 orang, tingkat usahanya bukan jadi 200% tapi sekitar 180%. Saat dikerjakan 3 orang, tingkat usahanya jadi 255% dan bukannya 300%. Saat dikerjakan 8 orang, kontribusi per orang turun drastis. 

Anda pernah begitu? Jangan, ya…. tidak baik.

Facebook Comments

Comments are closed.