Segitiga Cinta Itu Menarik, Sungguh!

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Ketika mengalami ‘cinta segitiga’, wah bisa serasa malapetaka. Saat hubungan cinta antara dua orang tiba-tiba disisipi orang ketiga, maka itu rasanya entah bagaimana.

Tapi, yang saya ingin bahas di sini bukan itu. Saya justru ingin membahas teori ‘segitiga cinta’ untuk menilai secara sistematis kekuatan dan kelemahan hubungan Anda. Dalam psikologi, ada begitu banyak teori tentang cinta, namun saya pilih teori ini karena memiliki nilai cukup besar.

Pada 1988, Robert Sternberg dari Cornell University berteori bahwa cinta dapat diukur berdasarkan tiga dimensi independen; keintiman, komitmen, dan gairah. Teori ‘segitiga cinta’ ini muncul setelah riset pemikiran beberapa dekade, bahkan berabad-abad, tentang bagaimana mendefinisikan kualitas cinta.

Yang dimaksud keintiman adalah kualitas hubungan saat mana pasangan merasa dekat satu sama lain, mampu berkomunikasi, dan merasa saling terhubung. Gairah berarti perasaan gembira, hasrat, dan gairah fisik. Komitmen merujuk pada keputusan untuk tetap menjalin hubungan.

Sternberg pada 1997 kemudian mengukur tiga dimensi itu dalam kuesioner yang terdiri dari 45 item. Namun, pada 2023, dia dan tim peneliti yang dipimpin Marta Kowal dari Universitas Wroklaw menilai tes 45 item itu terlalu panjang dan rumit bagi kebanyakan orang.

Skala segitiga cinta (TLS), demikian sebutannya, sebenarnya telah diuji dan divalidasi di 25 negara dan 19 bahasa. Namun, skala ini memiliki kelemahan. Sebagian besar pengguna tidak melakukan pengukuran secara keseluruhan sehingga mustahil mendapatkan kesimpulan berdasarkan data. Dari sudut pandang praktis, sulit juga mengolah begitu banyak item menjadi saran praktis yang dapat digunakan orang untuk meningkatkan hubungan mereka.

Nah, studi terbaru menggunakan versi singkat TLS hanya dengan 15 item. Yang diukur sebagai berikut;

Keintiman

  1. Saya mempunyai hubungan yang hangat dengan pasangan saya
  2. Saya menerima banyak dukungan emosional dari pasangan saya
  3. Saya sangat menghargai pasangan saya dalam hidup saya
  4. Saya mempunyai hubungan yang nyaman dengan pasangan saya
  5. Saya merasa pasangan saya sangat memahami saya

Gairah

  1. Hubungan saya dengan pasangan saya sangat romantis
  2. Saya menganggap pasangan saya sangat menarik secara pribadi
  3. Saya tidak dapat membayangkan orang lain membuat saya bahagia seperti pasangan saya
  4. Ada sesuatu yang hampir ‘ajaib’ dalam hubungan saya dengan pasangan saya
  5. Hubungan saya dengan pasangan saya penuh gairah

Komitmen

  1. Saya yakin dengan kestabilan hubungan saya dengan pasangan
  2. Saya memandang komitmen saya terhadap pasangan saya sebagai komitmen yang kuat
  3. Saya yakin akan cinta saya pada pasangan saya
  4. Saya menganggap hubungan saya dengan pasangan saya bersifat permanen
  5. Saya merasakan tanggung jawab terhadap pasangan saya.

Sekarang, Anda dapat menguji diri Anda sendiri. Boleh juga sekalian menguji pasangan Anda. Silakan beri skor untuk setiap item itu menggunakan skala 1 (tidak sama sekali) hingga 5 (sangat)

Bagaimana skornya?

Dalam sampel internasional, rata-rata peserta mendapat skor keseluruhan 4. Gairah (rata-rata 3,78) mendapat skor terendah. Keintiman dan komitmen rata-rata sama (4,22). Tidak ada perbedaan lintas budaya, baik dalam skor rata-rata maupun struktur skala.

Dengan 15 item ini, Anda dapat menguji versi Anda sendiri dalam menilai kekuatan dan kelemahan hubungan. Perlu diingat, cinta itu dinamis sehingga tidak selalu ada skor mutlak rata-rata 5. Masing-masing item skornya bisa naik atau turun.

Bagaimana skor Anda? (Bagaimana skor pasangan Anda?) Bila sudah tahuskornya, apa yang Anda dapat lakukan untuk mewujudkan kualitas yang akan menjaga hubungan bertahan selama bertahun-tahun? Jika Anda membandingkan skor Anda dengan skor pasangan, perbedaan dan persamaan apa yang Anda temukan? Bagaimana cara menyeimbangkannya?

Nah, ini sungguh menarik.

Facebook Comments

Comments are closed.