Anak Pemarah Gak Bakal Jadi Orang Sukses?

Oleh: Esti D. Purwitasari

mepnews.id – “Mbak, saya koq jadi khawatir soal anak saya. Perilakunya cenderung negatif. Yang sering, ia mudah marah. Sedikit saja salah, ia langsung meledak,” begitu curhatan seorang teman.

Dengan berempati, saya coba gali akarnya, “Sejak kapan perilaku itu?”

“Sepertinya, belakangan ini. Waktu kecil ia tenang. Saat mulai bersekolah, ia sering bermasalah. Saya takut masa depannya. Orang bilang, negativitas dan sifat pemarah itu menghalangi kesuksesan.”

“Oh, kita berpikir positif saja. Kemarahan itu bisa jadi cara anak mengekspresikan kebutuhan yang belum terpenuhi. Bukan berarti masa depannya pasti buruk.

“Jadi, masih bisa berubah?”

———–

Pembaca yang budiman, saya bisa memaklumi kekhawatiran seorang ibu tentang masa depan anaknya yang gampang marah. Orang pemarah itu biasanya tidak disukai orang lain, sehingga susah membina hubungan sehat dengan lingkungan, dan puncaknya kurang memiliki social support bagi kesuksesannya.

Tapi, perjalanan hidup itu panjang dan apa saja mungkin terjadi. Sikap pemarah pada anak tidak selalu menjadi tanda kegagalan perkembangan atau tanda masa depannya suram. Mungkin saja, kemarahan menjadi sinyal adanya kebutuhan emosional yang belum terpenuhi, tekanan lingkungan, atau ketidakmampuan anak dalam mengelola emosi secara sehat.

Para peneliti di Hong Kong University mengungkap, masalah kekurangan di masa kecil umumnya memang berpengaruh pada kesuksesan akademik anak di masa datang. Tapi, anak yang bertemperamen negatif, khususnya yang cenderung mudah marah, bisa ‘sedikit terlindungi’ dari masalah ini. Alasannya, hubungan antara deprivasi dan penurunan kognitif pada anak-anak temperamental lebih lemah dibanding anak dengan emosi negatif rendah.

Jadi, keberhasilan di masa depan tidak ditentukan secara tunggal oleh perilaku masa kecil. Anak yang sering marah tetap memiliki peluang untuk berkembang menjadi individu sukses. Kita perlu memahami konteks di balik kemarahan si anak. Mungkin karena faktor keluarga, faktor pergaulan si sekolah, maupun kondisi sosial yang memengaruhi anak.

Anak gampang marah, jika mendapatkan dukungan yang tepat dari lingkungan sekitarnya, bisa jadi manusia sukses juga. Maka, sangat perlu peran orang tua, guru, dan orang dewasa lainnya, dalam membantu anak mengelola emosinya. Jangan buru-buru menghukum atau memberi label negatif pada si anak. Pendekatan yang lebih efektif adalah dengan membimbing anak mengenali perasaannya, mengajarkan keterampilan regulasi emosi, serta menyediakan lingkungan yang aman dan suportif. Dengan demikian, energi kemarahan dapat diarahkan menjadi energi yang lebih konstruktif, misalnya untuk meningkatkan ketekunan, keberanian, dan motivasi.

Jangan lupa, resiliensi (daya lenting) merupakan faktor kunci dalam perkembangan. Anak yang mampu bangkit dari kesulitan, termasuk dalam mengatasi emosi negatif, cenderung memiliki peluang lebih besar untuk sukses di kemudian hari. Oleh karena itu, fokus utama bukanlah menghilangkan kemarahan sepenuhnya, melainkan membantu anak mengelolanya secara positif.

Resiliensi ini bukan sifat bawaan semata, melainkan kemampuan yang bisa dilatih melalui interaksi antara anak dan lingkungan. Ada beberapa faktor kunci yang bisa membantu meningkatkan resiliensi—terutama pada anak yang cenderung mudah marah.

Pertama, hubungan yang baik dengan orang dewasa. Secure attachment (kelekatan aman) dengan orang tua atau guru membantu anak merasa dilindungi dan merasa dipahami. Ini penting karena kemarahan sering kali muncul dari rasa tidak aman atau tidak didengar. Kehadiran figur dewasa yang konsisten dan suportif menjadi ‘penyangga stres’ utama pada anak.

Kedua, kemampuan regulasi emosi. Anak perlu dilatih mengenali, menamai, dan mengelola emosinya. Teknik sederhana seperti jeda (pause), bernapas dalam, atau mengekspresikan perasaan lewat kata-kata terbukti efektif menurunkan reaktivitas emosional. Ini membuat amarahnya terkendali.

Ketiga, penguatan fungsi eksekutif otak. Ini mencakup kemampuan mengendalikan impuls, berpikir fleksibel, dan merencanakan tindakan. Aktivitas seperti bermain strategi, olahraga terstruktur, atau latihan problem solving membantu memperkuat kemampuan ini.

Keempat, pemberian makna pada pengalaman sulit. Anak yang bisa diajak merefleksikan kesulitan sebagai peluang belajar (bukan sekadar kegagalan) umumnya lebih mampu untuk bangkit. Di sini peran orang dewasa penting dalam membingkai ulang pengalaman negatif jadi positif.

Kelima, lingkungan yang memberi kesempatan berhasil. Anak yang sering marah seringkali lebih fokus pada kegagalan. Maka, memberikan pengalaman sukses kecil —misalnya, bisa menyelesaikan tugas sederhana— dapat membangun rasa kompetensi dan kepercayaan diri si anak.

Terakhir, dan sangat penting, adalah authoritative parenting. Orang tua atau orang dewasa yang berwenang harus konsisten dalam menegakkan aturan dan disiplin pada anak. Tidak secara kaku namun secara hangat dan menyenangkan. Tegas namun tetap empatik. Dari sini, anak bisa belajar tentang batasan-batasan tanpa merasa ditolak.

Facebook Comments

POST A COMMENT.