mepnews.id – Tim peneliti FTMM Universitas Airlangga (Unair) menciptakan inovasi perangkat pemantau cuaca dan kualitas udara dengan sistem internet of things (IoT). Inovasi bernama AIRFEEL mendapatkan paten HKI (hak kekayaan intelektual) pada 2021.
Prisma Megantoro, ketua tim peneliti, menuturkan AIRFEEL merupakan perangkat untuk mengukur kondisi cuaca serta kualitas udara, yang dilengkapi berbagai sensor.
“Bisa digunakan untuk mengukur suhu, kelembaban udara, tekanan udara, kecepatan angin dan curah hujan. Alat ini dilengkapi tujuh sensor udara untuk mengukur polusi, seperti ozon, CO2, CO, hidrogen, metana, dan yang lainnya,” ungkap Prisma.

Pengoperasian alat pemantau cuaca dan udara AIRFEEL.
AIRFEEL dilengkapi stasiun lapangan atau field station yang terdiri dari sensor-sensor dan kontroler. Hasil pengukurannya diunggah ke internet server serta base station untuk selanjutnya disimpan.
AIRFEEL terdiri dari empat seri. Seri pertama dirancang sejak 2020, sebelum akhirnya mengalami berbagai perkembangan seperti saat ini.
“Penelitian awal digawangi kami, para dosen pemula, dan diketuai oleh saya,” tutur Prisma.
Seri pertama dikembangkan menjadi seri kedua dengan fungsi dan kegunaan lebih luas. Kemudian didirikan research center di FTMM Unair. Salah satunya berfokus pada visibility pembangkit listrik dengan energi terbarukan di Indonesia.
Tahun 2022, seri ketiga dikembangkan. AIRFEEL mengalami penambahan sensor untuk mengukur O2, CO2, dan CO. AIRFEEL seri ketiga itu sukses digunakan dalam kegiatan pengabdian masyarakat ACHD Unair di Sumenep, Madura.
Versi keempat yang sekarang terus dikembangan dengan berbagai penambahan dan pembaruan sistem. “Nantinya dilengkapi dengan versi android dan versi hardware,” kata Prisma.
Menurut Prisma, mengetahui kondisi cuaca serta kualitas udara sangat penting untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk dari fenomena alam. Seiring dengan semakin tidak menentunya kondisi cuaca serta kualitas udara, khususnya di Surabaya, maka AIRFEEL menjadi perangkat yang sangat dibutuhkan.
“Pertama, tentu saja karena penting untuk mengetahui kondisi kualitas udara di lingkungan kita. Oleh karena itu, percobaan pertama AIRFEEL waktu itu dilakukan di Unair Kampus C,” kata Prisma.
“Selain itu, monitoring cuaca dari perangkat AIRFEEL ini juga penting terutama terkait dengan pengetahuan kondisi cuaca dan perubahan iklim,” imbuhnya.
Secara luas, AIRFEEL dapat digunakan oleh akademisi, mahasiswa, masyarakat, maupun industri untuk mengukur kondisi cuaca dan kualitas udara di berbagai lokasi dan dalam berbagai kondisi.
“Jadi, manfaatnya banyak sekali. Di bidang keilmuan, AIRFEEL dapat digunakan di bidang ilmu instrumentasi, lingkungan, kesehatan, maupun bidang lainnya. AIRFEEL juga dapat digunakan untuk mengukur potensi energi angin dan energi surya. AIRFEEL bisa jadi pendukung penelitian untuk bidang ilmu lain yang berkaitan dengan cuaca dan kualitas udara,” papar Prisma. (*)


