Oleh: Esti D. Purwitasari
mepnews.id – Rina tampak gelisah sambil menatap laptop. “Mbak, saya stres. Minggu depan ada presentasi besar. Saya takut gagal, takut nge-blank di depan klien, takut bos kecewa.”
“Loh, bukannya kau sudah siapkan materi dari minggu lalu?”
“Iya, sih. Tapi saya tetap ngerasa nggak cukup. Gimana kalau tiba-tiba klien nanya sesuatu yang saya nggak tahu? Atau, gimana kalau laptop nge-hang? Atau, bagaimana jika suara saya tiba-tiba serak? Terbayang semua kemungkinan buruk yang bisa terjadi!”
“Hmm… jadi, kau kayak sudah nyiapin skenario terburuk di kepala ya?”
“Iya! Selalu gitu. Tiap ada hal penting, saya langsung kepikiran segala kemungkinan buruknya. Saya makin cemas, tapi saya juga bersiap lebih matang.”
………….
Pembaca yang budiman, tampaknya Rina teman saya itu mengalami pemikiran Defensif Pesimis (Defensive Pessimism). Dari tampilan fisiknya dan gaya bicaranya, Rina tampak kacau banget dan tidak meyakinkan.
Karakter dari pemikiran defensif pesimis yang sangat menonjol adalah berorientasi pada kekhawatiran. Sebelum menghadapi situasi penting, ia justru membayangkan semua hal yang bisa salah. Ia memiliki ekspektasi atau pengharapan terlalu rendah terhadap suatu kondisi.
Kondisi terlalu pesimis semacam ini tentu tidak baik. Ingat, kita sering dinasehati dan diajak untuk selalu berpikir positif dan merasa optimis dalam segala situasi. Umumnya, pikiran positif dan perasaan optimis lebih menjanjikan keberhasilan.
Tapi, apa yang dilakukan Rina teman saya ini ada juga sisi positifnya. Memang ia membayangkan yang buruk-buruk, tapi ia juga memikirkan apa yang dapat dilakukan saat menghadapi kemungkinan terburuk itu. Karena itu, cara berfikirnya disebut defensif pesimis.
Ya, saya bisa memahami. Kita harus membuka mata bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan dan harapan kita. Bukankah begitu?
Jadi, pemikiran defensif pesimis seperti yang dialami Rina juga bukanlah sesuatu yang buruk-buruk amat. Jika ia punya mindset positif, perasaan pesimis dia bisa bermanfaat karena ada sisi defensifnya.
Hal ini selaras dengan naluri manusia untuk ‘mempertahankan diri’ saat menghadapi situasi yang kurang menyenangkan atau yang tidak nyaman. Seseorang dengan pemikiran semacam ini akan selalu berusaha menyiapkan rencana tambahan untuk segala situasi.
Nah, manfaat dari pemikiran defensif pesimis antara lain:
- Lebih mudah beradaptasi dan siap menghadapi kemungkinan terburuk dalam hidup.
- Dapat mengendalikan rasa cemas dan lebih rileks menghadapi situasi.
- Berusaha mempersiapkan dan mempertimbangkan semua dengan maksimal.
Meski begitu, perlu diingat bahwa pemikiran ini tetap harus dikendalikan agar seseorang tidak terjebak dalam stress terus dan menjadi terbebani. Saat selalu berada dalam kondisi ‘waspada’ (alert mode) karena mengantisipasi kemungkinan terburuk dari segala situasi, bisa-bisa ia kewalahan.
Jadi, tetap harus berimbang.


