Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Kemarin saya dapat kabar dari bunda yang anaknya ikutan jambore kepanduan dunia di Korea Selatan, “Anak-anak Amrik dan Inggris pada nyerah karena gelombang panas. Orang kita mah biasa mainnya di panas-panas.”
Ya, bunda itu memperkuat kabar tentang heatwave di Korea dan beberapa bagian lain di Eropa, Asia, hingga Amerika. Suhu siang hari mencapai 45 derajad Celsius di Korea Selatan, 50 derajad Celsius di Cina barat laut dan di Dead Valley di Amerika Serikat.
Memang ada lebih dari 100 peserta perkemahan terbuka di pinggir pantai Saemangeum yang mendapat perawatan medis. Sebagian bahkan dipindah ke hotel di Seoul yang jaraknya sekitar dua jam perjalanan. Namun, peserta dari Indonesia tetap bersemangat mengikuti acara.
…………..
Pembaca yang budiman, saya tidak mengulas acara kepanduan dunia serta bagaimana reaksi para orang tua tentang anak-anak mereka di Korea. Saya ingin sedikit memaparkan pengaruh heatwave pada kondisi orang yang terkena. Semoga gambaran ini bisa memberi penjelasan mengapa tim pandu Amerika dan Inggris menarik diri.
Cuaca ekstrem yang sangat panas dan kering tentu menyebabkan dehidrasi karena meningkatnya penguapan air dari tubuh. Saat dehidrasi, biasanya muncul gejala awal sakit kepala, pusing, hingga mual. Kemudian, muncul rasa lelah dan penurunan energi saat tubuh bekerja lebih keras untuk menjaga suhu normal. Jika memiliki masalah asma atau alergi polutan udara, masalah pernapasan cepat muncul.
Heatwave juga mempengaruhi kondisi mental dan psikologis. Panas ekstrem memicu stres dan kecemasan. Rasa khawatir dan tidak nyaman tentang kesehatan diri sendiri atau orang sekitar dapat memicu stres. Kepanasan membuat tidur tidak nyenyak; kurangnya istirahat dapat mempengaruhi suasana hati dan tingkat energi. Tak heran jika terjadi mood swings alias fluktuasi suasana hati; lebih mudah marah, tersinggung, atau kesal tanpa alasan jelas.
Dalam kondisi ekstrem, ada risiko heatstroke saat terkena heatwave. Ini kondisi medis serius ketika tubuh tidak lagi mampu mendinginkan diri sendiri. Saat suhu tubuh meningkat terlalu cepat, ini dapat menyebabkan kerusakan organ dan bahkan kematian jika tidak segera diatasi. Maka, berjatuhan lah sejumlah korban.
Karena risikonya cukup tinggi, pemerintah Korea Selatan cepat tanggap menghadapi kondisi cuaca ekstrem dan acara besar jambore kepanduan dunia. Pemerintah setempat menyediakan banyak fasilitas penyaluran air, bus-bus berisi ruang penyejuk udara, payung, hingga petugas medis.
Untuk membantu mengatasi cuaca panas ekstrem, orang-orang yang terkena dampak sedapat mungkin harus minum cukup air, menghindari aktivitas fisik berat di bawah sinar matahari, mengenakan pakaian ringan dan longgar untuk membantu sirkulasi udara tubuh, menjaga keseimbangan elektrolit tubuh dengan cairan ion, saling memberikan dukungan fisik dan emosional pada sesama pihak yang terdampak, mendorong aktivitas menenangkan yang mengurangi stres.


