Pentingnya Mendorong Anak untuk Berinisiatif

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – Coba, dalam seminggu terakhir, pernahkah Anda mendengar anak bilang; “Ma, cucian sudah menumpuk,” atau, “Tali sepatuku putus, Ma. Nggak bisa dipakai,” atau, “Ih…ada eek kucing di sofa,” atau, “Ma, aku lapar…koq belum ada makanan sih?” atau kalimat-kalimat lain yang senada.

Artinya apa? Artinya, anak tahu bahwa ada permasalahan atau ada yang tak beres di sekitarnya atau bahkan menyangkut dirinya sendiri. Tapi, pertanyaan berikutnya, apa yang sudah anak lakukan setelah mengetahui permasalahan itu?

Pembaca yang budiman, jika anak punya inisiatif maka ia akan ambil tindakan segera tanpa disuruh untuk mengatasi masalah. Jika tidak punya inisiatif, anak akan hanya menunggu orangtuanya, pembantu, atau orang lain, untuk mengatasi masalah itu.

Dalam konsep MegaSkill, Dr Dorothy Rich menempatkan ‘inisiatif’ bersama skill percaya diri, motivasi, upaya, tanggung jawab, gigih, peduli, bernalar, bisa menyelesaikan masalah, fokus, dan respek. Dua belas adalah ketrampilan dasar ini bisa menjadi mesin penggerak internal anak untuk berkembang menjadi manusia yang matang.

Belajar berinisiatif itu perlu bagi anak. Ini bisa membantu anak menjalani hidup dengan keberanian dan optimisme. Ini mendorong kehidupan anak ke arah yang bertujuan. Tanpa perlu bergantung pada orang lain, anak akan berusaha mengatasi masalahnya sendiri. Pedeknya, belajar untuk mengambil inisiatif merupakan aspek penting dari pengembangan anak menuju remaja dan dewasa yang positif.

Mengapa banyak anak yang tidak berinisiatif? Bisa jadi, itu bukan karena anak memang malas atau tidak mau membantu orangtua. Bisa jadi, itu karena anak tidak pernah diajak untuk mengambil tindakan sendiri. Bisa jadi, anak tidak mengerti bahwa ia boleh ambil inisiatif untuk melakukannya sendiri.

Biarkan anak menata sendiri tempat tidurnya.

Umumnya, anak saat masih kecil selalu dibantu orangtua atau pengasuh untuk berbagai urusan. Karena itu, kemampuan berinisiatif umumnya berkembang pada akhir masa kanak-kanak dan remaja. Setelah melalui pembelajaran, dan punya pengalaman melakukan, maka anak bakal cukup percaya diri untuk bisa melakukannya sendiri.

Maka dari itu, orangtua, pengasuh atau bahkan guru, perlu untuk lebih sering memberi kesempatan pada anak untuk melakukan sesuatu, membereskan masalah, atau menghadapi tantangan. Jika anak bisa dan merasa yakin bisa maka ia akan lebih mudah berinisiatif.

Di sisi lain, orang-orang yang lebih dewasa juga perlu memberi contoh perilaku inisiatif. Jika ada sesuatu yang tidak beres, tunjukkan pada anak bagaimana membereskannya. Ini membuat anak belajar secara langsung pada yang sudah bisa.

Bahkan, untuk pekerjaan sehari-hari, orangtua juga perlu menjelaskan pada anak. Soal menyiapkan baju seragam sekolah, misalnya. Jelaskan bahwa anak suatu waktu perlu bisa menyiapkan sendiri seragam sebelum berangkat sekolah.

Facebook Comments

Comments are closed.