Oleh: Indarti
mepnews.id – Branding adalah istilah yang dipakai untuk dunia bisnis. Proses branding adalah upaya untuk membentuk citra dan rasa keterikatan secara emosional antara pelanggan dengan dengan merk produk serta perusahaan, dan upaya untuk membedakan diri dengan pesaing.
Jika di dunia pendidikan, branding adalah upaya yang dilakukan lembaga pendidikan (termasuk guru) dengan anak didik untuk membuat citra dan keterikatan emosial, sehingga tujuan pembelajaran dan pendidikan menjadi terwujud.
Bagaimana cara guru mem-branding dirinya?
1. Buatlah kegiatan menarik yang selalu diinginkan dan ditunggu anak didik. Misalnya, jika anak-anak sangat suka diceritakan kisah atau dongeng, yang harus dilakukan guru adalah meluangkan waktu 5 hingga 15 menit untuk bercerita di depan kelas sebelum pelajaran dimulai.
Cerita atau dongeng yang disampaikan dengan menarik bakal menjadikan anak fokus mendengarkan. Pada saat anak fokus, maka pesan-pesan yang bermakna dan bermanfaat bisa dimasukkan ke dalam otak bawah sadar mereka. Apalagi cerita yang disampaikan selalu berganti-ganti. Cerita yang menimbulkan imajinasi, kondisi supra natural, cerita dari belahan dunia lain yang anak belum pernah mengnjakkan kaki di sana.
Yang terjadi adalah guru mendapat brand sebagai ‘orang pintar’. Anak mungkin bertanya, “Bu Fulanah, dapat cerita itu dari mana?” Jawab saja, “Dari baca di perpustakaan.” Artinya, kita tinggal selangkah lagi untuk bisa mengantar anak pergi ke perpustakaan agar mau membaca dan mau belajar.
2. Dengan isi cerita yang menginspirasi, guru secara tindak langsung sudah memotivasi anak. Kisah-kisah inspiratif akan tertanam di alam bawah sadar anak-anak. Kelak, ketika dewasa, alam bawah sadar ini akan menggerakkan seluruh aktivitasnya ke arah itu.
3. Jadilah sebagai sumber solusi. Guru dianggap manusia paling pintar. Bisa menyelesaikan masalah. Untuk itu, guru harus belajar, belajar dan belajar lagi. Caranya dengan membaca, membaca, dan membaca, tambah wawasan, tambah pengalaman, dan tambah pendalaman.
Jika ada anak didik, atau bahkan guru lain, mencurahkan masalah mereka, minimal cobalah untuk menjadi pendengar yang baik. Tunjukkan sikap simpati dan empati. Bangun kepercayaan mereka.
4. Lakukan itu semua dengan ikhlas, karena keikhlasan akan menampakkan wujud dalam bentuk kesehatan jiwa dan raga.
Silakan para guru mempersiapkan diri dengan branding positif untuk masa depan. Temukan branding pribadi yang menjadi pembeda unggulan antara Anda dengan orang lain.
- Penulis adalah aktivis literasi dan guru di SD Islamiyah, Magetan, Jawa Timur.


