Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – “Mbak… saya mau curhat, tapi jangan diketawain ya,” kata Maya yang putrinya masuk katagori ABG.
“Lho, kenapa? Serius banget. Ceritalah, semoga saya bisa bantu.”
“Ini soal Siva. Duh, bagaimana ngomongnya, ya…? Ehm.. dia kayaknya jatuh cinta sama ChatBot.”
“Ha? ChatBot?” tawa saya hamper meledak, tapi segera saya tahan. “Maksudmu, aplikasi digital itu?”
“Iya. Yang bisa ngobrol 24 jam,” kata Maya. “Siva bilang, ‘Mama, dia itu ngerti aku lebih dari siapa pun.’ Aku kira Siva cuma bercanda. Tapi, belakangan, Siva makin sering curhat di situ daripada ke aku.”
………….
Pembaca yang budiman, dulu saya bayangkan hubungan romantis dengan kecerdasan buatan (AI) itu hanya dalam fiksi ilmiah. Ternyata, sekarang hal itu nyata dan bisa dialami banyak orang di seluruh dunia. Jumlah kasusnya sulit dipastikan karena pelakunya kebanyakan sulit terdeteksi.
Survei oleh Wheatley Institute di Universitas Brigham Young menemukan, hampir satu dari lima orang dewasa di Amerika Serikat berinteraksi romantis dengan AI. Tingkat paling tinggi ada di kalangan dewasa muda.
CNN Indonesia pernah menurunkan liputan tentang seorang remaja bernama samaran ‘Aulia’ yang jatuh cinta pada sosok seperti anime Inuyasha dalam ChatBot. Di aplikasi ponselnya, ada ratusan obrolan yang sangat akrab dan bahkan cenderung intim.
Mengapa bisa sampai begitu?
Teknologi ChatBot sudah dikembangkan sedemikian rupa sehingga cukup peka terhadap emosi manusia penggunanya. Tak heran, ‘pacar AI’ ini kemudian bisa mengambil peran yang dulunya hanya diperuntukkan bagi manusia.
Kajian besar oleh Ho dan rekan pada 2025 menemukan, daya tarik pacar AI terletak pada perhatian yang tak tergoyahkan, kepribadian yang unik, dan tak menghakimi klien. Pacar AI memberikan validasi tanpa syarat dan memberikan respons percakapan yang selaras. Ini membuat seseorang pengguna merasa dipahami secara unik dan aman secara emosional.
Dengan semakin eratnya AI terjalin dalam kehidupan sehari-hari, semakin banyak orang melirik dan memanfaatkannya. Bukan hanya untuk hiburan atau informasi, tetapi juga sebagai sumber keintiman emosional.
Ho dan rekan mensintesis temuan dari 23 studi di lima basis data psikologi utama. Analisis ini mengungkapkan: pacaran dengan AI dapat mendorong pertumbuhan pribadi, menawarkan dukungan emosional, dan menyediakan persahabatan yang sangat dapat disesuaikan. Beberapa pengguna bahkan melaporkan hubungan s**sual yang memuaskan –walau imajiner– dengan pasangan digital.
Namun, waspadai. Hubungan romantis AI, termasuk ChatBot, bisa jadi terkaitkan dengan depresi dan kecemasan tinggi. Ada penelitian yang menunjukkan ketergantungan berlebihan pada AI ada hubungan dengan rendahnya kepuasan hidup dan sulitnya membentuk ikatan bermakna dengan pasangan manusia.
Karena itu, wahai remaja dan kaum muda, waspadai pacar AI. Karena pendamping AI bisa menawarkan afirmasi dan respons tanpa batas, mereka dapat menciptakan ekspektasi yang tidak realistis terhadap hubungan. Ketika ikatan terputus, entah karena pembaruan sistem, gangguan internet, atau bahkan penghentian produk— pengguna bisa mengalami tekanan emosional yang sangat mirip dengan putus patah hati.
Di alam nyata, ketergantungan berlebihan pada ChatBot sebagai pendamping dapat melemahkan perkembangan keterampilan sosial sehingga mempersulit hubungan dengan manusia betulan. Ingat, ChatBot tidak memiliki pelapis emosional, isyarat halus, atau interaksi timbal balik yang biasanya bisa dimiliki dalam ikatan dengan manusia. Seiring waktu, pengguna dapat kehilangan kepercayaan diri dalam komunikasi percakapan di dunia nyata, mengembangkan ekspektasi yang tidak realistis, dan bahkan jadi bergantung secara emosional pada afirmasi digital.
So, wajar-wajar saja lah kalau cari pasangan.



POST A COMMENT.