mepnews.id – Sabtu 15 November 2025, Gedung PGRI Wonogiri berubah jadi lautan toga. STAIMAS Wonogiri menggelar Wisuda Sarjana Angkatan ke-3. Acara dihadiri Bupati Wonogiri Setyo Sukarno, Kapolres AKBP Wahyu Sulistyo, sampai Wakil Ketua DPRD Suryo Suminto. Forkopimda hadir, tokoh masyarakat ikut meramaikan, para orangtua bahagia.
Tak ketinggalan, jajaran Yayasan Karya Emas Center (YKEC): Pembina Hj Endang Maria Astuti, Ketua YKEC Anfasa Azwan Izza Perdana, serta Ketua Senat STAIMAS Drs Rasyidi Masyhur. Seluruh sivitas akademika menyambut momen langka ini dengan wajah berseri-seri.
Ketua STAIMAS, Atik Nurfatmawati, mengingatkan wisudawan bahwa gelar sarjana bukan tiket VIP ke masa depan, melainkan modal awal untuk jadi pahlawan masa kini yakni tokoh berintegritas yang tidak hobi menyalahkan keadaan. “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat,” katanya.
Tantangan hidup setelah wisuda, lanjut Atik, bakal lebih berat. Karena dunia nyata tidak mengenal sistem SKS, tidak peduli KHS, dan jelas tidak menyediakan dosen pembimbing yang siap membantu tiap minggu.
Sementara itu, Ketua Kopertais Wilayah X Jawa Tengah Prof Dr Nizar Ali, mengucapkan selamat kepada 51 wisudawan dan memuji kerja keras STAIMAS yang terus berjuang mewujudkan visi menjadi kampus unggul berbasis pemberdayaan masyarakat, nilai Keindonesiaan, dan spirit religius kekaryaan menuju level Asia Tenggara 2042.
Prof Nizar kemudian mendorong STAIMAS naik level menjadi institut. Menurutnya, visi sebesar itu tidak bisa ditempuh dengan langkah kecil. Kampus butuh orang-orang besar yang siap bekerja lebih keras dari sekadar membuat laporan borang.
Dalam paparannya, Prof Nizar membagikan empat ‘jurus sakti’ agar STAIMAS lompat kelas: Memperkuat mutu akademik dan memperbaiki akreditasi kampus serta prodi, mengembangkan riset unggulan yang betul-betul berbasis pemberdayaan masyarakat, sesuai semangat visi kampus, meningkatkan layanan akademik dan non-akademik agar makin profesional dan tidak lagi memusingkan mahasiswa, dan membangun jejaring internasional, karena kampus besar itu pikirannya global, bukan hanya tingkat kecamatan.
Prof Nizar bahkan membuka pintu lebih lebar. Kalau butuh jaringan luar negeri, dia siap bantu. Tinggal kampusnya konsisten, mau bekerja, dan tidak patah semangat di tengah jalan.


