Waspadai Pandemi Sunyi Hikikomori di Masa Kini

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Kuartal terakhir 2023, ada kejadian menyedihkan di suatu perumahan di Cinere, Depok. Masyarakat menemukan jasad seorang ibu usia 68 tahun dan anaknya usia 38 tahun. Jasad mereka ditemukan di kamar mandi dalam kondisi hancur karena sudah lama. Berdasarkan catatan mereka, buku-buku bacaan, dan konsumsi keseharian serta kesaksian tetangga, disimpulkan mereka bunuh diri di ruang sempit dengan aroma bakaran dupa. Sebelumnya, mereka kehilangan sang ayah yang meninggal lebih dulu. Mereka lalu menarik diri dari lingkungan, memutus kontak sosial, kurang merawat diri, dan memiliki emosi negatif. Bahkan, si anak mengidap skizoid. Menurut Ketua Asosiasi Psikologi Forensik, Nathanael Elnadus Sumampouw, metode bunuh diri keduanya bukan hal baru karena peristiwa serupa terjadi di Jepang.

Di Jepang, ada istilah hikikomori. Secara harfiah, ‘hiki’ berarti ‘menarik diri’ dan ‘komori’ artinya ‘ke dalam’. Ini mengacu pada fenomena saat seseorang menarik diri secara ekstrim dari interaksi sosial dan menghabiskan sebagian besar waktu di dalam rumah atau kamar mereka sendiri. Sering kali untuk jangka waktu lama, sedikitnya enam bulan. Ia mengisolasi diri dari dunia luar, termasuk tidak mau bertemu teman, keluarga, dan melakukan aktivitas sosial. Akibatnya, ia bisa saja jadi tidak tertarik pada sebagian besar aktivitas, bahkan putus sekolah atau berhenti bekerja, untuk tinggal di rumah. Ia bergantung pada keluarga tanpa rencana untuk mau mandiri. Cuma mau baca buku, main game, mengurung diri di kamar sendirian, dan sejenisnya. Ia bisa saja jadi depresi, cemas berlebihan, dan kemudian bunuh diri.

Berdasarkan penelitian, hikikomori dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk:

  • kondisi kejiwaan
  • ciri-ciri kepribadian maladaptif
  • dinamika dalam keluarga yang merugikan, termasuk pola asuh yang merugikan
  • pengalaman berteman yang negatif
  • tekanan masyarakat
  • penggunaan internet dan media digital secara berlebihan

Survei kementerian pada tahun 2022, ada 1,46 juta orang yang mengisolasi diri di Jepang dalam kelompok usia 15-64 tahun. Sebelumnya, survei pada 2019 menunjukkan 613.000 orang antara 40 dan 64 tahun juga termasuk dalam kategori ‘hikikomori dewasa’. Bahkan, survei juga menngungkap ‘fenomena 80-50’ saat orang berusia 80an mengasuh anak yang berusia 50an tahun.

Penelusuran lebih jauh, hikikomori juga terjadi pada anak-anak. Bukan hanya di Jepang, fenomena ini juga ditemukan di berbagai penjuru dunia. Diam-diam, sudah menjadi isu kesehatan mental dan sosial secara global atau menjadi global silent epidemic. Kasus hikikomori terjadi pada 0,87 % – 1,2 % penduduk di Jepang, 6,6 % di Cina, 1,9 % di Hongkong, 2,3 % di Korea Selatan, 20,9 % in Singapura, 9,5 % di Nigeria, 2,7 % di Amerika Serikat, 9% di Taiwan. Tentu di Eropa juga ada. Bisa jadi, kasus di Cinere bisa dianggap sebagai salah satu potret hikikomori di Indonesia.

Penelitian mendalam di Jepang mengungkap, penyebab hikikomori antara lain;

  • Keputusasan

Peserta penelitian mengaku merasa tidak kompeten dalam dunia yang penuh tantangan. Banyak yang merasa trauma dengan pengalaman masa lalu dan menyatakan keraguan dalam menghadapi tantangan dunia nyata di masa depan.

  • Kelelahan dalam hubungan.

Punya pengalaman negatif dengan orang lain yang timbul di sekolah, tempat kerja, atau rumah. Beberapa peserta menyatakan, kesepian tidak terlalu menyakitkan bagi mereka dibandingkan berurusan dengan orang lain.

  • Keniscayaan dan ketakutan.

“Saya orang yang lemah. Saya hanya bisa bersembunyi di kegelapan,” kata salah satu peserta penelitian. Beberapa peserta penelitian merasa tidak punya alternatif menghadapi hidup dan tidak punya pandangan lain selain hikikomori adalah hal yang tak terhindarkan. Ini membebani hidup mereka, tak mampu bgerjuang hidup dengan rendahnya harga diri, kepercayaan diri, dan interaksi kehidupan nyata.

Terus, bagaimana mengembalikan kondisi seseorang yang terjangkit hikikomori? Bagaimana membuat ia kembali mengintegrasikan diri ke keluarga dan masyarakat?

Banyak kasus hikikomori yang resisten terhadap pengobatan. Namun, para pakar tetap bisa melihat titik teras dari masalah ini. Faktanya, banyak individu hikikomori yang masih tinggal bersama keluarga. Maka, perjalanan penyembuhan dapat dimulai dari dalam rumah, lalu lewat pihak luar.

  • Dukungan keluarga.

Orang tua pelaku hikikomori dapat mengambil langkah proaktif. Jika anak punya masalah lalu mengurung diri, jangan langsung tegur anak atau memberi perintah. Coba selidiki dulu akar permasalahannya, lalu sabarlah mendorong anak untuk memulai percakapan atau mengambil tindakan. Jika sempat, libatkan anak dan keluarga dalam terapi keluarga.

  • Mulai dari yang kecil.

Untuk membuat pelaku hikikomori kembali percaya diri dan lepas dari depresi, mulailah terapi dengan aktivitas kecil yang bisa dilakukan. Misalnya, ajak dia meninggalkan kamar minimal sekali dalam sehari. Ajak berjalan-jalan pagi saat belum banyak orang di luar, lalu ajak mengunjungi toko terdekat, atau ajak menyapa seseorang. Kemudian, tingkatkan level interaksi sosial secara bertahap hingga akhirnya muncul perubahan lebih besar seiring berjalannya waktu.

  • Dukungan kesehatan mental.

Komunitas online dan offline dapat memberi dukungan berharga bagi individu yang menghadapi situasi sulit sendirian. Terapis dapat memainkan peran penting dalam membantu korban mengatasi dan menavigasi perjuangan lepas dari hikikomori, juga dapat memberikan bimbingan penuh kasih untuk membantu proses pemulihan.

 

Facebook Comments

Comments are closed.