Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Salah satu bagian dari proses menjadi orang tua yang positif dan penuh kasih adalah belajar menjadi detektif. Orang tua harus jeli mencari petunjuk yang tidak dapat dilihat jelas oleh kebanyakan orang di level permukaan. Kita perlu melakukan penggalian untuk menemukan jawaban sebenarnya atas apa yang terjadi dalam perkembangan anak.
Salah satu yang sering dikeluhkan orang tua adalah anak yang melawan, bandel, tidak patuh, tidak mau mendengar nasihat atau perintah orang tua. Padahal, sebelumnya si anak masnis-manis saja dan tidak neko-neko.
Ambil contoh, Anda punya anak usia 7 tahun. Karena sudah waktunya makan, Anda memanggilnya. Tapi anak Anda tidak segera datang. Anda memanggil hingga tiga kali lagi, tapi tetap tak ada jawaban. Tentu Anda kesal karena sudah berkali-kali mengajari anak untuk datang jika Anda meanggilnya. Tak pelak, karena sudah kesal, Anda pun berteriak-teriak memanggilnya.
Pembaca yang budiman, mengapa anak jadi tidak patuh dengan sengaja?
Tentu ada banyak kemungkinan bergantung pada kondisi masing-masing anak secara individul. Bisa karena faktor sosial, fisik, psikologis, mental, dan lain-lain. Masalahnya bisa sederhana, bisa pula rumit. Namun, orang tua perlu mencari sumber masalahnya.
Bisa jadi, karena ada ketegangan di rumah akibat pertengkaran terus-menerus atau masalah keuangan yang merembet besar. Anak tanpa sengaja menginternalisasi ketegangan itu sebagai stres yang menyebabkan ia tiba-tiba bertingkah tidak patuh. Si anak mungkin tidak sepenuhnya sadar mengapa bertindak seperti ini karena belum bisa memahami bagaimana stres memengaruhi pikiran dan tubuhnya. Tapi, anak bisa melihat, merasa, dan kemudian meniru perilaku orang-orang sekitarnya saat dalam teknanan.
Bisa juga karena hubungan orang tua dan anak tidak cukup kuat. Karena orang tua bekerja lebih dari sepuluh jam, anak diasuh oleh kakek/nenek atau oleh pembantu. Mungkin pengasuh terus-menerus menajari anak untuk patuh pada orang tua. Tapi, karena si anak jarang bersentuhan langsung secara fisik maupun emosional dengan orang tuanya, hubungan itu jadi tidak cukup kuat. Jangan heran jika si anak jadi lebih patuh pada pembantu daripada pada ucapan orang tua sendiri. Maka, orang tua harus menyisihkan beberapa menit setiap hari atau sehari penuh dalam seminggu untuk digunakan khusus bersama anak. Harap diingat, membangun koneksi dengan anak dan merebut kembali kepercayaan anak tidak bisa dilakukan dalam semalam. Perlu waktu lumayan panjang.
Bisa juga, di era komunikasi digital saat ini, anak diterpa pelabelan dari berbagai penjuru. Interaksi di media bisa memberi masalah besar bagi pengasuhan anak. Setiap buka gadget, bisa jadi semua ‘label’ disematkan pada anak tanpa peduli apakah itu benar atau tidak. Kata, istilah, kisah, yang beredar di jagad maya bisa menyerbu fikiran anak tanpa ia sadari. Label yang tidak benar bisa merenggangkan keterdekatan antara anak dan orang tua.
Jadi, kita tidak bisa dengan serta-merta memvonis anak bandel karena ini atau karena itu. Kita harus menyelidiki lebih dalam untuk memastikan apa penyebab utamanya. Dengan mengetahui penyebab yang paling pas bagi individu si anak, kitab isa lebih mudah mencari solusinya.


