Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – “Mbak, saya kesel banget pada Fulania,” seorang teman memulai curhatnya.
“Mengapa? Ada apa?” saya menggali informasi.
“Nggak tahu kenapa ya dia koq terus-menerus berbohong? Sepertinya sudah jadi kebiasaan. Seolah dia nggak punya rasa takut atau cemas untuk bohong. Padahal, saya capek dengar ceritanya yang tidak masuk akal.”
“Yakin dia begitu?”
“Ya! Dia menyampaikannya dengan begitu percaya diri, seolah-olah itu kenyataan.”
………….
Pembaca yang budiman, dalam banyak hal, berbohong itu tindakan yang tidak benar dan tidak baik. Kebohongan itu, dalam kebanyakan kasus, melanggar norma-norma agama, sosial, menganggu hubungan personal, dan sejenisnya. Bahkan, berbohong bisa kena ancaman hukum pidana.
Nah, untuk kasus Fulania, sepertinya ia mengalami mythomania. Ia memiliki kecenderungan atau kebiasaan berbohong secara kronis. Ia melontarkan pernyataan atau cerita yang menyesatkan atau yang tidak benar terus-menerus tanpa rasa bersalah atau penyesalan. Ia sulit membedakan antara kenyataan dan khayalan.
Mengapa orang bisa mengalami mythomania? Saya tidak bisa memastikan, karena penyebab pastinya belum sepenuhnya dipahami para ahli.
Bisa saja, pengalaman traumatis atau emosional berat pada masa lalu dapat menjadi salah satu pemicu. Berbohong mungkin menjadi cara seseorang untuk mengatasi atau melarikan diri dari kondisi emosi yang menyakitkan itu. Semakin dihadapkan pada kondisi emosional tertentu, semakin banyak ia melakukan kebohongan.
Mythomania juga sering terjadi bersamaan dengan gangguan mental lainnya, seperti saat terjadi gangguan kepribadian, depresi, kecemasan, atau gangguan bipolar. Kondisi-kondisi ini bisa memperburuk kecenderungan berbohong secara kronis.
Orang yang merasa kurang percaya diri mungkin saja menciptakan cerita-cerita palsu untuk meningkatkan harga diri atau menciptakan gambaran yang lebih baik tentang dirinya sendiri.
Ada juga orang yang menggunakan kebohongan sebagai cara untuk mendapatkan perhatian atau pengakuan dari orang lain. Ia merasa cerita-cerita dramatis atau fantastis bisa membuat dirinya lebih menarik atau berharga di mata orang lain.
Selain itu, orang yang sulit berinteraksi sosial atau yang sulit membina hubungan positif dengan orang lain kadang menggunakan kebohongan sebagai cara untuk mencapai hubungan yang dia inginkan atau untuk menghindari konflik dengan orang lain.
Bisa juga, mythomania disebabkan model perilaku. Karena sering melihat berita politik, seseorang lama-kelamaan punya keyakinan bahwa berbohong itu wajar. Saat orang-orang terdekat biasa menggunakan kebohongan sebagai strategi mengatasi masalah, ia dapat terpengruh meniru strategi itu.
Seiring berjalannya waktu, seseorang dengan mythomania dapat menjadi tergantung pada kebohongan sebagai cara untuk mengelola emosi atau situasi. Ini dapat menciptakan lingkaran setan saat mana kebohongan terus berlanjut dan semakin rumit.
Dalam kondisi begini, seseorang yang mythomania bisa merasa kebingungan tentang kenyataan dan khayalan atau sulit membedakan antara fakta dan fiksi dalam pikirannya sendiri. Atau, sulit menerima realitas atau keadaan sebenarnya sehingga ia merasa perlu untuk menciptakan cerita-cerita palsu.
Meski secara fisik tidak menunjukkan rasa bersalah atas kebohongannya, ia mungkin saja merasa bersalah atau menyesal secara batiniah. Masalahnya, kadang ia sulit mengungkapkan atau menghadapi perasaan ini dengan cara yang sehat. Tak heran jika ada yang stress karena kesulitan menjaga kebohongan yang berkelanjutan.
Pendeknya, mythomania adalah kondisi psikologis yang kompleks dan dapat memiliki dampak signifikan pada individu yang mengalaminya. Tak heran jika mengatasi mythomania adalah proses yang menantang.
Jika kebetulan Anda berhubungan dengan orang yang mythomania, tentu Anda harus bijak. Penting untuk menjaga batasan dalam berhubungan dengan orang yang mengalami mythomania. Antara lain; jaga diri dan jangan mau terlibat dalam kebohongan dia. Jangan memberi perhatian berlebihan terhadap cerita-cerita palsu yang dia buat.
Meski kebohongan itu bisa mengecewakan atau menjengkelkan, cobalah Anda pahami mengapa dia sampai mythomania. Bisa jadi, itu mekanisme koping yang dia gunakan untuk mengatasi stres atau emosi kuat dalam dirinya. Dengan memahami perasaannya, Anda bisa lebih berempati padanya.
Tapi, tetaplah jujur saat berkomunikasi dengannya. Boleh memahami perasaan, tapi jangan memberikan dukungan atau validasi atas kebohongan dia. Cobalah berkomunikasi dengan jujur dan terbuka tentang perasaan Anda terhadap kebohongannya. Ajukan pertanyaan bermakna untuk menggiring dia merenungkan dampak kebohongannya. Ini dapat membantu dia mempertimbangkan kebenaran dari cerita-ceritanya.
Yang tak kalah penting, jaga kesehatan mental Anda sendiri. Berinteraksi dengan orang yang mythomania kadang sangat menantang secara emosional. Namun, jangan terbawa terlalu dalam. Santai saja.


