Saat Anak Mulai Berontak pada Orang Tua

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Ada seorang ayah dari tiga anak yang curhat pada saya. Dia merasa anak keduanya mulai jadi ‘pemberontak’. Memang tidak secara frontal dan keras, anak lelaki usia 17 tahun itu tidak selalu menurut dan kadang mendebat pendapatnya. Ia tidak terlalu mencemaskan perilaku anaknya, tapi merasa tak nyaman.

Kami pun ngobrol tentang kondisi si anak yang memberontak tadi. Tentang posisinya dalam keluarga, tentang pergaulannya, tentang bacaannya, dan lain-lain.

Lalu, saya menasihati si ayah dengan nasihat yang cukup populer dari Ali bin Abi Thalib. “Ajarilah anak-anakmu sesuai zamannya karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian.”

…………

Pembaca yang budiman, anak memberontak itu hal umum terjadi. Dalam satu atau dua titik kehidupan, pasti ada perbedaan-perbedaan antara anak dan orang tua. Yang penting, pemberontakan itu tidak eksplosif negatif yang merugikan. Bahkan, justru perbedaan itu dibutuhkan untuk mengetahui posisi masing-masing pihak lalu memperbaikinya.

Pemberontakan anak pada orang tuanya bisa disebabkan berbagai faktor. Yang paling umum, karena terjadi perubahan hubungan seiring waktu. Ketika anak tumbuh dewasa, ia bisa mengembangkan pandangan dan keinginan yang berbeda dengan orang tua. Ini bisa memicu konflik.

Bisa juga karena ketidakcocokan personalitas yang signifikan. Si anak sangat ekspresif sementara kedua orang tuanya cenderung kalem. Jika tidak saling menyadari perbedaan personalitas, ini juga bisa menyebabkan ketidaknyamanan dalam interaksi sehari-hari.

Komunikasi yang buruk atau kurangnya komunikasi efektif antara orang tua dan anak juga dapat menyebabkan ketidaknyamanan. Saat orang tua sangat sibuk dan anak butuh jawaban atas persoalannya, misalnya, bisa terjadi miskomunikasi. Ketika anak tidak merasa didengarkan oleh orang tua, ia bisa merasa terisolasi.

Peristiwa-peristiwa seperti perceraian, mendadak pindah rumah, kehilangan anggota keluarga, atau masalah keuangan juga dapat mengganggu stabilitas keluarga. Saat keluarga terguncang, anak kadang bisa merasa tidak nyaman. Kalau tidak bisa mentoleranssi, si anak bisa memberontak.

Anak yang merasa terlalu dikendalikan atau dikontrol bakal merasa tidak memiliki kebebasan memadai dalam pengambilan keputusan sendiri. Kalau ini berlangsung terus-menerus, pada titik tertentu anak akan ‘meledak’ dengan lontaran emosi.

Ketika tumbuh dewasa, kemampuan anak untuk berpikir dan mempertanyakan otoritas meningkat. Ia kadang mengkritisi sikap orang tua atau nilai-nilai yang telah ditanamkan.

Faktor eksternal, ini bisa juga disebabkan pengaruh lingkungan sosial. Teman sebaya, sekolah atau kampus, tempat kerja, atau budaya populer, dapat mempengaruhi cara pandang anak. Ini bisa mengembangkan perspektif anak yang berbeda dengan orang tua.

Perbedaan generasi juga berpengaruh. Setiap generasi memiliki pengalaman hidup berbeda. Setiap generasi terpengaruh oleh konteks sosial, teknologi, dan perubahan budaya. Anak-anak tumbuh dalam konteks berbeda dengan orang tua mereka. Ini dapat menyebabkan perbedaan dalam pandangan dan keinginan mereka.

Nilai-nilai dan norma sosial juga dapat berubah seiring waktu. Anak dapat terpapar pada pemikiran dan perspektif yang berbeda melalui media, pendidikan, atau perubahan dalam masyarakat, yang dapat mempengaruhi pandangan mereka.

Perkembangan zaman, dan perkembangan kematangan manusia, terus terjadi. Semua ini memungkinkan perbedaan-perbedaan antara anak dan orang tua. Maka, kita perlu selalu memoraktikkan komunikasi terbuka, saling pengertian, dan kesediaan untuk menerima perbedaan. Ini penting bagi proses membangun hubungan yang sehat dan harmonis antara generasi.

Facebook Comments

Comments are closed.