Waspadai Makanan Ultra-olahan demi Kesehatan Psikologis

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Saya senang dikabari bahwa ponakan saya mulai belajar memasak. Namun, saya jadi agak tak nyaman saat mengetahui beberapa hasil masakannya. Makanannya setup macaroni yang bahannya mie instan, makaroni, tepung, pewarna, sosis, dan lain-lain. Minumnya, frapuccino dengan bahan kopi instan, biskuit hitam, gula, es, dan lain-lain.

Wah, wah, wah… Hasilnya sih memang enak disantap pada saat itu juga. Tapi, saya cukup merinding jika makanan dan minuman itu bakal ia konsumsi untuk jangka panjang. Banyak efek negatif secara fisik maupun mental jika kita terlalu banyak mengonsumsi bahan makanan yang diproses berlebihan.

Pembaca yang budiman, proses pengolahan makanan bisa kita golongkan ke dalam tiga kelompok.

Pertama, makanan mentah atau yang diproses minimal. Contohanya, buah, sayur, biji-bijian, kacang-kacangan, telur rebus, daging rebus/panggang, makanan laut yang langsung dimasak, rempah-rempah, madu, bawang putih, susu murni.

Kedua, makanan olahan. Ketika bahan-bahan seperti minyak, gula atau garam ditambahkan ke dalam makanan dan dikemas, hasilnya adalah makanan olahan. Contohnya adalah roti, tahu, ikan sarden atau kacang kalengan. Makanan-makanan ini telah diubah sedikit namun tidak dengan cara yang merugikan kesehatan.

Ketiga, makanan ultra-olahan. Bahan makanan melalui berbagai proses (ekstrusi, penggilingan, penggorengan, pencampuran, pengawetan dan lain-lain), mengandung banyak bahan tambahan dan sangat dimanipulasi dari aslinya. Contohnya, minuman ringan, minuman berkarbonasi, coklat, permen, es krim, sereal sarapan manis, sup kemasan, nugget ayam, hotdog, kentang/keripik goreng dan banyak lagi. Umumnya dijual sebagai makanan instan dalam kemasan plastik atau kaleng.

Makanan ultra-olahan mengalami banyak tahap pemrosesan industri, biasanya mengandung bahan tambahan seperti pengawet, perasa buatan, pewarna, pemanis, serta berbagai bahan kimia lainnya. Karakteristik makanan ultra-olahan ini sering kali sudah jauh berubah dari bentuk asli bahan mentahnya.

Tentu, ada banyak hasil penelitian yang menunjukkan bahaya makanan ultra-olahan bagi kesehatan. Saya sampaikan satu temuan terbaru, analisis data dari Melbourne Collaborative Cohort Study menunjukkan individu yang mengonsumsi makanan ultra-olahan dalam jumlah besar lebih mungkin mengalami tekanan psikologis lebih dari satu dekade kemudian.

Banyak penelitian tentang hubungan antara makanan ultra-olahan dengan kesehatan mental yang buruk. Studi Australia ini ingin mengetahui apakah konsumsi makanan ultra-olahan antara usia 13 dan 17 tahun terkait dengan kondisi depresi di kemudian hari. Maka, mereka menganalisis data dari Melbourne Collaborative Cohort Study di Australia yang bertujuan menyelidiki hubungan antara gaya hidup dan penyakit tidak menular kronis.

Hasilnya menunjukkan, peserta penelitian dengan tingkat konsumsi makanan ultra-olahan tertinggi (25% teratas dalam hal asupan makanan ultra-olahan) memiliki kemungkinan 14% lebih tinggi mengalami tekanan psikologis dibandingkan dengan mereka yang berada pada 25% asupan makanan ultra-olahan terendah. Analisis lebih lanjut mengungkapkan, hanya peserta pada kelompok konsumsi tertinggi yang mengalami peningkatan tekanan psikologis dibandingkan peserta lainnya.

Maka, saya sarankan pada ponakan saya untuk lebih banyak memasak produk lokal, fresh dari petani (atau setidaknya dari pasar), dengan bumbu tambahan tradisional minimalis. Misalnya; kentang, singkong, wortel, tempe, gula aren, cuka apel, daging segar, ikan segar (apa lagi yang baru dibeli dari TPI), dan sejenisnya. Olahannya juga pakai bumbu dasar, dan kalau bisa yang masih segar. Memasaknya juga pakai api sederhana, dan kalau bisa cukup sekali masak.

Makanan mentah dan makanan minim olahan jauh lebih sehat untuk masa kini dan masa depan dibanding makanan olahan pabrik yang masih dimasak lagi jadi makanan baru.

Facebook Comments

Comments are closed.