Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Banyak motivator bilang, hambatan terbesar bagi growth mindset, kretivitas, kemajuan, adalah comfort zone. Maka, mereka menyarankan kita untuk berani meninggalkan zona nyaman jika tidak ingin mandeg di tempat yang itu-itu saja.
Pembaca yang budiman, dalam kesempatan ini saya tidak membahas secara khusus klaim para motivator itu. Orang mau atau enggan meninggalkan zona nyaman itu tentu dengan pertimbangan kondisi masing-masing.
Namun, jika ingin meninggalkan comfort zone, ada satu intervensi yang dapat mendorong Anda keluar dari zona nyaman dan mendorong perubahan kepribadian dan pertumbuhan diri yang positif. Ini berdasarkan penelitian ilmiah yang diterbitkan dalam Journal of Positive Psychology.
Dr Pninit Russo-Netzer, penulis utama penelitian, mengaku terpesona oleh pertanyaan tentang bagaimana orang bisa berubah. Namun, selalu ada kesenjangan dalam penelitian dan praktik serta antara niat dan tindakan dalam membuat perubahan hidup.
Nah, untuk lebih memahami hambatan yang dihadapi orang ketika mencoba membuat perubahan positif dan cara mengatasinya, ia bersama tim merancang intervensi baru. Teknik yang disebut ‘behavioral stretch intervention’ ini mendorong orang melakukan aktivitas yang sebelumnya di luar zona nyaman mereka.
Responden penelitian dibagi secara acak dalam dua kelompok besar aktivitas. Yang pertama diminta terlibat dalam aktivitas di luar zona nyaman mereka selama dua minggu. Yang kedua, diminta sekadar menyimpan catatan aktivitas rutin mereka sehari-hari. Kelompok kedua ini berfungsi sebagai kondisi kontrol.
Para peneliti lalu mengukur berapa banyak pertumbuhan yang dinilai sendiri oleh para responden selama periode pengujian. Peneliti menemukan, terlibat dalam aktivitas di luar zona nyaman ternyata bisa meningkatkan kepuasan hidup orang-orang yang sebelumnya memiliki tingkat kepuasan hidup relatif rendah.
Bagaimana cara paling aman untuk keluar dan bisa bermain di tepi zona nyaman?
Manfaat paling signifikan selama intervensi terlihat dari mereka yang melangkah keluar zona nyaman untuk membantu orang lain. Contohnya; menjadi relawan di sekolah membantu siswa tuna rungu, menyumbangkan rambut untuk orang yang menjalani pengobatan kanker, atau memberikan pengasuhan pada pihak yang membutuhkan.
Mengapa intervensi semacam ini berhasil?
Russo-Netzer menyebut faktor memutuskan sendiri aktivitas mana yang mereka kejar. “Komponen kunci intervensi kami adalah orang-orang bebas memilih aktivitas di luar zona nyaman untuk diri mereka sendiri. Ini memberi mereka hak memilih sehingga bisa menumbuhkan motivasi secara intrinsik dari pilihan pribadi. Ini juga melegakan mereka secara psikologis sambil tetap melindungi perasaan nyaman dan aman mereka.”
Maka, untuk menemukan jalan keluar dari zona nyaman, para peneliti menyarankan pelaku untuk;
- sadar betul apa yang dilakukan
Caranya; tulis semua aktivitas yang ingin Anda coba. Aktivitas ini harus berbeda dari yang biasa Anda lakukan. Dengan menuliskannya, Anda bisa menjadi lebih sadar akan rentang zona nyaman dan zona belajar Anda sendiri.
Contoh; Anda adalah akuntan yang bekerja di gedung tinggi dalam ruang sempit bersama sedikit orang dengan tugas menggeluti angka-angka yang tidak boleh keliru. Anda bisa mencoba ikut kerja bakti gotong royong membangun rumah adat di lapangan terbuka pedesaan. Lalu, catat ide itu, wujudkan menjadi langkah-langkah yang dapat ditindaklanjuti, kemudian tetapkan waktu untuk aktivitas ini, dan akhirnya catat hasilnya.
- Bereksperimen dengan pikiran terbuka
Dengan tetap terbuka dan tanggap, berkeinginanlah untuk bereksperimen dan ‘bermain’ dengan segala risiko dan ketidakpastian. Keingintahuan, keterlibatan, dan semangat, ini dapat dipupuk dengan membingkai ulang pengalaman sebagai kesempatan untuk menemukan sesuatu yang baru tentang diri sendiri.
“Kita dapat melatih ‘otot pertumbuhan’ untuk memperluas zona nyaman melalui paparan rutin terhadap pengalaman baru. Itu bisa dengan cara mencoba hobi baru, bereksperimen dengan rasa baru, tersenyum atau memuji orang asing di jalan, atau bahkan bersikap seperti turis di lingkungan Anda sendiri,” begitu saran Russo-Netzer.
Oke, berani mencoba?


