Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Suatu sore, di ruang tunggu apotik di rumah sakit, saya lihat beberapa orang duduk di bangku panjang. Tepat di depan saya, ada seorang ibu muda dan anaknya yang berusia sekitar lima tahun.
Mungkin karena agak lama menunggu, saya lihat si anak mulai bosan dan mengantuk. Saat membuka mulut akan menguap, ibunya dengan sigap mengayunkan tangan dan menutup mulut si anak dengan kertas tissue, sambil berkata, “Mulutnya ditutup, ya, kalau menguap.”
Tertarik dengan tindakan ibu itu, saya bertanya mengapa? Ia menjawab, “Kan tidak sopan.”
…………
Pembaca yang budiman, tentu saja saya paham nilai-nilai budaya di sini menganggap menguap dengan mulut terbuka lebar termasuk perilaku kurang sopan. Saya kira Anda juga paham tentang itu.
Pada dasarnya, menguap itu berarti mengambil napas dalam-dalam sehingga mengisi ulang oksigen dalam tubuh dan melepaskan karbondioksida lewat mulut dan hidung. Hal itu normal terjadi pada semua manusia bahkan pada hewan. Kita bisa lihat harimau menguap sangat lebar setelah makan kenyang dan mengantuk. Buaya juga menguap lebih lebar untuk menurunkan suhu tubuh.
Kita manusia juga boleh-boleh saja menguap lebar-lebar saat sendirian, misalnya di kamar tidur. Tapi, menguap dengan mulut terbuka di depan umum tidak sopan karena dianggap kurang menghargai orang lain di sekitar. Ketika seseorang menguap lebar, ia mungkin tidak sadar itu dapat membuat orang lain merasa tidak nyaman.
Dari sisi medis menguap dengan mulut lebar bisa menyebarkan bau mulut pada orang lain di sekitar. Jika seseorang memiliki masalah halitosis, bau sengak mulutnya langsung tercium orang-orang. Saat menguap lebar, juga banyak bakteri, kuman, dan bibit penyakit dari dalam mulut terlepas dan menyebar ke orang di sekitarnya. Hal ini bisa mengganggu orang lain terutama yang mudah terkena infeksi.
Satu hal lagi, menguap lebar itu umumnya juga mengeluarkan bunyi. Kalau bunyinya terlalu keras, itu bisa mengganggu orang lain. Misalnya, saat Anda menguap sampai berbunyi di perpustakaan umum, maka suara itu bisa menganggu orang lain yang sedang berkonsentrasi dan butuh ketenangan. Bisa-bisa, suara menguap Anda menularkan ‘virus mengantuk’ pada orang-orang yang sibuk membaca.
Maka, untuk menghargai orang lain di sekitar, akan lebih sopan dan lebih sehat jika kita tidak menguap dengan mulut terbuka lebar di depan umum. Jika terpaksa harus menguap, cobalah menutup mulut dengan tangan atau sapu tangan atau kertas tissue, untuk menghindari penyebaran hal-hal yang tidak diinginkan.
Ibu yang saya temui di apotek di atas sudah menunjukkan pembelajaran yang benar pada anaknya untuk menutup mulut saat menguap. Kita juga bisa meniru ibu itu untuk menjaga kesopanan dan kesehatan umum. Kita beri contoh pada anak untuk menutup mulut saat menguap. Lalu, kita beri penjelasan yang masuk akal pada anak tentang tindakan itu.


