Oleh: Teguh W. Utomo
mepnews.id – Anda mungkin bertanya-tanya; mengapa repot-repot belajar ilmu public speaking di era digital seperti sekarang? Saat informasi tentang apa saja dapat diakses semua orang lewat internet, saat produk digital menenggelamkan para pembicara, mengapa kita perlu belajar seni berbicara?
Lisa Marie Gelhaus, seorang pelatih presentasi bisnis yang juga Juara Italia 2021 Toastmasters International-Public Speaker, selama setahun melakukan penelitian tentang komunikasi jarak jauh. Pada masa pandemi COVID-19, tentu saja yang diteliti adalah komunikasi digital yang difasilitasi internet.
Melalui penelitian itu, Gelhaus jadi sangat menyadari betapa sulitnya berkomunikasi secara interpersonal –terutama melalui webcam. Padahal, di era pandemi, internet menjadi satu cara utama untuk tetap berhubungan dengan kolega, klien, teman, dan keluarga.
“Faktanya, satu hal yang dapat meyakinkan kita, menginspirasi kita, atau mengubah pendapat kita, adalah pertukaran ide secara nyata antara manusia dengan manusia,” begitu kesimpulannya.
Menurut Gelhaus, berbicara di depan umum memang bisa menyampaikan informasi atau lainnya. Tetapi, bukan itu hal terbaiknya. Apa yang terbaik dari public speaking adalah menghasilkan dan memelihara tingkat trust (rasa saling percaya).
Anggap saja ada seseorang berkata, “Saya yakin pada hal ini dan saya pikir Anda juga harus melakukannya.” Jika Anda mengenal orang itu, atau jika Anda merasa orang itu memahami kebutuhan dan aspirasi Anda, atau jika Anda yakin bahwa orang itu memiliki reputasi baik, maka Anda bisa mengatakan, “Saya setuju”, meskipun Anda belum tentu sempat menganalisis setiap informasi yang ada di benak orang itu.
Pertukaran ide yang membuat orang jadi saling sependapat hanya bisa terjadi jika konteksnya tepat: dan itu sangat mungkin terjadi dalam kondisi percakapan dan kontak yang lebih pribadi. Bertatap muka. Tidak seperti komunikasi lewat web. Tidak seperti secara online. Tidak seperti pembicaraan yang tidak langsung.
Mengapa? Saat berhadapan langsung, pembicara bisa membuat audiens benar-benar berada pada gelombang (otak) yang sama melalui daya tarik emosional. Sebaliknya, pendengar bisa lebih dapat merasakan emosi dan keaslian niat si pembicara saat ada kontak langsung orang-ke-orang atau hati-ke-hati. Komunikasi via web tidak dapat melakukan hal itu dengan efektivitas yang sama.
Interaksi tatap muka akan selalu mengalahkan komunikasi digital. Memang, komunikasi digital bermanfaat untuk kenyamanan dan bahkan peningkatan interaksi di era sekarang. Namun, sifat manusia masih menuntut adanya hubungan dekat.
Seorang pria melamar kekasihnya dengan kata-kata yang dipilih ditambah senyuman secara tatap muka jelas lebih bermakna daripada melamar lewat pesan teks digital yang berbunyi “Menikahlah denganku.”
Di jagad bisnis, transaksi terbaik lebih mudah terjadi jika dijembatani secara langsung oleh orang yang dapat dengan jelas mengomunikasikan nilai produk dalam suasana interpersonal.
Pendeknya, tidak ada teknologi yang dapat menggantikan kontak personal antar-manusia. Seni retorika kuno masih hidup, berkembang, dan tetap dibutuhkan di era digital modern sekarang ini.
Jadi, meski banyak sarana digital untuk berkomunikasi dengan banyak orang, public speaking tetap mendapat tempat penting dalam komunikasi. Bahkan, trampil berbicara di depan publik bisa menentukan nasib baik.


