Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Diskusi empat kawan pada Februari ini diwarnai suasana sendu. Salah satunya oleh curhatan teman yang rasan-rasan soal ‘broken heart.’
“Patah hati itu bisa terjadi karena berbagai keadaan,” kata Fanti memberi ceramah. “Bisa berupa putusnya hubungan romantis, pengkhianatan teman baik, hingga pengalaman traumatis dan tak terduga. Yang jelas, kondisi mental seperti itu bisa mengguncang alam sadar kita.”
Saya menimpali, “Ya. Tekanan emosional dan psikologis akibat pengalaman seperti ini dapat disamakan dengan tekanan fisiologis dan bisa dilihat secara kasat mata.”
“Kenapa bisa begitu, Mbak?” tanya Mirza pada saya.
“Ketika kita mengalami tekanan berat secara psikologis atau emosional, tentu ini memicu reaksi di dalam otak kita. Nah, bagian otak yang merespons tekanan psikologis itu sama dengan bagian otak yang merespons bahaya fisik dan rasa sakit fisik. Jadi, sakit emosional bisa dirasakan secara fisik. Begitu juga dengan patah hati. Meski muasalnya emosional, tapi itu juga menyebabkan rasa sakit fisik. Tergantung orangnya. Ada yang merasakan gangguan pencernaan seperti sakit perut dan mual. Ada juga yang tubuhnya bergetar dan berkeringat dingin. Ada yang susah ngomong.”
Fanti menimpali, “Betul itu. Kadang, pengaruh begitu kuat sehingga mempengaruhi sistem pernapasan dan membuat kita kesulitan untuk mengatur napas atau menahan napas. Sistem saraf juga bisa membuat lutut kita mendadak lemas, mati rasa. Sistem peredaran darah juga dapat terpengaruh. Tekanan darah meningkat, jantung berdebar kencang. Dalam kondisi ekstrem parah, jantung benar-benar ‘out‘.”
“Ih, ngeri. Patah hati bisa bikin mati…!” celetuk Gina.
Untuk menenangkan Gina, saya menjelaskan, “Ya, itu jarang terjadi. Meski jarang, tapi ‘sindrom patah hati’ itu ada. Dalam dunia medis, biasanya disebut ‘kardiomiopati takotsubo’ atau ‘kardiomiopati stres’. Ini respons fisiologis terhadap berbagai bentuk trauma, termasuk patah hati, kehilangan orang yang dicintai, atau pemicu stres signifikan lainnya. Gejalanya seperti serangan jantung biasa, termasuk nyeri dada yang menusuk-nusuk. Bedanya, arterinya normal alias tidak tersumbat.”
“Oh, begitu,” kata Mirza. “Jadi, kita sebagai kaum wanita bisa lebih waspada.”
“Nggak cuma wanita. Kaum pria juga bisa mengalami stres kardiomiopati. Namun, menurut penelitian, kaum wanita memiliki kondisi yang lebih baik dibandingkan laki-laki. Tingkat kematian wanita karena stres kardiomiopati lebih rendah dibandingkan pria. Bisa jadi, itu karena kaum pria cenderung mengalami banyak komplikasi atau masalah mendasar. Bisa juga kaum pria cenderung tidak mencari pengobatan saat mengalami gejala sindrom patah hati,” saya menjelaskan.
“Baiklah, kalau begitu,” kata Mirza. “Yang lebih penting, apa yang membantu kita sembuh andai kena patah hati parah?”
“Belum ada pengobatan khusus untuk menyembuhkan sindrom patah hati. Obat paling utama adalah pasrahkan diri dan semua persoalan pada Tuhan. Ketika hati kita sudah betul-betul patah, yang paling berkuasa memperbaikinya adalah diri kita sendiri lewat pertolongan Tuhan,” ujar saya.
Fanti kembali menjelaskan, “Tidak ada jalan mudah untuk menyembuhkan patah hati akibat trauma, putus cinta, atau pengkhianatan. Jika terlanjur kena kardiomiopati takotsubo, kita perlu meluangkan waktu untuk menyayangi diri sendiri. Berikan ruang dan waktu untuk memperhatikan hidup kita sendiri. Fokus pada kesejahteraan diri sendiri saat ini, lepas saja keterikatan pada masa lalu yang menyedihkan atau kekhawatiran masa depan yang tidak menyenangkan. Makan makanan sehat yang mendukung kesejahteraan psikologis dan mengurangi depresi. Luangkan waktu bersama orang-orang yang bisa menerima kita apa adanya. Jangan biarkan diri menghabiskan terlalu banyak waktu untuk menjauhi dunia. Yang tak kalah penting, jangan sekali pun memikirkan balas dendam. Ingat, satu-satunya orang yang tersakiti oleh fantasi balas dendam adalah orang yang membiarkan dirinya terus terseret oleh masa lalu.”


