Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – “Dik, coba lihat istriku,” teman senior saya curhat di rumahnya.
“Ada apa?” saya merespons.
“Sejak tadi, dia muter-muter saja. Pasti sedang mencari sesuatu.”
“Lupa naruhnya, mungkin?”
“Bukan cuma lupa, tapi sudah pelupa. Cari-cari sesuatu seperti itu bisa terjadi hampir tiap hari. Mau ngomong sesuatu, sering tidak jadi. Sepertinya kesulitan mau omong apa.”
“Emm, gitu…” saya menanggapi. “Kalau membuat keputusan, apa masih bisa? Misalnya, saat diberi pilihan kaos olahraga atau baju santai, apa cepat memilih?”
“Kadang cepat, kadang mikirnya lama.”
“Mas, ngapunten, coba deh ajak istri njenengan sering-sering olahraga ringan. Jalan-jalan lebih lama. Siapa tahu jadi lebih segar dan nggak lupaan.
Pembaca yang budiman, ada kemungkinan istri teman saya itu mengalami demensia. Gangguan ini menyebabkan penurunan daya ingat dan cara berpikir. Gejalanya antara lain mudah lupa atas sesuatu yang baru terjadi, susah mengingat hal-hal tertentu, pikun (seperti yang dialami manula), sulit memilih kata-kata, lama atau tak bisa membuat keputusan, tak mampu melakukan beragam kegiatan dalam satu waktu, lupa jalan pulang, dan sejenisnya.
Penyebab utama demensia adalah kerusakan sel saraf dan gangguan hubungan antarsaraf pada otak. Pemicunya antara lain gangguan pembuluh darah otak setelah stroke, kelainan metabolisme endrokrin, ada tumor, kena efek samping obat penenang atau pereda nyeri, kekurangan vitamin dan mineral tertentu, keracunan logam berat atau pestisida, hingga konsumsi minuman keras.
Untuk memperbaiki keadaan, tentu harus ada tindakan medis tertentu dan perawatan jangka waktu tertentu. Namun, untuk mencegahnya, ada beberapa cara. Salah satunya, olah fisik lebih banyak dan lebih rutin serta teratur.
Apa dasarnya? Banyak studi ilmiah yang mengungkapkan manfaat olah raga teratur dengan Kesehatan otak. Salah satunya, penelitian di Herbert Wertheim School of Public Health and Human Longevity Science di University of California, San Diego, Amerika Serikat.
Untuk studi paling mutakhir ini, peneliti mengambil sampel data dari 1.277 wanita usia 65 ke atas sebagai bagian dari dua studi tambahan Women’s Health Initiative (WHI) – Studi Memori WHI (WHIMS) dan studi Objective Physical Activity and Cardiovascular Health (OPACH).
Para wanita usia senior itu mengenakan akselerometer penelitian lalu melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa. Pengamatan dilakukan tujuh hari untuk mendapatkan ukuran akurat atas aktivitas fisik dan aktivitas duduk/rebahan. Memasak, berkebun, dan jalan-jalan kecil dicatat sebagai aktivitas ringan. Aktivitas sedang hingga berat antara lain olahraga jalan cepat atau lari kecil dan sejenisnya.

Olahraga jalan-jalan bisa mencegah gejala demensia.
Pelacak aktivitas menunjukkan responden rata-rata melakukan 3.216 langkah, 276 menit aktivitas fisik ringan, 45,5 menit aktivitas fisik sedang hingga kuat, dan 10,5 jam duduk per hari. Hasil penelitian menunjukkan, mereka yang lebih sering berjalan kaki setiap hari dan lebih banyak aktivitas fisik sedang hingga berat memiliki kemungkinan lebih rendah untuk mengalami gangguan kognitif ringan hingga gejala demensia. Lebih rinci; setiap tambahan 31 menit aktivitas fisik sedang hingga kuat per hari bisa menurunkan risiko 21% bagi gangguan kognitif ringan hingga demensia. Setiap tambahan 1.865 langkah per hari dikaitkan dengan risiko 33% lebih rendah.
Fisik yang aktif membuat semua bagian tubuh, termasuk otak, menjadi teraktifkan. Jika ada sel-sel yang loyo, aktivitas lebih tinggi akan membuat mereka diremajakan atau diganti dengan sel-sel baru. Aktivitas fisik juga memompa lebih banyak darah bersama oksigen dan makanan ke otak. Semua itu bisa menyehatkan syaraf dan otak.
Timbulnya demensia dimulai pada usia awal usia dewasa sebelum akhirnya muncul gejala-gejala yang disadari atau bisa dilihat. Maka, kita intervensi dini untuk menunda atau mencegah penurunan kemampuan kognitif. Meski usia baru melewati masa remaja, jangan suka terlalu banyak rebahan atau duduk terus. Tambahi aktivitas yang menggerakkan seluruh tubuh agar lebih sehat.


