4 Resep Sederhana untuk Jadi Public Speaker Menarik

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – “Mbak, aku kalau mendengar ceramah bagus dari pembicara yang energik dan dinamis, koq bisa cepat paham lalu termotivasi, ya?” kata seorang teman.

“Tentu saja. Cara berbicara yang enak bisa menjadi pintu gerbang pengetuk indera kita. Materi pembicaraan yang pas bisa menjadi santapan lezat buat otak kita,” jawab saya pada dia.

“Aku pingin jadi bisa menjadi public speaker semacam itu biar terkenal. Tapi, heheh, aku nggak bisa melucu,” kata dia.

Pembaca yang budiman, belakangan ini banyak sekali orang yang mencuat jadi public speaker ngetop di media sosial. Omongan tak sampai semenit, bisa melambungkan namanya karena viral. Ada juga speaking lebih lama semacam di TED Talk yang disampaikan para pakar berbagai bidang. Tentu saja banyak sarana public speaking secara live atau offline yang butuh keahlian tertentu.

Jika teman saya tadi punya keinginan menjadi terkenal lewat public speaking, itu juga masuk akal. Yang penting, bagaimana caranya bisa menjadi public speaker yang baik. Nah, berikut ini saya berbagi tentang bagaimana menjadi public speaker yang baik.

  • Latihan, latihan, latihan

Ini resep pertama dan utama. Sebagaimana ketrampilan hidup yang lain, public speaking itu harus dilatihkan. Kita tidak bisa sekonyong-konyong jadi pembicara yang baik. Meski sudah melahap sembilan buku petunjuk, sudah khatam mata kuliah public speaking, tapi jika tidak pernah dipraktikkan maka kita pasti gelagapan saat bicara di tempat umum. Karena itu, kita harus terus-menerus latihan untuk mengasah ketrampilan berbicara.

Bagaimana melatihnya? Buat catatan dulu, lalu baca seperti berpidato di dalam ruang, kemudian kaji kekuarangannya. Penilainya boleh kita sendiri, tapi akan lebih objektif jika orang lain. Lakukan itu berkali-kali sampai tak perlu lagi membaca isinya. Jika sudah lancar, coba berbicara di depan beberapa teman. Suasana mental saat bicara di ruang sendiri tentu beda dengan suasana mental saat bicara di depan teman. Jika ada rasa grogi di depan teman, segera atasi. Jika sudah lancar, jajallah bicara di depan publik yang lebih luas dan umum. Bisa juga bicara di depan piranti medsos, lalu bersiaplah untuk dibuli, dipuji, atau dianggurin.

  • Lebih ringkas, lebih baik

Pembicara yang menarik itu membatasi fokus pada sejumlah kecil poin kunci, bukan yang ngglambyar ngomong ke mana-mana tanpa batas. Idealnya, berfokus pada tiga isu inti saja. Kalau melampaui tiga isu, biasanya pembicaraan menjadi kacau tak terarah. Dampaknya, pendengar juga sulit mengingat semua poin.

Di medsos satu menitan, malah cukup satu poin. Pendek dan langsung mak jleb. Kalau terlalu banyak poin atau terlalu lama bicara, rekamannya tak bisa tertampung. Kalau toh tertampung, netizen bisa jadi malas mengikutinya.

Agar lebih menarik, saat memperkenalkan satu poin, kita harus bisa menghubungkannya dengan sesuatu yang sudah diketahui audiens. Saat mengungkapkan poin pentingnya udara bersih dan sehat, misalnya, kita lontarkan saja contoh tentang merokok. Hampir pasti, semua orang tahu rokok dan bahkan sebagian audiens malah merokok. Kalau contohnya sangat dekat dengan audiens, maka mereka lebih cepat menangkap poin yang kita bicarakan.

  • Bantuan visual

Video, slide taks/gambar, atau alat bantu visual lainnya akan sangat membantu kita saat berbicara. Pilih bantuan visual yang sesuai dengan apa yang kita bicarakan. Bantuan visual juga bisa digunakan untuk menyajikan data jika diperlukan. Meski demikian, yang jauh lebih penting bagaimana cara kita mengucapkan kata-kata agar data jadi lebih bermakna.

  • Kalau tidak lucu?

Lucu itu bonus. Jangan selalu menganggap pembicara yang menarik itu harus pandai menceritakan lelucon atau menyindir dengan gurauan. Jika kita lucu, kita tentu dapat memanfaatkannya untuk berceramah. Jika kita tidak lucu atau jenaka, ya jangan putus asa. Kita fokus saja pada apa yang kita ketahui dan bagaimana melakukannya. Tidak semua orang mendengarkan ceramah untuk cari hiburan, karena sebagian cukup signifikan dari mereka betul-betul butuh informasi, butuh pengetahuan, butuh pemahaman, butuh diskusi serius.

 

Facebook Comments

Comments are closed.