Bantu Anak Pemalu Agar Lebih Pede

Oleh: Esti D. Purwitasari 

mepnews.id – Ada seorang siswa baru di kelas. Saat diminta gurunya memperkenalkan diri, ia langsung menundukkan kepalanya, wajahnya merah lalu memucat, tubuh dan kakinya gemetar, napasnya terengah-engah, dan keringat dingin tampak di wajah, telapak tangan, hingga dari tubuh yang membasahi bajunya.

Tentu saja ada masalah dengan anak baru ini. Sepertinya, ia mengalami rasa malu yang berlebihan. Jangankan maju ke depan kelas menghadapi pandangan teman-temannya. Untuk berdiri dari tempat duduk pun, ia tampak tak percaya diri. Ini rasa malu yang ekstrim.

……….

Pembaca yang budiman, kita semua tentu sesekali pernah merasa malu karena memang punya rasa malu. Bahkan, Rasulullah berkata, “Malu itu bagian dari iman.” Malu untuk berbuat jahat, malu untuk tidak menunjukkan performa terbaik, dan sejenisnya.

Secara psikologis, malu yang wajar adalah bentuk reaksi alami pada situasi sosial. Rasa malu yang wajar itu terjadi ketika kita merasa sedikit tidak nyaman atau gugup dalam situasi interaksi sosial tertentu, misalnya ketika kita belum siap tapi sudah diminta untuk berbicara di depan umum atau bertemu orang tertentu.

Malu yang wajar ini dapat membantu kita mempersiapkan diri dalam menghadapi situasi tertentu, dan bahkan dapat memotivasi kita untuk belajar lebih banyak tentang keterampilan sosial. Dengan punya rasa malu, kita dapat memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas hubungan sosial.

Namun, rasa malu yang dihadapi siswa baru di atas sudah termasuk kasus ekstrim. Ekspresi malunya sudah di luar batas sehat dan jelas sangat berlebihan. Rasa malu ekstrim itu tentu bisa mengganggu kegiatannya sehari-hari atau menyebabkan ketidaknyamanan berlebihan.

Anak pemalu ekstrim cenderung merasa tidak nyaman atau kurang percaya diri dalam situasi sosial atau saat berinteraksi dengan orang lain. Ia cenderung menghindari situasi yang memerlukan interaksi sosial. Ia ogah berbicara di depan orang banyak atau berkenalan dengan orang baru.

Dari sudut pandang alin, orang biasa menganggap anak pemalu sebagai anak pendiam yang cenderung mengisolasi diri.

Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Termasuk, malu ekstrim. Di masa sekarang, malu berlebihan bisa menghambat pergaulan si anak, menghambat pembelajaran anak, membuat ia tidak bisa tampil di depan umum.

Di masa datang, rasa malu berlebihan bisa memberi dampak negatif pada masa depan anak. Anak yang terlalu pemalu sering mengalami kekurangan rasa percaya diri dalam berbagai situasi sosial. Kalau susah berinteraksi dengan orang lain, kelak ia kesulitan mengambil peluang-peluang positif dalam kehidupan.

Keterbatasan kemampuan berinteraksi sosial dapat membuat anak pemalu kesulitan membangun hubungan yang baik dengan orang lain. Efek lainnya, anak pemalu ekstrim bisa kurang berani mengambil risiko untuk mencapai tujuan. Hal ini dapat membatasi kemampuannya untuk meraih prestasi.

Kebiasaan malu berlebihan juga dapat menyebabkan anak merasa amat cemas dan sangat khawatir terutama ketika dalam situasi sosial yang menuntut interaksi dengan orang lain. Ia akan sulit berkomunikasi efektif. Jika susah berkomunikasi, ia bisa kehilangan banyak kesempatan dalam hidup.

Maka, jika bertemu dengan anak pemalu ekstrim, jangan malah digoda atau diganggu untuk bahan tertawaan. Si anak akan makin malu karena mendapat respons yang kurang baik dari sekitar. Justru, dukung anak pemalu itu untuk menjadi lebih nyaman berinteraksi. Ini agar memuat ia bisa lebih percaya diri dalam bergaul sehingga kelak bisa menjadi manusia yang lebih terbuka menghadapi berbagai tantangan hidup.

Orang tua, guru, atau pengasuh perlu memberikan dukungan dan dorongan positif pada anak ekstra pemalu. Bantu si anak membangun keterampilan sosial dan rasa percaya diri. Dengan dukungan ini, anak dapat tumbuh dan berkembang dengan lebih baik dan siap menghadapi berbagai situasi sosial di masa depan.

Facebook Comments

Comments are closed.