mepnews.id – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengirimkan sejumlah elemen dalam misi kemanusiaan di sisi utara pulau Sumatera. Pengabdian total dicurahkan dalam mengatasi kondisi bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Aksi kemanusiaan para dokter muda Fakultas Kedokteran, dokter umum, perawat, dan apoteker RS UMM, hingga Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) ini dipusatkan di Kabupaten Agam di Sumatera Barat.
Dikabarkan situs resmi umm.ac.id, Rindya Fery Indrawan SPi MP, dosen Akuakultur, meninggalkan rutinitas akademiknya untuk menjadi relawan sepanjang Desember 2025. Ia berada di lokasi bencana guna memastikan koordinasi relawan serta penyaluran bantuan kemanusiaan berjalan meski dihadapkan pada medan yang sulit.
UMM bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) pada respon kebencanaan. Indra Ferry mengemban peran Ketua Pos Koordinasi dengan tanggung jawab menghubungkan kerja antar-klaster sekaligus memanajemen kebutuhan logistik sejak tahap persiapan hingga distribusi di lapangan.
“Saya harus bisa menjembatani koordinator klaster satu dengan yang lainnya, memanajemen kebutuhan logistik internal maupun eksternal,” ujarnya Indra Ferry.
Wilayah penugasan Malalak, Maninjau, dan Palembayan masing-masing menghadirkan tantangan medan berbeda. Di Malalak, jembatan terputus sehingga relawan harus menyeberangi sungai dengan risiko tinggi saat debit air meningkat. Di Maninjau, ancaman longsor susulan menjadi kewaspadaan utama.
Untuk memastikan penanganan berjalan efektif, kegiatan dibagi ke dalam empat klaster. Klaster medis memberikan layanan kesehatan di Puskesmas serta melakukan kunjungan ke rumah-rumah penyintas. Klaster dukungan psikososial menyasar seluruh lapisan masyarakat termasuk anak-anak, lansia, ibu-ibu, hingga remaja untuk membantu pemulihan kondisi mental pascabencana. Klaster logistik menyalurkan obat-obatan, sembako, kebutuhan dapur umum, hingga alat kesehatan seperti kursi roda bagi yang membutuhkan. Klaster WASH menyediakan akses air bersih melalui unit filtrasi yang ditempatkan di fasilitas umum dan hunian darurat.
Muhammad Hafidz Putra Perdana, dari Fakultas Kedokteran UMM, harus menyeimbangkan empati dan profesionalisme saat mendampingi korban bencana. Dokter muda asal Banjarmasin ini memberi layanan medis dan psikososial sejak awal Desember.
Dana bertugas mendampingi penyintas dengan gangguan mental akibat trauma bencana. “Saya langsung turun ke masyarakat dan menanyai perihal gejala serta gangguan mental akibat post-trauma banjir bandang,” ujarnya.
Hari pertama bertugas di Kecamatan Lubuk Basung, Dana langsung bersentuhan dengan realitas bencana. Ia mengunjungi tiga rumah singgah yang dihuni penyintas dari Kecamatan Palembayan wilayah zona merah dengan tingkat kerusakan tinggi. “Mereka menceritakan rumahnya sudah rata dengan tanah, bahkan banyak anggota keluarga sudah tidak ada,” katanya.
Mayoritas penyintas yang ia dampingi mengalami kecemasan berat, gangguan panik, serta tekanan emosional akibat kehilangan. Pendampingan dilakukan melalui asesmen, konseling, relaksasi, serta pemberian obat-obatan yang dipantau berkala selama dua minggu. “Sebagian besar pasien kehilangan anggota keluarga, tetapi itu tidak mematahkan semangat mereka untuk bertahan hidup.”
Meski pernah menjalani stase kejiwaan saat KoAs, Dana mengaku pengalaman lapangan ini memberi pelajaran jauh lebih dalam. “Ini pengalaman yang tidak akan tergantikan bagi saya sebagai calon dokter,” ujarnya.
Di tengah lumpur dan sisa genangan banjir, tim UMM menyalurkan bantuan hygiene kit guna membantu para penyintas menjaga kebersihan dan kesehatan diri. Bantuan disalurkan 19 Desember lewat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Agam dan diterima Bupati Ir H Benni Warlis MM.
UMM telah menyalurkan ratusan hygiene kit ke beberapa wilayah terdampak bencana sejak 8 Desember. Tim kampus putih ini masih menyalurkan bantuan pada para warga Maninjau pada 21 Desember. Hygiene kit berisi perlengkapan dasar kebersihan, seperti sabun, handuk, serta alat-alat kebersihan lainnya yang sangat dibutuhkan warga di pengungsian.
Bupati Benni Warlis menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada UMM. “Bantuan ini akan segera disalurkan kepada warga yang membutuhkan,” ujarnya.
Indra Ferry menjelaskan, penyaluran hygiene kit bertujuan memberikan fasilitas dasar bagi warga terdampak agar tetap dapat menjaga kebersihan diri secara layak di tengah keterbatasan pascabencana. Menurutnya, bencana berdampak langsung pada kondisi kesehatan masyarakat terutama yang tinggal di pengungsian dengan akses air bersih terbatas.
Lingkungan yang lembap, kotor, dan bercampur lumpur sangat rentan memicu berbagai penyakit, termasuk gatal-gatal, infeksi, dan iritasi. Hygiene kit menjadi kebutuhan mendesak bagi para penyintas agar dapat membersihkan diri rutin dan menjaga kesehatan tubuh. (Faqih Ahmad Wafir Rahman)


