mepnews.id – Idul Adha identik dengan potong hewan ternak untuk kurban. Nah, Ahmad Rizki Mubarok, alumnus Akuntansi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), bisa mendapat keuntungan ratusan juta rupiah dari bisnis hewan kurban.
Dikabarkan situs resmi umm.ac.id, Barok mengaku berdagang bukan hal asing baginya. Saat masih sekolah, ia sudah menjual jamu dan memasarkannya. Maka, kuliah akuntansi bisa membantu mengembangkan bisnis ternaknya.
Awalnya, ia berkunjung ke salah satu rumah tetangga dan sesekali membantu mereka merawat hewan. Saat ketertarikannya makin menguat, Barok memutuskan mengawali bisnis ternak.
“Dari uang tabungan dan dibantu keluarga, saya mengawali usaha 30 kambing pada 2013. Sayang, saat itu hanya laku dua ekor. Setelah saya pelajari, strategi penjualannya kurang maksimal. Saya berdiskusi dengan banyak teman cara memasarkan hewan kurban dengan efektif. Lalu, saya memasarkannya ke dosen, masjid, dan mushola yang butuh hewan kurban,” jelasnya.
Sepuluh tahun menjadi bukti tekad kuatnya membangun usaha.
Barok belajar dari dasar bagaimana cara merawat hewan ternak. Menurutnya, menjaga kesehatan hewan tidak jauh beda dengan manusia. Yakni dengan memberikan makanan sehat hingga kandang layak.
“Kalau kandangnya kurang bersih, kambing dan domba kembung dan gudikan. Hal ini menurunkan harga jual, bahkan tidak layak dijual. Maka, saya membuat kandang seperti rumah panggung agar kotoran bisa otomatis jatuh ke bawah,” katanya.
Barok menjelaskan, merawat hewan ternak itu tidak mudah. Banyak yang perlu dipikirkan. Biaya pemilihan bibit kira-kira 80%, 16% untuk pakan, sisanya untuk biaya lainnya seperti pengobatan, kandang, dan kebersihan hewan dan lingkungan,” katanya
Terkait strategi pemasaran, ia memanfaatkan momen. Misalnya, menggencarkan promosi di bulan-bulan dekat Idul Adha dan Idul Fitri. Pun dengan agenda-agenda akikah.
Untuk menyiapkan hewan layak sembelih, pria asli Malang itu mengaku butuh waktu 3-4 bulan sebelumnya. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan adalah lemak hewan, kesehatan, hamil atau tidak, umur, hingga ketebalan bulu. Hewan ternak yang ia tawarkan memiliki bobot 13-28 kilo untuk siap dijual.
Di samping itu, banyak relasi dan koneksi turut mebantu berkembangnya bisnis ternak.
“Relasi memudahkan kita berbagi informasi, utamanya mengenai kebutuhan konsumen. Sejauh ini saya cukup nyaman. Apalagi hewan yang kami pasarkan digunakan untuk berkurban dan hal-hal baik sehingga terasa berkahnya. Saat ini saya dan teman-teman membuka jasa penyembelihan di sederet masjid,” kata Barok. (Ri/Wil)


