Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Belakangan ini, lewat berbagai curhatan oleh sejumlah kaum muda, saya jadi semakin turut merasakan permasalahan Generasi Z, generasi Alpha, dan kemungkinan generasi setelahnya. Mereka yang ngobrol dengan saya menghadapi stres kronis, kelelahan emosional, dan krisis identitas karena tumbuh di dunia yang berubah terlalu cepat, penuh rangsangan digital, dan minim ruang pemulihan. Ada juga yang sudah mengalami tekanan akademik, sosial, dan ekonomi sejak usia muda. Belum lagi jika ada kasus-kasus perbandingan sosial terus-menerus, relasi yang rapuh, serta ketidakpastian masa depan.
Meski demikian, wahai para pembaca yang budiman, saya melihat masalah utama mereka bukan karena kelemahan pribadi melainkan karena adanya ketidakselarasan antara kebutuhan biologis–psikologis manusia dengan ritme dan tuntutan kehidupan modern.
Mengapa manusia modern mudah stres, cemas, dan kelelahan, padahal hidup relatif aman?
Saya baca kajian Colin Shaw dan Daniel Longman antropolog evolusioner dari University of Zurich. Hasil riset mereka juga melontarkan hipotesis ketidakcocokan mendasar antara tubuh manusia dan lingkungan modern. Lebih riilnya; dunia berubah terlalu cepat, sementara biologi manusia bergerak sangat lambat.
Selama ratusan ribu tahun, manusia berevolusi sebagai pemburu dan peramu. Tubuh dan pikiran manusia dibentuk oleh aktivitas hidup yang penuh gerak, oleh paparan dengan alam, serta oleh stres yang singkat namun intens —misalnya ketika harus menghindari predator. Dalam kondisi itu, sistem stres bekerja optimal: tubuh bereaksi cepat, lalu kembali tenang setelah bahaya berlalu.
Masalah muncul ketika industrialisasi mengubah hidup manusia hanya dalam beberapa abad terakhir. Kehidupan modern menghadirkan kebisingan terus-menerus, polusi udara dan cahaya, paparan bahan kimia, plastikmikro, makanan olahan ultra-prosesan, serta pola hidup sedentari (gak banyak bergerak). Semua rangsangan ini memang memicu sistem stres yang sama seperti saat menghadapi ancaman fisik. Bedanya, stres era moderen ini sepertinya tanpa akhir yang jelas.
Nenek moyang kita hanya sesekali bertemu harimau atau buaya atau ular, tapi setelah kejadian itu tubuh punya waktu untuk pulih dari stres menghadapi predator. Nah, sekarang, manusia modern justru menghadapi ‘predator’ setiap saat berupa kemacetan, tekanan kerja, konflik sosial, kebisingan kota, hingga sekadar notifikasi digital. Ini membuat sistem saraf manusia moderen terus berada dalam mode siaga; seolah bahaya tidak pernah benar-benar pergi. Akibatnya, stres menjadi kronis. Tubuh mengalami aktivasi berlebihan tanpa sempat menjalani pemulihan sempurna.
Inilah hal-hal yang diduga menjadi akar berbagai masalah kesehatan modern secara fisik maupun mental.
Shaw dan Longman juga menyoroti dampak industrialisasi terhadap keberhasilan evolusioner manusia. Dari sudut pandang evolusi, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan bertahan hidup, tetapi juga oleh kesehatan reproduksi. Nah, di era sekarang, kedua hal itu justru menunjukkan tren mengkhawatirkan.
Di banyak negara, angka kesuburan menurun tapi kasus-kasus penyakit inflamasi dan autoimun justru meningkat. Salah satu yang cukup mengerikan adalah penurunan jumlah dan kualitas sperma yang sudah dilacak sejak era 1950-an. Penurunan ini diduga berkaitan dengan paparan pestisida, herbisida, dan plastikmikro dalam lingkungan dan makanan sehari-hari.
Jadi, peradaban modern memunculkan paradoks. Di satu sisi, manusia berhasil menciptakan kenyamanan, teknologi, dan layanan kesehatan yang luar biasa. Di sisi lain, sebagian pencapaian tersebut justru memberi tekanan besar pada sistem imun, kognitif, fisik, dan reproduktif manusia.
Adaptasi genetik manusia membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan ribu tahun, sementara perubahan teknologi dan lingkungan terjadi dalam hitungan dekade. Ketidakcocokan antara tubuh manusia dan dunia modern tidak akan terselesaikan dengan sendirinya dalam waktu singkat. Karena itu, kita harus mempertimbangkan perubahan budaya dan lingkungan agar berimbang.
Perlakukan alam sebagai bagian penting dari kesehatan publik. Ruang hijau, lanskap alami, dan paparan lingkungan yang menyerupai habitat evolusioner manusia perlu dilindungi dan diperluas. Desain kota perlu ditata agar lebih selaras dengan fisiologi manusia: lebih ramah bagi pejalan kaki, mengurangi polusi dan kebisingan, serta memberi ruang untuk aktivitas fisik dan pemulihan mental. Perlu juga lingkungan yang merangsang tekanan darah, detak jantung, dan sistem imun, dengan cara yang sesuai kebutuhan manusia. Kebijakan publik harus lebih berbasis pada kebutuhan biologis manusia.
Berat? Ya! Tapi kita perlu mengupayakannya.


