Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – “Aku membatasi anakku berteman. Semakin sedikit temannya, semakin aman,” begitu Rinda mengawali curhatnya.
Saya langsung menggeleng. “Kau melindunginya atau mengurungnya?”
Ia menjelaskan, “Aku hanya ingin dia tidak terluka.”
“Justru karena hidup bisa melukai maka anak membutuhkan teman.”
“Maksudnya?” tanya Rinda.
“Teman adalah pelindung kesehatan mental anak.”
___________
Pembaca yang budiman, sudah alami jika anak-anak senang memiliki teman. Tapi, bukan hanya itu. Penelitian di Brazil mengungkap, persahabatan bisa menjadi faktor pelindung sangat penting bagi kesehatan mental dan perkembangan sosial anak. Beda dengan pandangan Rinda teman saya, persahabatan yang erat justru dapat mengurangi dampak buruk perundungan dan viktimisasi.
Menurut Profesor Jonathan Santo dari Departemen Psikologi University of Nebraska di Amerika Serikat dan Profesor Josafá da Cunha dari Fakultas Pendidikan di Federal University of Paraná di Brazil, pertemanan itu bukan sekadar pelengkap masa kanak-kanak, tetapi kebutuhan bagi perkembangan anak. Masa kanak-kanak merupakan periode ketika seseorang belajar menjadi makhluk sosial. Nah, dengan berteman, anak belajar membangun kepercayaan pada diri sendiri dan pada temannya, bekerja sama dengan anak lain, menyelesaikan konflik, memahami emosi anak lain, serta mengembangkan keterampilan sosial yang akan dibawa hingga dewasa. Jadi, teman bukan sekadar ‘untuk bermain’ tetapi juga ‘guru kehidupan’ pertama bagi anak di luar keluarga dan sekolahnya.
Bagaimana dengan perlindungan yang dicemaskan Rinda?
Menurut penelitian Prof Santo dan Prof Da Cunha, justru teman-teman bisa melindungi anak dari dampak bullying. Anak-anak yang memiliki sahabat dekat bakal mengalami tingkat depresi yang lebih rendah bahkan ketika dia sedang jadi korban perundungan di sekolah.
Memang, persahabatan tidak menjamin berhentinya bullying. Kedua peneliti menekankan, persahabatan justru bisa mengurangi luka psikologis yang ditimbulkan akibat bullying. Dalam psikologi, fungsi ini dikenal sebagai buffering effect yang membuat anak jadi lebih tangguh menghadapi tekanan.
Mengapa demikian?
Sangat mungkin, teman bisa membantu si anak memaknai pengalaman buruk secara lebih sehat. Si anak jadi tidak mudah menyalahkan dirinya sendiri ketika diperlakukan buruk oleh anak lain. Karena punya teman, si anak tidak terlalu larut dalam pikiran negatif. Meski dibuli seseorang, si anak bisa merasa masih ada teman baik yang mau menerima dan menghargainya. Akibatnya, tekanan emosional pada si anak tidak berkembang menjadi depresi yang lebih berat.
Yang tak kalah penting, persahabatan membangun ketahanan anak yakni kemampuan si anak bangkit setelah mengalami kesulitan. Anak yang memiliki sahabat dekat biasanya lebih mudah mengatasi stres, lebih cepat kembali percaya diri setelah mengalami kegagalan, serta lebih mampu mempertahankan kesejahteraan psikologis. Dari sini, manfaat persahabatan tidak berhenti pada masa sekolah, tetapi bisa menjadi bekal memasuki kehidupan dewasa.
Maka, saya nasihatkan pada Rinda agar membuka pintu lebih lebar bagi anaknya untuk berteman. Selektif, boleh. Membatasi total, ya jangan lah…



POST A COMMENT.