Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Beberapa saat lalu, saya bertemu sohib lama yang kini sudah jadi boss. Kami ngobrol beberapa saat. Karena dia di bisnis sedangkan saya di pendidikan maka tema obrolan pun mengerucut ke titik temu antara dua bidang itu. Isi obrolannya saya ringkas berikut ini.
Yang sering jadi topik obrolan umum adalah; apakah pemimpin bertujuan memantapkan diri di zona nyaman atau selalu mempelajari sesuatu yang baru setiap saat untuk keluar dari zona nyaman. Kebanyakan saran pakar adalah memilih yang kedua.
Namun, menurut teman saya, beberapa boss yang dia kenal justru memiliki mindset tetap dan kaku sehingga meyakini bahwa IQ, kepribadian, keterampilan, atau kondisi fisik mereka tidak dapat diubah. Mereka berasumsi, pemimpin itu dilahirkan dan bukannya dibuat.
Saya berpendapat, kita memiliki otak dan sistem syaraf yang sangat dahsyat untuk membantu kita belajar, berkembang, dan tumbuh di banyak bidang, termasuk memperbarui sifat dan kualitas kepribadian, keterampilan, dan perilaku kita.
Bahkan, neuroscience membuktikan kita dapat membuat jalur saraf baru untuk membentuk pola perilaku baru. Ini fakta penting buat pemimpin yang ingin belajar hal-hal baru. Para leader bisa lebih terbuka terhadap pembelajaran, perubahan, dan pertumbuhan yang konstan.
Obrolan kami lalu berlanjut ke bagaimana cara bisa menjadi pemimpin yang juga jadi pembelajar jalur cepat? Kami sepakat pada beberapa hal berikut ini;
Pertama, harus memiliki mindset pembelajar. Leader semacam ini selalu bertanya-tanya pada dirinya sendiri; “Apa yang dapat saya pelajari? Apa yang harus saya pelajari? Apa yang ingin saya pelajari?” Ia sadar betul bahwa apa pun bisa dipelajari dan bahwa belajar adalah proses perubahan.
Kedua, selalu merasa ingin tahu. Saat keingintahuan terpicu, maka leader itu akan berpikir lebih keratif, lebih dalam dan rasional tentang keputusan yang akan ia buat sehingga menghasilkan solusi brilian. Solusi yang dibuat ini bisa dijadikan model untuk mengatasi masalah atau kondisi yang sama di masa datang.
Ketiga, memahami cara khas belajarnya sendiri. Setidaknya, Howard Gardner menyebut ada sembilan kecerdasan manusia. Itu artinya masing-masing leader juga punya setidaknya satu cara lebih cepat untuk mempelajari sesuatu. Ada yang suka belajar terstruktur bersama mentor atau lewat perkuliahan. Ada juga yang lebih suka belajar sambil menjajal langsung di lapangan. Ada yang memilih pakai podcast.
Keempat, berani mencoba dan siap belajar dari kesalahan. Hasil belajar yang benar-benar tertanam di alam bawah sadar otak adalah yang lewat pengalaman langsung. Baik atau buruk, jika dialami langsung, bakal menjadi hasil pembelajaran sangat gemilang bagi seorang leader. Jika benar, keputusannya bisa dijadikan model. Jika keputusannya salah, ia harus cepat belajar untuk menghindarkannya di masa datang.


