Umumnya Evolusi Pernikahan Melintasi 6 Tahap Berikut Ini

Oleh: Esti D. Purwtasari

mepnews.id – “Te, menikah itu enak kah?” begitu pertanyaan seorang kemenakan yang masih remaja.

“Ya enak, dong. Asal kita menjalaninya dengan ikhlas karena Allah, memegang komitmen jangka panjang, dan siap saling beradaptasi untuk menerima kelebihan dan kekurangan pasangan,” saya mencoba memberi gambaran umum.

“Kalau enak, tapi koq ada artis yang tiba-tiba cerai?” dia tanya lagi.

“Tapi, kan ada juga pasangan artis yang diberitakan ribut melulu tapi nggak cerai-cerai?”

………..

Pembaca yang budiman, debat soal dinamika berpasangan bisa sangat panjang dan mungkin baru berakhir keesokan harinya. Maka itu, saya tidak menuliskan debat saya dengan kemenakan, tapi menulis tentang tahapan-tahapan yang umumnya dilalui oleh orang-orang yang hidup berpasangan.

Coba deh tanya kepada siapa saja yang sudah menikah dan berhasil menjalin hubungan jangka panjang. Kalau orangnya terbuka, pasti dia mengungkapkan gambaran perjalanan yang panjang dan berliku. Ibarat jalan, kadang ada bagian yang mulusnya persis jalan tol yang baru diresmikan, kadang ada bagian yang banyak polisi tidur, ranjau paku, genangan air, side wind kencang, gerombolan begal, kelak-kelok curam, iring-iringan pengantar keranda, dan lain-lain. Kadang, keduanya nyetir ke arah yang sama. Lain waktu, yang satu mau belok kanan tapi satunya maksa belok kiri.

Kalau Anda bertanya pada orang-orang bijak atau pakar, jawaban umumnya adalah kondisi semacam itu biasa alias normal. Alasannya? Ya karena hubungan jangka panjang itu entitas yang dinamis. Setiap pasangan pasti menghadapi perubahan-perubahan saat menjalani rute kebersamaan.

Untuk menggambarkan ini, saya ingin kutip hipotesis Judith Waldman. Pakar psikologi klinis dari Hofstra University di Hempstead New York ini menggambarkan enam tahap rangkaian umum evolusi hubungan pernikahan.

  • Hubungan cinta.

Pada tahap awal ini, masing-masing pasangan menemukan kegembiraan dalam memenuhi kebutuhan pasangan. Ada harapan bahwa kebutuhan masing-masing pasangan akan terbalas. Pernikahan berfungsi memperkuat rasa cinta ini. Terlepas dari gangguan dan urusan hidup sehari-hari, pasangan mampu memperdalam rasa pemahaman satu sama lain.

  • Bulan madu berakhir.

Pada tahap ini, mulai terjadi pergeseran dinamis. Salah satu atau keduanya gagal memenuhi ekspektasi pasangan. Timbul kekecewaan dan rasa sakit hati. Keyakinan akan tanggung jawab atas kesejahteraan satu sama lain tetap ada, namun perilaku menjadi lebih manipulatif. Masih ada upaya untuk menyenangkan pasangan dengan tujuan memulihkan keadaan awal. Namun, cinta dan perhatian sudah tidak lagi tanpa syarat. Salah satu atau kedua pasangan mulai terombang-ambing antara bersikap kritis atau merasa sakit hati ketika hubungan tidak mencapai kondisi ideal.

  • Balas dendam.

Kekecewaan berubah menjadi kemarahan, yang berujung pada unjuk kekuasaan. Dalam kondisi ini, seringnya terjadi tindakan pembalasan. Mekanisme pertahanan terhadap kekecewaan yang berkelanjutan muncul karena ketidakmampuan mendapatkan kembali cinta seperti pada awal berhubungan. Sering muncul keributan soal kontrol tertentu, antara soal kendali uang, seks, atau waktu bersama. Dalam kasus ekstrim, perselingkuhan dapat terjadi sebagai cara untuk menyakiti hati pasangan. Ujungnya bisa ke arah perpisahan.

  • Bertahan.

Salah satu atau kedua pasangan, yang sudah lelah secara emosional dan menghadapi ancaman perpisahan, terpaksa mengalihkan perhatian ke aspek kehidupan lain daripada sekadar mengatasi konflik dengan pasangan. Meski cinta romantis makin berkurang, komitmen terhadap pernikahan tetap ada. Lalu, salah satu atau kedua pasangan berfokus pada kepentingan bersama demi kepentingan keluarga. Misalnya; membangun rumah, membesarkan anak, atau kemajuan pekerjaan. Meski kepuasan dalam hubungan menurun, tetap tumbuh hubungan positif saat pasangan berkolaborasi dalam usaha bersama melakukan sesuatu.

  • Melakukan urusan sendiri-sendiri.

Salah satu atau kedua pasangan mengharapkan pihak lain bisa memenuhi kebutuhan ketergantungan mereka, tapi kenyataannya tidak selalu bisa. Kesadaran ini mendorong peningkatan kemandirian dan kepercayaan diri ketika ia mencari kepuasan sendirian. Upaya mengejar kebahagiaan beralih; dari pasangan ke sumber eksternal. Ini menandai fase kebangkitan kembali gairah, tetapi juga pengakuan akan keterbatasan hubungan.

  • Tumbuh besar.

Tahap ini ditandai dengan penerimaan terhadap realitas. Masing-masing menyadari kondisi diri sendiri dan pasangannya, lalu sama-sama menggeser fokus ke kondisi yang sama-sama dihadapi di masa kini. Masing-masing mengembangkan kemandirian sambil menyadari perlunya mempertahankan identitas emosional yang sempat terpisah. Masing-masing bekerjasama demi hubungan yang lebih matang. Keduanya bisa menerima tanggung jawab atas kesenangan dan kesakitan masing-masing, serta peningkatan kemampuan untuk berhubungan dengan pasangan secara lebih utuh.

Yang perlu dicatat, apa yang digambarkan Waldman ini masih dalam tahap hipotesis berdasarkan penelitian dan observasinya. Belum level teori atau bahkan hukum. Tidak semua pasangan melewati persis enam tahapan evolusi itu. Kalau toh melewati, rincian kondisinya bisa sangat bervariasi.

Hal terpenting yang dapat diambil dari penelitian tentang evolusi cinta ini adalah, semua pernikahan dan hubungan berpasangan jangka panjang mempunyai potensi untuk meningkat. Ini sejalan dengan pemikiran kaum idealis dan orang-orang bijak.

Maka, saat Anda merasa sudah kehilangan semua harapan, tetap ingat bahwa hubungan Anda sedang dan terus berkembang. Psikolog, para pakar, orang-orang bijak tidak memiliki semua jawaban pasti atas hubungan pribadi masing-masing orang. Namun, ada satu yang pasti: Apa yang Anda rasakan tentang kondisi pernikahan saat ini akan berbeda dengan apa yang Anda rasakan tentang kondisi pernikahan tahun depan. Tinggal arahkan perbedaan itu menuju ke hal-hal positif.

Facebook Comments

Comments are closed.