Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Ada seorang pelatih basket curhat tentang penurunan performa pemainnya. Katanya, si atlet sedang dalam krisis. Performanya menurun dan tidak bisa mencetak poin sebanyak biasanya. Kepercayaan dirinya goyah karena kemampuannya turun dan merasa tidak dihargai rekan tim. Maka, ia kehilangan motivasi bermain. Ia jadi lebih pendiam, kurang responsif, bahkan menunjukkan perilaku tidak profesional.
Si pelatih tentu punya banyak trik untuk membangkitkan kembali performa pemain yang sedang kehilangan motivasi. Sampai-sampai, pilihan paling buruk pun ia siapkan yakni tidak memasangnya lagi sebagai pemain dan kemudian tidak memperpanjang kontraknya. Tapi, ia masih ingin mendapatkan lagi jalan keluar terbaik.
Menanggapi curhatan itu, saya menawarkan satu konsep yang biasa dipakai praktisi psikologi. Teflon mindset.
Umumnya, ada dua mindset (pola pikir). Fixed mindset (pola pikir kaku) adalah keyakinan bahwa orang dilahirkan dengan bakat tertentu dan karakteristik khusus itu tidak dapat diubah. Pola pikir ini bisa menghambat pertumbuhan karena orang merasa segala sesuatu sudah dipastikan, dan perubahan itu tidak mudah, hingga akhirnya ia cenderung berhenti saat kondisi sudah tidak lagi cocok dengannya. Growth mindset (pola pikir berkembang) adalah keyakinan bahwa orang dapat berevolusi dan berubah melalui kerja keras dan upaya menuju apa yang ingin mereka capai.
Nah, teflon mindset itu bisa dianalogikan dengan bahan anti lengket pada panci yang tidak mudah melekat pada permukaan. Konsep ini digunakan sejumlah ahli dan praktisi bidang psikologi, kepemimpinan, dan pengembangan diri. Teflon mindset adalah kemampuan seseorang untuk tidak membiarkan kritik atau kegagalan melekat pada dirinya. Orang yang memiliki teflon mindset cenderung lebih tahan terhadap kritik, komentar negatif, dan kegagalan mempengaruhi kepercayaan diri dan semangatnya.
Maka, pada si pelatih basket, saya sarankan ia untuk membimbing atletnya belajar mengatasi kesalahan, self-talk negatif, dan kekhawatiran tentang apa yang mungkin dipikirkan orang lain. Dengan mengajarkan teflon mindset, ia bisa membantu atletnya untuk meningkatkan ketahanan dan ketangguhan mental.
Saya kutip artikel dari Laura M. Miele PhD, pakar kebugaran, olahraga, dan rekreasi, yang berpendidikan Doktoral Psikologi Konseling dengan keahlian khusus di bidang psikologi olahraga. Setelah menjadi atlet basket di Divisi 1 negara bagian Arizona di Amerika Serikat, dia juga menjadi konsultan pelatih kinerja mental.
Menurutnya, sudah jamak jika atlet jatuh ke dalam kemerosotan mental lalu membuat berbagai kesalahan sendiri. Tapi, tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak dapat pulih dari masalah itu, lalu menciptakan pola pikir teflon. Untuk menciptakan pola pikir teflon, atlet harus bisa belajar untuk gagal dan belajar dari kegagalan, mau berlatih dari yang paling dasar, terus berlatih dan menjaga kebugaran, dan mengembangkan diri agar tahan bantingan.
Beberapa atlet yang mengalami penurunan performa mungkin memiliki fixed mindset. Padahal, ia punya pilihan mau berevolusi atau tetap membatasi diri. Kalau tetap dengan fixed mindset, ia berpikir tidak ada yang ada dalam kendali dia dan masalah tidak dapat diperbaiki. Jika memilih growth mindset, ia bisa belajar lagi dan berkembang menjadi lebih baik. Nah, untuk mengubah fixed mindset ke growth mindset, perlu jembatan berupa teflon mindset.
Untuk mengubah pola pikir agar menigkatkan performa, seseorang harus tangguh. Teflon mindset mengubah cara berpikir dari mudah emosional menjadi lebih rasional. Melihat sisi positif dari semua hambatan itu sangat penting karena memberikan kesempatan belajar dan pertumbuhan pada atlet. Pola pikir teflon bisa menciptakan ketangguhan mental yang dibutuhkan semua pelatih pada atletnya.


