Sedang Depresi? Hmmm, Terapi Cium Saja

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – “Eh, apa bener terapi cium?”

“Iya, bener.”

“Cium siapa?”

“Enak aja!  Kau bisa tambah depresi kalau salah cium orang!”

………….

Pembaca yang budiman, indera penciuman punya banyak sekali manfaat bagi kesejahteraan mental kita. Mencium bau-baru tertentu bisa memicu respons emosional, seperti rasa nyaman, nostalgia, atau ketenangan. Bau tertentu juga dapat merangsang pelepasan hormon-hormon yang membuat kita merasa bahagia. Juga dapat merangsang sistem saraf parasimpatis yang memengaruhi relaksasi dan peredaan stres. Maka, terapi mencium aroma tertentu bisa efektif membantu mengurangi gejala depresi dan kecemasan.

Banyak bukti ilmiah yang mendukung hal ini. Salah satunya, temuan tim peneliti Fakultas Kedokteran, Universitas Pittsburgh, di Amerika Serikat. Mencium aroma yang familier dapat membantu individu depresi mengingat kenangan otobiografis tertentu dan berpotensi membantu pemulihan depresi.

Aroma lebih efektif daripada kata-kata dalam membangkitkan ingatan akan peristiwa tertentu. Bau-bauan dapat digunakan dalam lingkungan klinis untuk membantu individu depresi keluar dari siklus pikiran negatif, mengubah pola pikirnya jadi lebih positif, sehingga membantu penyembuhan lebih cepat dan lancar.

Dr Kymberly Young, peneliti ilmu saraf yang mempelajari ingatan otobiografi, dibantu timnya melakukan eksperimen terhadap amigdala (bagian otak yang tidak hanya mengontrol respons ‘melawan atau melarikan diri’ tetapi juga mengarahkan perhatian dan fokus pada peristiwa penting).

Eksperimen melibatkan peserta penelitian yang sedang mengalami masalah depresi.

Dalam eksperimen, tim peneliti memberi peserta penelitian serangkaian botol kaca buram berisi aroma kuat yang familiar. Mulai dari uap bau jeruk, kopi bubuk, semir sepatu, bahkan Vicks VapoRub. Setelah meminta peserta mencium isi botol, Young meminta mereka mengingat kenangan apa saja tidak peduli yang baik atau yang buruk.

Young terkejut saat mengetahui daya ingat lebih kuat muncul pada individu yang menerima isyarat lewat bau dibandingkan isyarat dengan kata. Peserta yang menerima isyarat dari bau lebih mungkin mengingat kenangan akan peristiwa tertentu (misalnya, mereka pergi ke kedai kopi Jumat lalu) dibandingkan kenangan umum (bahwa mereka pernah ke kedai kopi). Kenangan yang dipicu oleh bau juga jauh lebih jelas dan terasa lebih mendalam dan nyata.

Yang menarik, meski Dr Young tidak mengarahkan peserta untuk secara khusus mengingat kenangan positif, hasilnya menunjukkan bahwa peserta lebih cenderung mengingat peristiwa positif daripada peristiwa yang memicu depresi.

Tim peneliti menarik kesimpulan, rangsangan aroma bisa membantu memicu amigdala orang depresi dengan lebih efektif daripada rangsangan berupa kata-kata. “Jika bisa meningkatkan daya ingat, kita dapat meningkatkan pemecahan masalah, pengaturan emosi, dan masalah fungsional lain yang sering dialami individu depresi,” kata Young.

Facebook Comments

Comments are closed.