Di Otak, Ada Biang Lapar yang Bikin Obesitas

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Saya sempat senyum-senyum sendiri saat baca meme di medsos ‘Pura-pura bahagia itu gampang. Yang sulit itu pura-pura langsing.’

Tapi senyum saya berubah saat dicurhati teman lama yang sering tampak ceria namun ternyata kurang percaya diri karena berat badan.

“Lha terus mau bagaimana lagi, Mbak? Olahraga, sudah. Diet, sampai bosan. Jamu, nggak tahu berapa banyak yang saya sudah minum. Tapi, saya masih kelebihan berat badan,” ujar dia.

“Kalau secara eksternal sudah diupayakan, mungkin masalahnya sangat internal,” saya menduga.

………….

Pembaca yang budiman, nasihat paling aman terkait obesitas adalah ‘tetaplah bersyukur’. Tapi, ada juga nasihat ilmiah yang entah kapan bisa dimanfaatkan. Dasarnya adalah hasil riset tim peneliti dari the Garvan Institute of Medical Research, Sydney, Australia.

Ada sekelompok sel dalam otak yang justru meningkatkan nafsu makan ketika ada kelebihan energi berkepanjangan di dalam tubuh yakni saat ada penumpukan lemak. Sel-sel ini tidak hanya menghasilkan molekul NPY yang merangsang nafsu makan, tetapi juga membuat otak lebih sensitif terhadap molekul tersebut sehingga lebih meningkatkan nafsu makan.

Profesor Herbert Herzog, penulis senior hasil studi itu, menilai temuan timnya memiliki potensi untuk membawa pengembangan ke arah baru bagi terapi obesitas. Dengan ditemukannya sel-sel ini, kita dapat mengendalikan nafsu makan pada orang-orang yang terlanjur kegemukan.

Obesitas memang masalah kesehatan masyarakat yang menyerang lebih dari 10 persen orang dewasa. Ini juga meningkatkan risiko terkena masalah kronis lainnya, seperti diabetes atau gagal jantung. Sementara, banyak faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan obesitas. Antara lain; akumulasi jaringan lemak berlebihan dalam tubuh, pola makan yang tidak baik, tingkat aktivitas fisik yang rendah, stress, dan lain-lain.

Profesor Herzog menjelaskan, “Otak memiliki mekanisme rumit yang merasakan berapa banyak energi yang disimpan dalam tubuh lalu, otak menyesuaikan nafsu makan kita. Salah satu caranya adalah melalui molekul NPY, yang diproduksi otak secara alami sebagai respons terhadap tekanan (misalnya; rasa lapar) untuk merangsang makan.”

“Ketika energi yang kita konsumsi kurang dari yang kita keluarkan, otak menghasilkan NPY lebih banyak. Ketika asupan energi melebihi pengeluaran, tingkat NPY turun sehingga kita merasa tidak lapar lagi. Masalahnya, ketika ada surplus energi berkepanjangan, seperti saat kelebihan lemak pada kasus obesitas, NPY justru mendorong nafsu makan terus.”

Dengan meneliti model tikus obesitas, para peneliti menyelidiki sel-sel di otak (neuron) yang menghasilkan NPY. Mereka menemukan, 15% dari sel-sel itu berbeda. Sel-sel berbeda tersebut tidak menghentikan produksi NPY selama obesitas. Dalam kondisi obesitas, nafsu makan justru sebagian besar didorong oleh NPY yang diproduksi subset neuron ini. Sel-sel ini tidak hanya menghasilkan NPY, tetapi juga membuat peka bagian otak lainnya untuk menghasilkan reseptor tambahan untuk molekul tersebut sehingga menambah nafsu makan lebih jauh.

Jadi, mengedalikan berat badan tidak cukup hanya dari sisi luar. Sisi paling dalam (bahkan di dalam otak) juga perlu dipahami dan dipertimbangkan. Kalau masih sulit mengendalikan, ya yang lebih tenang adalah disyukuri saja.

 

Facebook Comments

Comments are closed.