Beda Respons Sel Otak Pria dan Wanita saat Menghadapi Stress

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Beberapa hal yang sering dicurhatkan teman-teman saya adalah soal perbedaan respons pria dan wanita saat berhadapan dengan kondisi stress. Teman-teman saya ingin tahu karena sering menghadapi klien yang stress.

Kepada mereka, saya selalu tekankan respons terhadap stres bervariasi secara individual dan tidak terlalu tergantung pada jenis kelamin. Namun, sejumlah penelitan ilmiah secara umum menunjukkan ada perbedaan cara pria dan wanita merespons dan mengatasi stres.

Pria cenderung merespons stres dengan ‘fight or flight‘ dengan meningkatkan hormon adrenalin yang mempersiapkan tubuh menghadapi bahaya atau tantangan. Wanita cenderung merespons stres dengan ‘tend and befriend‘ dengan melibatkan hormon oksitosin yang memperkuat dukungan dan ikatan sosial.

Wanita cenderung mencari dukungan sosial ketika menghadapi stres, berani berbicara tentang masalah dan mencari dukungan dari teman atau keluarga. Pria lebih cenderung mencoba mengatasi stres secara mandiri atau mencari solusi praktis.

Wanita cenderung lebih terbuka dalam mengekspresikan emosi terkait stres, seperti mengungkapkan rasa khawatir atau sedih. Pria lebih mungkin mengekspresikan emosi yang dianggap ‘maskulin’ misalnya dengan kemarahan.

Pria cenderung menggunakan aktivitas fisik atau distraksi untuk mengatasi stres. Wanita cenderung menggunakan dukungan sosial dan berbicara tentang masalah.

Pria dan wanita memiliki strategi coping berbeda dalam mengatasi stres jangka panjang. Wanita sering berfokus pada hubungan sosial, pria cenderung fokus pada solusi dan tindakan.

Apa penyebab perbedaan ini?

Nah, para peneliti dari Weizmann Institute of Science di Jerman menemukan subkategori sel di otak yang merespons stres dengan cara sekali berbeda pada pria dan wanita. Tapi, penelitian yang diterbitkan di jurnal Cell Reports ini masih di level otak tikus dan masih jauh untuk eksperimen otak manusia.

“Kami mengarahkan lensa penelitian paling sensitif ke area otak yang bertindak sebagai pusat respons stres pada mamalia; nukleus paraventrikular (PVN) di hipotalamus,” kata Dr Elena Brivio, pemimpin penelitian.

“Dengan mengurutkan molekul RNA di bagian otak itu pada tingkat sel individu, kami dapat memetakan respons stres pada tikus jantan dan betina di tiga sumbu utama: bagaimana setiap jenis sel di bagian otak itu merespons stres, bagaimana setiap jenis sel yang sebelumnya terpapar stres kronis merespons pengalaman stres baru, dan bagaimana respons ini berbeda antara jantan dan betina.”

Para peneliti memetakan ekspresi gen di lebih dari 35.000 sel. Hasilnya, sejumlah besar data yang memberikan gambaran respons stres yang belum pernah terjadi sebelumnya dan menunjukkan perbedaan antara cara tikus jantan dan tikus betina memproses stres. Perbedaan ini diproyeksikan juga berlaku pada mamalia jantan dan betina, termasuk manusia pria dan wanita. Namun, tentu masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memastikannya.

Facebook Comments

Comments are closed.