Jangan Biarkan Kecemasan Sampai Menjadi Gangguan Fisik

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – “Mbak, belakangan ini aku koq sering takut, ya?” begitu seorang mamah muda memulai curhat.

“Takut apa?” saya mulai menyelidiki.

“Ya… tiba-tiba takut ayangku diambil orang, takut badanku gemuk, takut anakku diculik, takut hujan lebat. Bahkan, saat listrik mati, aku juga takut.”

“Kapan perasaan takut itu biasa muncul?”

“Wiiih… bisa kapan saja. Nggak pasti. Sekarang pun saya juga takut nggak bisa pulang.”

“Oh, jangan-jangan kau hanya cemas. Bukan takut. Karena saya merasa apa yang kau takutkan itu tidak terlalu beralasan.”

“O, gitu ya Mbak?”

Lalu saya beri dia saran, “Coba kau buat daftar hal-hal yang kau cemaskan. Kemudian, besoknya atau seminggu kemudian, coba kau buka catatan itu. Hitung mana hal-hal yang terbukti terjadi dan yang tidak terjadi. Saya berani bertaruh, tidak ada satu pun yang terbukti terjadi. Kalau toh terjadi, levelnya mungkin ringan-ringan saja.”

Pembaca yang budiman, mamah muda di atas sepertinya mengalami generalized anxiety disorder (GAD). Ia mengalami perasaan cemas terus-menerus sehingga memengaruhi kehidupan sehari-harinya. Ia menunjukkan kekhawatiran berlebihan tentang berbagai peristiwa atau aktivitas hampir setiap saat. Reaksi serupa dengan fobia (ketakutan ekstrem dan tidak rasional), tapi bukan respons langsung terhadap situasi atau pengalaman tertentu. Ia hanya gelisah.

GAD terjadi sebagian besar karena produksi hormon stres berlebihan. Antara lain hormon kortisol, adrenalin, noradrenalin, dan vasopresin. Hormon-hormon ini mengaktifkan gejala peningkatan detak jantung, berkeringat, hingga pernapasan cepat. Maka, jika tidak ditangani dengan tepat, GAD bisa berpengaruh terhadap mental hingga fisik.

Saat pelepasan hormon stres, yang terjadi adalah menyempitnya pembuluh darah di otak. Dampaknya, kecemasan berlebihan bisa menimbulkan sakit kepala kronis termasuk migrain. Kepala jadi tegang seolah-olah diikat tali dengan ketat.

Orang dengan kecemasan ekstrem bisa mengalami gejala kardiovaskular, antara lain dada terasa berat atau jantung berdebar. Menyempitnya pembuluh darah menyebabkan tekanan darah jadi lebih tinggi dan jantung berdetak lebih kuat.

GAD juga terkait dengan gangguan fungsi saraf vagus yang membawa informasi antara otak dan organ dalam tubuh. Saraf vagus juga memainkan peran dalam mengatur aktivitas jantung. Ketika tidak berfungsi dengan baik, itu dapat menyebabkan jantung gagal berkontraksi secara efisien.

Saat seseorang cemas, lebih banyak hormon stres masuk ke sistem pencernaan. Ini dapat menyebabkan masalah antara lain kembung, sakit perut, mual dan sembelit. Hormon stres juga dapat mengganggu keseimbangan bakteri di usus, menyebabkan peradangan dan masalah pencernaan lainnya. Orang dengan GAD memiliki lebih banyak bakteri jahat (Enterobacteriaceae, Desulfovibrio dan sejenisnya) lebih sedikit bakteri baik (Faecalibacterium dan sejenisnya).

Hormon kortisol, yang diproduksi secara berlebihan selama periode kecemasan, dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh dengan mengganggu produksi sel darah putih yang melawan infeksi. Jika produksi kortisol berkelanjutan, bisa menyebabkan peningkatan kemungkinan infeksi.

Pernapasan cepat namun dangkal adalah gejala umum kecemasan berlebihan. Tubuh meningkatkan pernapasan sehingga paru-paru bekerja lebih keras memindahkan oksigen. Kondisi berlebihan ini bisa membuat orang merasa sesak napas.

Jadi, kendalikan kecemasan dengan berfikir yang lebih positif dan realistis. Yakini, Tuhan selalu memberikan bantuan pada kita dalam kondisi apapun. Buktikan, hampir semua yang dicemaskan itu tidak pernah benar-benar terjadi. Jika sedang dilanda kecemasan, kenali dan pahami dulu permasalahan sejatinya, lalu tarik nafas dalam-dalam dan tubuh dalam posisi tenang, kemudian fikirkan dengan jernih cara mengatasi masalahnya.

Facebook Comments

Comments are closed.