Nah, Ini Rahasia Mudah Ingat atau Cepat Lupa

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – “Mbak, aku ini lemot ya? Mudah lupa, susah mikir,” begitu curhat seorang teman.

“Disyukuri saja. Kalau sudah dilatih dan hasilnya tetap segitu, mungkin memang sudah jadi kapasitasmu,” saya mencoba memberi nasihat.

“Kan lebih enak punya otak brilian, mudah mengingat, intelijensi tinggi.”

“Iya juga, sih. Tapi, kalau dia punya pengalaman buruk, traumatis, mengerikan, atau melihat hal-hal yang tidak pantas, lalu ia seumur hidup tidak bisa melupakan, ya repot juga. Jadi, ada plus dan minusnya jadi brilian atau jadi lemot itu. Jadi, syukuri saja.”

“Apa sih yang bikin orang mudah mengingat atau cepat lupa? Aku koq jadi pingin operasi otak saja. Siapa tahu aku bisa jadi pinter.”

“Ya, ada wilayah tertentu di dalam otak yang memainkan peran penting dalam proses memori. Namanya hipokampus.”

“Apa itu hipokampus?”

“Ini bagian dari otak yang berperan dalam emosi, pembelajaran, dan memori. Letaknya di dalam sistem limbik di otak. Bentuknya mirip kuda laut. Dalam Bahasa Yunani, ‘hippokampos‘ itu berarti ‘kuda laut’.”

“Apa buktinya?”

“Tim peneliti yang dipimpin Profesor Dominique de Quervain dan Profesor Andreas Papassotiropoulos dari Universitas Basel, Swiss, menemukan sinyal tertentu di kawasan itu yang menentukan memori.”

“Bagaimana caranya mereka tahu?”

“Tim peneliti menggunakan pencitraan fungsional memori terbesar di dunia. Mereka meminta 1.500 orang berusia 18 hingga 35 tahun untuk melihat dan mengingat-ingat total 72 gambar. Selama proses, peneliti menggunakan MRI untuk mencatat aktivitas otak para peserta penelitian.”

“Hasilnya?”

“Para peserta diminta mengingat sebanyak mungkin gambar. Seperti pada populasi umum, terdapat perbedaan besar dalam kinerja memori di antara mereka. Ada yang lemot, ada yang brilian. Yang lemot hanya mengingat beberapa gambar. Yang brilian bisa mengingat puluhan gambar. Nah, saat pemeriksaan dengan MRI, tampak wilayah otak tertentu, termasuk hipokampus, menunjukkan hubungan langsung antara aktivitas otak selama proses menghafal dengan kinerja memori selanjutnya. Orang dengan ingatan lebih baik ternyata menunjukkan aktivasi lebih kuat pada area otak ini. Di area lain dalam otak yang relevan dengan memori di korteks oksipital ternyata tidak tampak hubungan seperti itu.”

“Oh, begitu.”

“Tidak sesederhana itu, Ferguso. Ternyata, para peneliti juga mengidentifikasi jaringan fungsional di otak yang terkait dengan kinerja memori. Jaringan ini terdiri dari wilayah otak berbeda yang berkomunikasi satu sama lain untuk memungkinkan proses kompleks, termasuk proses penyimpanan informasi.”

“Berarti hipokampus saya kurang beres?”

“Ya, nggak gitu juga. Apa yang didapat dari penelitian di Basel ini membantu kita untuk lebih memahami bagaimana perbedaan kinerja memori antara satu individu dengan individu lainnya. Kalau perlu tindakan klinis, nanti para pakar akan melakukan penelitian lebih lanjut.”

“Wah, lama menunggunya.”

“Entahlah. Yang penting, jangan minta operasi otak dulu. Sayang sekali. Otakmu masih original karena jarang dipakai.”

“Hahahah… ngece…!”

Facebook Comments

Comments are closed.