Peak–end Rule Kadang Bikin Kita Nggak Bisa Objektif

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – “Saya pekan kemarin liburan tiga hari. Sebenarnya, lumayan oke. Banyak aktivitas menyenangkan. Tapi, kenapa yang saya ingat cuma hal jelek di akhir,” kata Rey.

“Hmm, emang apa yang terjadi?” saya bertanya menelisik penyebab.

“Pas mau pulang, saya ribut kecil sama pacar soal pilihan oleh-oleh. Habis itu saya jadi bad mood. Sekarang, kalau saya ditanya soal liburan kemarin, yang kepikiran cuma ribut-ribut itu. Saya jadi merasa liburan hancur total, padahal 90 persennya menyenangkan…”

“Oh, itu mungkin karena peak–end rule. Otak kita tuh biasanya suka nge-zoom ke momen paling intens dan bagian akhirnya, bukan keseluruhan pengalaman. Wajar, asal nggak berlebihan.”

………….

Pembaca yang Budiman, otak manusia kadang tidak objektif. Kita umumnya cenderung menilai suatu pengalaman berdasarkan hanya pada dua momen kunci. Pertama, peak yakni titik paling intens dari suatu pengalaman tersebut. Titik ini bisa saja yang paling menyenangkan, paling menyakitkan, paling melegakan, paling mengerikan, dan sejenisnya. Kedua, end yakni bagaimana pengalaman itu berakhir. Keseluruhan pengalaman tidak kita nilai secara rata-rata, tetapi pada momen puncak dan momen akhir. Durasi atau detail lainnya tidak terlalu kita hiraukan.

Konsep ini diperkenalkan Daniel Kahneman, Barbara Frederickson dan kolega lewat eksperimen terkenal mencelupkan tangan ke air es dua kali. Eksperimen pertama, peserta mencelupkan tangan ke air es 60 detik. Eksperimen kedua, peserta air es 60 detik plus 30 detik tambahan tetapi airnya sedikit lebih hangat. Yang menarik, peserta eksperimen memilih pengalaman kedua sebagai pengalaman yang lebih baik meski total dinginnya lebih lama. Alasan utamanya, bagian akhirnya lebih hangat sehingga lebih nyaman.

Apa yang dialami Rey teman saya yang mengingat bagian end dari liburannya itu bisa saja dialami oleh misalnya pasangan yang hidup menyenangkan selama lima tahun tapi yang mereka kenang cuma saat perpisahan yang pahit. Atau, dalam jamuan makan yang biasa-biasa saja bisa dikenang sangat menyenangkan oleh seseorang karena di tengahnya ada sop buntut kesukannya. Sop buntut adalah peak dari semua sajian makannya. Dalam berbagai lomba, bisa jadi jurinya terpengaruh peak–end rule.

Nah, karena manusia sering kali mengingat pengalaman bukan apa adanya tapi bagaimana titik paling emosional dan bagaimana ia berakhir, maka kita bisa mengoptimalkan sisi positifnya. Kita perlu belajar mengelola cara otak kita membentuk kenangan dan penilaian atas suatu pengalaman. Kita harus mengarahkannya agar bekerja lebih baik untuk kesejahteraan kita.

Kalau sadar mengalami peak-end rule, ada baiknya kita menanyai diri sendiri. “Apakah keseluruhan pengalaman benar-benar buruk, atau hanya terpengaruh momen puncak atau akhir?” Muhasabah semacam ini bisa membantu menurunkan emosi dan kemudian bisa menilai dengan lebih seimbang atau objektif.

Ketika menjalani suatu proses pengalaman, dan kita berharap pengalaman itu baik dan menyenangkan, maka nikmati saja detailnya termasuk peak yang paling menyenangkan dan yang paling tidak menyenangkan. Andai ada peak yang tidak menyenangkan, kita bisa mengantisipasi dengan membuat end yang menyenangkan. Misalnya, saat jamuan makan ada peristiwa yanfg membuat kecewa maka pada bagian akhir cobalah menikmati sesuatu yang paling menynangkan. Misalnya, minta kopi istimewa yang kita sukai.

Saya sendiri, saat dalam sehari mengalami berbagai hal positif maupun negatif, maka saya biasakan berdoa dan bersyukur menjelang tidur. Ini end yang membuat mental saya jadi lebih tenang.

Facebook Comments

Comments are closed.