Jamais Vu; Saat yang Biasa Jadi Amat Aneh

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Tentu, banyak orang mengenal –bahkan pernah mengalami– ‘déjà vu.’ Istilah ini merujuk pada pengalaman subjektif saat seseorang merasa telah mengalami atau melihat situasi tertentu meski sebenarnya ia belum pernah mengalami atau melihat sebelumnya.

Tapi, pernahkah Anda mengenal –atau mengalami– jamais vu?

Istilah déjà vu dan jamais vu itu ibarat pinang yang dibelah dua. Satu sisi menghasilkan déjà vu, sisi lain menghasilkan jamais vu. Sayangnya umumnya kita tidak terlalu mengenal sisi jamais vu.

Sebagaimana déjà vu, jamais vu juga melibatkan perasaan pengulangan di otak. Bedanya, jamais vu membuat pengalaman yang sudah akrab dan biasa dialami jadi tiba-tiba terasa sangat baru dan bahkan bisa meresahkan.

Jamais vu adalah fenomena psikologis saat seseorang merasa tidak mengenali atau tidak akrab dengan sesuatu yang sebenarnya sangat dikenalinya. Jadi, ini kontras dengan déjà vu di mana seseorang merasa situasi atau pengalaman yang sedang dialaminya sudah pernah terjadi di masa lalu meski sebenarnya tidak.

Istilah jamais vu jarang diteliti. Meski sudah muncul lewat penelitian pada tahun 1907, istilah ini tak banyak diteliti. Baru, pada 2018 Christopher Moulin dan kawan-kawan mengkaji fenomena ini. Mereka menunjukkan ‘hilangnya kekuatan asosiatif” dalam kata-kata yang dilihat berulang-ulang.

Dalam penelitiannya, Moulin meminta relawan peserta penelitian menulis suatu kata berulang kali. Sekitar 70 % relawan peserta penelitian merasakan jamais vu setelah hanya 33 kali pengulangan penulisan. Nah, analisis studi ini memberikan pendalaman tentang fleksibilitas kognitif dan menawarkan hubungan potensial dengan kondisi seperti kasus-kasus OCD.

Moulin menjelaskan, ‘pengulangan’ memiliki hubungan yang agak aneh dengan pikiran. Dalam pengalaman déjà vu, Moulin menyebut itu terjadi ketika bagian otak yang mendeteksi keakraban tidak sinkron dengan kenyataan. Namun, pengulangan dapat menghasilkan sesuatu yang lebih luar biasa dan tidak biasa, saat jamais vu.

Jamais vu bisa berwujud membaca kata-kata yang biasanya dikenali dengan baik tetapi tiba-tiba terasa aneh dan tidak terkait dengan maknanya, melihat wajah seseorang yang biasanya dikenal tetapi terasa seolah-olah wajah itu sama sekali asing, mengunjungi tempat yang sudah dikenal dengan baik (seperti, rumah atau kantor) tetapi serasa itu tempat yang benar-benar baru dan tidak dikenal.

Ini adalah pengalaman subjektif dan sementara yang dapat terjadi dalam berbagai konteks. Bisa muncul dalam situasi kelelahan, stres, atau kondisi medis tertentu termasuk epilepsi atau migrain. Gangguan persepsi sementara ini biasanya tidak berlangsung lama.

Penyebab pasti jamais vu belum sepenuhnya dipahami. Beberapa faktor yang mungkin terkait antara lain kelelahan atau stres berat, kondisi medis tertentu termauk epilepsi atau migrain, efek samping pengobatan, stimulasi kognitif karena terlalu banyak informasi dalam waktu singkat yang mengganggu pemrosesan normal di otak, gangguan fungsi otak, dan lain-lain.

Yang perlu dicatat, jamais vu adalah fenomena subjektif dan individual. Artinya, pengalaman ini dapat bervariasi antara individu dan dalam situasi berbeda. Maka, perlu lebih banyak penelitian ilmiah untuk memahami penyebab dan mekanisme yang mendasari jamais vu.

Facebook Comments

Comments are closed.