Sholat: Geraknya di Bumi, Suaranya Menggema di Langit

Oleh: Budi Winarto

mepnews.id – Sholat adalah perintah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw dengan tanpa perantara. Perintah selain sholat turunnya bisa melalui malaikat Jibril. Begitu mulia kewajiban sholat ini sampai-sampai Allah Swt memilih kekasih-Nya untuk menghadap secara langsung.

Sejarah peristiwa Isra Mi’raj menggambarkan diperjalankannya Nabi Muhammad Saw dari Masjidil Haram di Mekkah hingga Masjidil Aqsha di Palestina dan terus naik menghadap Tuhan hingga sampai batas terjauh yang bisa dicapai makhluk yaitu Sidratul Muntaha.

Hal ini sesuai dengan surat Al-Isra ayat 1 yang artinya, “Maha suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad Saw) pada malam hari dari Masjidil haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Sholat Amalan Istimewa

Perintah Allah yang paling istimewa dari ibadah-ibadah lain adalah sholat. Hal ini disebabkan sholat adalah bentuk ibadah yang amalnya pertama kali dihisab dan dipertangungjawabkan di hadapan Tuhannya sebelum amalan-amalan lainnya. Sholat bisa menjadi barometer bagi seorang muslim akan ketaqwaanya terhadap Tuhannya.

Hal ini sesuai dengan hadist riwayat Thabrani, disahihkan oleh syaikh Albani, yang artinya, “Amal ibadah pertama yang akan dihisab oleh Allah pada hari kiamat adalah sholatnya. Jika sholatnya baik, maka baiklah seluruh amalannya yang lain. Jika sholatnya rusak, maka rusaklah seluruh amalannya yang lain.”

Diterima atau tidaknya sholat, hanya Allah lah yang tahu. Kita tidak bisa mengukur dan memberikan penilaian atas sholat itu, karena semuanya hak prerogatif Allah Swt. Kita hanya berkewajiban menjalankan dengan cara dan niat yang benar, sesuai dengan kemampuan yang kita pahami. Selebihnya, serahkan pada Allah.

Apa dampak sholat bagi manusia?

Setidaknya, sholat merupakan ritual yang mengandung tiga konsep, yaitu pengalaman spiritual, memiliki value (nilai), menjaga emosi positif.

Sebagai pengalaman spiritual dari konsepsi pertama, Nabi Muhammad Saw diperjalankan dari bumi ke langit untuk betemu dengan Allah Swt.

Tentu ada pengalaman luar biasa yang Nabi dapatkan. Perjalanan yang tidak mungkin dilakukan manusia biasa, dan pendekatannya pun hanya bisa didekati dengan pendekatan spiritual, bukan logika.

Isra merupakan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsho yang jaraknya kurang lebih 1500 km. Miraj artinya bergerak ke langit ke tujuh (Sidratul Muntaha) yang jaraknya trilyunan kilo meter dari jarak bumi. Jika disederhanakan, Isra adalah perjalanan horizontal, sedang Miraj adalah perjalanan vertikal.

Saat Miraj, selain Nabi Muhammad dipertemukan 8 nabi, mulai dari Nabi Adam sampai Ibrahim, puncaknya Nabi menerima perintah sholat lima waktu. Selain itu, Nabi Muhammad juga ditunjukkan semua rahasia dari yang menjadi rahasia. Mulai dari surga dengan segala kenikmatannya, neraka dengan segala siksanya, dan bagaimana siksa kubur yang mengerikan terjadi. Begitulah perjalan spiritual saat nabi menerima perintah sholat.

Kosepsi kedua, orang yang menunaikan sholat adalah memiliki value (nilai). Hal ini dikarenakan kewajiban sholat tidak akan pernah dirasakan oleh mereka yang tidak menunaikan.

Bagaimana bertakbiratul ihram dengan mengangkat tangan lalu mengagungkan nama Tuhan dengan takbir. Gerak dan bacaan ini merupakan simbol atau isyarat untuk memohon ampun dari segala dosa dan kesalahan manusia yang lemah kepada Allah Swt yang Maha Besar. Belum lagi rukuk’, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan diakhiri salam.

Semua gerakan ini pasti mengandung nilai, baik secara empiris berupa kesehatan, kecerdasan, psikologi atau yang lain, maupun nilai transendennya.

Manusia hidup tentu dengan berbagai orientasi, ada yang orientasinya digerakkan oleh perut (masalah ekonomi), ada yang digerakkan oleh syahwat/seksual, ada pula yang digerakkan oleh Allah Swt. Maka beruntung bagi manusia yang memiliki nilai dari dampak sholatnya. Gerak nilai orang tersebut akan sebanding lurus dengan yang menggerakkan (Allah Swt).

Seseorang yang menjaga hubungan dengan Allah (Hablum Minallah) maka nilai geraknya bisa dipertemukan dengan penciptanya; berkomunikasi, berkeluh kesah dengan doa yang dipanjatkan, baik saat sholat maupun dengan berdzikir setelahnya.

Sedangkan seseorang yang menjaga hubungan dengan sesama manusia (Hablum Minannas), nilainya akan menjadikan orang tersebut pribadi yang memiliki kesadaran di mana mereka hidup tidak sendiri, memerlukan dan diperlukan orang lain, yang ending-nya saling memberikan kemanfaatan.

Jadi, sholat tidak sekadar ritual, tetapi harus membawa dampak perubahan diri dan kemanfaatan bagi orang lain sebagai value (nilainya).

Konsepsi ketiga dari sholat adalah bisa menjaga emosi positif. Esensi sholat adalah bagaimana orang yang menuaikan bisa mencegah perbuatan keji dan munkar. Keji adalah perbuatan yang melanggar susila, sedangkan munkar ialah perbuatan buruk atau tindak kejahatan yang menyalahi syariat dan sosial.

Menunaikan sholat dengan sesungguhnya akan menjadikan diri terjaga dari menghalalkan segala cara. Dunia dan akhirat itu bagaikan sisi mata uang. Dua-duanya penting. Dunia itu wilayah amal di mana kita bisa mengumpulkan kebaikan (amal salih). Sedangkan akhirat berhubungan dengan hisab (perhitungan).

Bagi yang bisa menjaga emosi positif, ia akan bergerak mencari sesuatu yang paling berharga bagi dirinya, baik yang berkaitan dengan pemenuhan ekonomi, seksualitas maupun yang lain. Mereka akan saling berebut untuk beramal salih (berbuat baik) di dalam kehidupan.

Kehidupan yang selalu berorientasi pada amal salih akan menjadikan akhirat bukanlah tujuan akhir, melainkan amal salih lah yang menjadi pihan pertama untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat.

Dampak lain dari menunaikan sholat adalah menjadikan emosi seseorang lebih stabil dan meningkatkan kecerdasan. Hal ini dikarenakan bacaan dari surat yang dibaca, gerakan yang dilakukan, semua akan memberikan efek tenang dan rileksasi pada tubuh, termasuk otak.

Salah satu contohnya saat sujud. Ketika posisi kepala lebih rendah daripada jantung, aliran darah ke otak lebih lancar. Ini menyebakan daya ingat, konsentrasi dan fungsi kognitif (fungsi komplek pada otak manusia yang melibatkan aspek memori, perencanaan dan nalar serta strategi dalam berfikir dari seseorang) meningkat.

Jadi, sholat bisa menjadikan seseorang lebih tenang hatinya, lebih bersih ruhnya, dan seimbang jiwanya. Itulah mengapa saat melakukan sholat emosi positif kita akan terjaga.

Wallohu a’lam bishawab

 

 

 

Facebook Comments

Website Comments

POST A COMMENT.