Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – “Mbak, ngopi yuk…” ada teman kerja yang ngajak.
“Sudah secangkir barusan. Lagian, saya sedang ngurangi kafein,” saya jawab.
“Halah, masih secangkir. Aku beliin kopi rendah kafein.”
“Terima kasih, deh. Saya mau jaga otak dari kafein.”
“Memang kenapa?”
“Kafein bisa memengaruhi ‘kekritisan’ otak!”
…………..
Pembaca yang budiman, kopi umumnya dapat membantu kita tetap terjaga. Namun, apa yang dilakukan kafein terhadap otak saat kita tertidur? Nah, saya mendapat wacana baru dari penelitian yang diterbitkan di Nature Communications Biology edisi April.
Penelitian ini dilakukan di Université de Montréal (UdeM) di Kanada. Penelitinya Philipp Thölke peserta pelatihan di Laboratorium Neurosains Kognitif dan Komputasional UdeM (Lab CoCo), dan profesor psikologi Karim Jerbi direktur LabCoco yang juga peneliti di Mila — Institut AI Quebec. Mereka bekerja sama dengan pakar psikologi tidur dan penuaan Profesor Julie Carrier dan timnya di Pusat Penelitian Lanjutan dalam Kedokteran Tidur UdeM. Para ilmuwan menggunakan kecerdasan buatan (AI) dan elektroensefalografi (EEG) untuk mempelajari efek kafein pada tidur.
Kafein ini tidak hanya ditemukan dalam kopi, tetapi juga dalam teh, cokelat, minuman berenergi, dan banyak jenis minuman ringan. Kafein menjadikan salah satu zat psikoaktif yang paling banyak dikonsumsi di dunia.
Penelitian di Kanada ini kalinya mengungkap, kafein dapat mengubah pola tidur dan memengaruhi pemulihan otak secara fisik maupun kognitif dalam semalam. Untuk pertama kalinya, mereka menemukan bahwa kafein meningkatkan kompleksitas sinyal otak dan meningkatkan ‘kekritisan’ otak selama tidur.
Kekritisan adalah keadaan seimbang antara keteraturan dan kekacauan di otak. Ibarat orkestra: ada kondisi terlalu tenang dan tidak ada yang terjadi, ada juga kondisi terlalu kacau dan hiruk-pikuk. Kekritisan adalah media yang tepat saat aktivitas otak terorganisasi dan fleksibel. Dalam keadaan ini, otak berfungsi optimal: dapat memproses informasi secara efisien, beradaptasi dengan cepat, belajar, dan membuat keputusan dengan gesit. Kafein menstimulasi otak dan mendorongnya ke dalam kondisi kritis. Otak jadi lebih terjaga, waspada, dan reaktif.
Bagus, kan? Ya, relatif bagus dan berguna untuk konsentrasi di siang hari. Tapi, kondisi ini dapat mengganggu aktivitas istirahat di malam hari. Terpengaruh kafein, otak tidak akan bisa rileks saat tidur sehingga tidak juga bisa pulih dengan baik saat bangun.
Kesimpulan ini didapat saat tim Prof Carrier pada malam hari merekam aktivitas otak 40 orang dewasa sehat menggunakan EEG. Mereka membandingkan aktivitas otak setiap peserta penelitian pada dua malam terpisah; satu malam ketika mereka mengonsumsi kapsul kafein tiga jam dan satu jam sebelum tidur, dan malam lainnya ketika mereka mengonsumsi plasebo pada waktu yang sama.
“Kami menggunakan analisis statistik tingkat lanjut dan AI untuk mengidentifikasi perubahan halus dalam aktivitas neuron. Hasil penelitian menunjukkan, kafein meningkatkan kompleksitas sinyal otak. Ini mencerminkan aktivitas neuron yang lebih dinamis dan kurang dapat diprediksi. Terutama selama fase tidur non-rapid eye movement (NREM) yang penting untuk konsolidasi memori dan pemulihan kognitif,” kata Thölke.
Para peneliti juga menemukan perubahan mencolok dalam ritme listrik otak selama tidur. Kafein ternyata melemahkan osilasi yang lebih lambat seperti gelombang theta dan alfa –yang umumnya dikaitkan dengan tidur nyenyak dan pemulihan. Kafein juga menstimulasi aktivitas gelombang beta, yang lebih umum terjadi selama kondisi terjaga dan dalam keterlibatan mental.
Di bawah pengaruh kafein, otak selama tidur tetap dalam keadaan lebih aktif dan kurang pemulihan. Perubahan dalam aktivitas ritme otak ini dapat membantu menjelaskan mengapa kafein memengaruhi efisiensi pemulihan otak di malam hari, dengan konsekuensi potensial terhadap pemrosesan memori.


