Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – “Kakakku punya dua adik. Adikku punya dua kakak,” begitu seorang teman membuka curhatannya.
“Bentar…bentar, saya mau tebak dulu. Berarti, posisimu sebagai anak kedua dari tiga bersaudara. Anak tengah.”
“Wah, betul.”
“Terus, apa masalahnya?”
“Nah, ya itu tadi. Karena saya anak kejepit, maka rasanya ada yang tak beres dengan perlakuan keluarga pada saya. Rasanya, saya ini terabaikan. Saya tidak mendapatkan perhatian yang sama seperti Kakak atau Adik. Kadang saya juga bingung tentang peran dalam keluarga. Peran saya tidak sejelas Kakak Sulung yang punya tanggung jawab tertentu mewakili orang tua. Rasanya saya juga tidak sebebas Adik Bungsu yang sering dimanja orang tua…..”
………..
Pembaca yang budiman, saya tidak tuliskan curhatan panjang teman saya tadi. Dalam tulisan ini, saya ingin berbagi dengan Anda tentang apa yang biasa disebut sebagai ‘middle child syndrome.’ Bisa jadi Anda atau orang yang Anda kenal juga ada dalam posisi ini.
Istilah ini bukan termasuk konsep dasar dalam psikologi, tapi sering digunakan untuk menggambarkan pola perilaku atau perasaan tertentu terkait ‘anak tengah’ dalam keluarga tiga anak. Sindrom ini juga bukan gangguan mental yang diakui secara ilmiah resmi.
Memang ada beberapa penelitian ilmiah untuk memahami atau mengevaluasi ‘middle child syndrome‘. Sebagian besar penelitian fokus pada dinamika keluarga dan pengaruh peran dalam perkembangan anak daripada mengkaji sindrom anak tengah secara eksklusif. Penelitian tentang potensi efek anak tengah menghasilkan temuan yang bervariasi dan tidak konsisten.
Dalam buku Problems of Neurosis: A Book of Case Histories terbitan 1964, Alfred Adler mengembangkan teori tentang pengaruh urutan kelahiran bagi perkembangan kepribadian. Menurutnya, anak-anak yang dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga yang sama tapi urutan kelahiran mereka bisa mempengaruhi perkembangan psikologis mereka.
Salah satu penelitian yang dianggap paling akurat tentang anak tengah adalah oleh Elton, Palmer, dan MacDowall dari London. Penelitian pada 2018 itu melibatkan survei terhadap 15.000 orang. Hasilnya, anak tengah (jika dibanding sulung atau bungsu) merasa paling tidak nyama bicara pada orang tua terkait pendidikan seksual.
Namun, ‘middle child syndrome‘ tetap belum diterima secara luas dalam psikologi dan ilmu pengembangan anak.
Selain itu, realita lebih banyak menunjukkan pengalaman anak tengah dapat sangat bervariasi. Tidak semua anak tengah mengalami rasa tersisihkan, rasa jauh dari orang tua, rasa harus berkompetisi dengan kakak-adiknya, dan sejenisnya. Malahan, tak jarang anak tengah tumbuh menjadi orang dewasa yang sehat dan bahagia tanpa masalah signifikan. Di sisi lain, kadang anak sulung atau bungsu bisa saja mengalami perasaan-perasaan semacam ‘middle child syndrome.’
Pada intinya, pengalaman setiap individu dalam keluarga dapat bervariasi. Banyak faktor, termasuk dinamika keluarga, pengasuhan, dan kepribadian anak, yang memengaruhi apakah anak mengalami ‘middle child syndrome’ atau tidak.
Maka, saya sarankan pada teman saya di atas untuk sekadar memperbaiki komunikasi dan hubungan dengan adiknya, kakaknya, dan orang tuanya. Tak harus menerapi mentalnya, cukup dengan menata kembali hubungan dengan orang-orang terdekatnya.


